Tet…teet…teeet…
Bel pulang berbunyi. Nita buru-buru menyambar tas sekolahnya lalu lari keluar kelas. Sesampainya di belakang sekolah, dikeluarkan sebuah benda dari bambu. Sumpit. Tinggal diisi biji kacang ijo, jadilah senjata ampuh untuk membidik lawan.
Nita sembunyi. Sebentar lagi Alex dan Lina, pacar barunya lewat. Dua manusia yang telah menghancurkan hatinya. Beruntung Alex hari ini nggak bawa motor. Nita dapat dengan mudah menjalankan rencananya.
Plup! Nita meniup sumpit ber ‘peluru’ biji kacang ijo tepat ditengkuk Alex.
“Aduh!” Alex mengaduh sambil memegang lehernya.
Plup! Nita meniup sumpit itu lagi. Kali ini mengenai pipi Alex yang putih itu.
“Aduh!” lagi-lagi Alex mengaduh, tapi kali ini sambil memegang pipi dan lahernya.
“Kenapa, Lex?” Tanya Lina ikut kanget
“Nggak tahu nih. Leher sama pipiku panas, perih banget kayak kena seplet.” Adu Alex.
Rasakan pembalasanku! Cibir Nita, untung tembakannya nggak meleset.
Alex berusaha mencari sumber sepletan itu. Sementara Lina terus merengek lapar. Akhirnya Alex mengurungkan niatnya untuk penyelidikan itu.
Setelah mereka pergi Nita membereskan peralatannya. Dia nggak sadar perbuatannya kepergok Andre, sahabatnya. Nita terlihat kaget.
“Barusan kamu melakukan apa, Ta?” Tanya Andre menyelidik
“Eh…emm…tenang dulu, Ndre, aku akan jelaskan semuanya padamu,” jawab Nita gugup.
“Waktu itu pikiranku kacau, yang ada hanya rasa sedih dan kecewa. Alex sudah mengakhiri hubungan denganku tanpa alasan yang jelas. Dia, cowok yang aku suka dari dulu, udah bikin hatiku hancur. Dan yang lebih parah sekarang dia jalan sama Lina, temen satu kelas kita. Saat itu aku langsung kepikiran untuk membuat hubungan mereka nggak tenang, dengan cara meneror mereka. Mungkin itu terlihat konyol, tapi mau gimana lagi? Dan aku udah lama melakukan teror itu ke mereka,” jelas Nita.
“Aku tahu Ta, kamu benci banget sama mereka, tapi seharusnya kamu nggak melakukan hal itu. Aku takut suatu saat nanti terormu itu akan jadi bumerang buat kamu.”
“Ooo…jadi maksud kamu, aku salah melakukan itu?” jawab Nita sebel.
“Bukan…bukan itu maksudku…tapi..tapi…”
“Ah…sudahlah aku kecewa sama kamu.” Belum selesai Andre berbicara Nita langsung memutusnya dan pergi meninggalkan Andre dengan muka marah.
Setelah berpikir semalaman (sampai nggak bisa tidur,he..he..), pagi ini Andre bertekad untuk minta maaf ke Nita. Dia juga akan membantu Nita untuk melakukan aksi terornya. Meskipun hati Andre sendiri tidak setuju dengan ide konyol itu.
“Ya..,aku maafin kamu. Tapi kamu harus bantu aku ya. Karena Cuma kamu, Ndre, yang bisa membantu aku,” pinta Nita dengan muka memelas.
“Siap bos! Aku akan selalu membantu kamu. Asal kamu senang dan nggak marah lagi,” Andre tersenyum lega.
“Kamu memamg sobatku yang terbaik. Nanti pulang sekolah kita mulai beraksi.”
Pulang sekolah Nita langsung menjelaskan ke Andre tentang rencananya. Nita berencana untuk mengempeskan ban motor Alex.
Andre Cuma manghela nafas panjang, mendengar Nita menjelaskan. Tapi akhirnya Andre mengikuti kemauan Nita. Mereka mendekati motor Alex. Menarik pentilnya. Dan pess…!!! Al-hasil kempeslah ban belakang motor Alex. Kemudian Andre memasang pentil itu lagi ditempatnya supaya nggak menimbulkan kecurigaan. Setelah itu Nita dan Andre buru-buru sembunyi dibalik pohon. Dari situ mereka mengamati gimana bingungnya Alex dan Lina saat mengetahui motor yang akan mereka naiki ban-nya kempes.
Nita cekikikan penuh kemenangan. Andre hanya bengong melihat Nita.
“Besok apa lagi nih?” Tanya Nita saat perjalanan pulang.
“Udah deh!”
“Eh, gimana kalau besok kita masukkan kecoa di tasnya Lina?” seakan Nita tak mendengar kata-kata Andre tadi untuk menyudahi teror ini.
“Udahlah terserah kamu aja deh!”
“OK! Besok aku siapin kecoanya seplastik.
Esok harinya Nita membawa seplastik kecoa. Nita memang sengaja bayar anak-anak kampung buat nyari kecoa kemarin, makanya dia dapat banyak.
Pulang sekolah Nita menjalankan aksinya. Diantara anak-anak yang berdesak keluar dari pintu gerbang, diam-diam Nita memasukkan seplastik kecoa itu kedalam tas Lina.
Dari kejauhan Andre mengamati Nita. Dia khawatir ada yang melihat aksi Nita. Beberapa menit kemudian dilihatnya Nita berlari kecil mendekati Andre. Sementara disisi lain Alex berdiri sambil tersenyum mesra memandangi Lina yang berjalan dengan centil menuju ke arahnya.
“OK, ! Ndre, kita hitung mundur Lima……empat……tiga……dua……satu…!!!”
“Waaa, tolong……… kecoa……toloong……kecoa……” Lina menjerit histeris.
Tiba-tiba dari dalam tasnya muncul berpuluh-puluh kecoa. Dilemparkan tasnya jauh-jauh. Lina langsung memeluk Alex erat-erat. Menumpahkan semua tangisnya di dada cowok itu.
“Alex…huhuhu………” Lina menangis ketakutan.
“Udah……nggak apa-apa……kecoanya udah pergi kok,” Alex menenangkan Lina.
“Nita berdiri kaku ditempatnya. Matanya menatap pasangan yang sedang berpelukan itu. Jantung Nita seakan berhenti berdetak. Dadanya terasa sesak, sakit seperti ada paku yang tertancap di dalamnya. Andre mendekati Nita. Belum tahu apa yang terjadi pada Nita.
“Gimana? Sekarang kamu puas?” Tanya Andre
Nita membalikkan badannya menghadap Andre. Andre kaget melihat butir-butir air mata turun ke pipi Nita. Nita sudah tak sanggup membendung air matanya.
“Nita kamu kenapa?” Andre cemas.
Untuk beberapa saat Nita nggak bisa menjawab. Dia hanya menatap bayangan buram Andre dari matanya yang basah.
“Aku sebel banget sama mereka. Aku sebel sama Alex. Dia pernah janji akan selalu sayang sama aku. Tapi…nyatanya baru dua bulan udah menghianati aku. Aku nggak terima…huhuhu……” Nita menangistersedu-sedu.
Andre mengulurkan tangannya. Siap menampung tangis nita dalam rengkuhannya. Nita melangkah ragu. Akhirnya dia mendekat dan menyambut lengan Andre. Ditumpahkannya tangis di sana sepuasnya. Andre mengelus kepala Nita lembut.
Sebenarnya malam sebelum mereka menaruh kecoa di tas Lina. Andre sudah bertekat bulat untuk tidak ikut campur lagi dan menyuruh Nita untuk berhenti melakukan terornya. Tapi karena tak tega meninggalkan Nita beraksi sendiri, akhirnya Andre menurut saja. Andre sudah mengira hari ini akan terjadi. Hari dimana Nita akan menangis karena perbuatan terornya bisa menjadi boomerang buat dirinya, akan membuatnya semakin terluka dan menangis.
“Kalau kamu ijinkan, aku akan membalut luka kamu, Ta.” Bisiknya di telinga Nita.
Nita semakin sesenggukan menangis. Semakin menenggelamkan kepalanya di dada Andre.
By: TORY ANGGITA ARICINDY
0 komentar:
Posting Komentar