Gundukan tanah merah itu yang masih terasa basah. Bau bunga kenanga yang menyeruak hidung. Keadaan masih sepi, dan beratus makam yang terlihat lengang. Itulah gambaran Pekuburan lama yang terletak di daerah Lembang, Bandung.
Seseorang berjalan sambil membawa seikat bunga mawar putih. Dia melihat sekeliling dan berhenti pada makam yang terletak di ujung. Dengan langkah perlahan dia menghampiri makam itu. Dia memperhatikan nisan itu, nisan yang sudah usang termakan usia. Dia pun duduk berjongkok membersihkan sedikit sampah diatas makam itu dengan tangan keriputnya dan meletakkan bunga mawar yang dibawanya dan mulai berdoa.
Nisan itu terukir sebuah nama dan tanggal kelahiran serta tanggal kematian. Ananda Aryani Naiwa, tanggal lahir 10-10-1980 dan tanggal meninggal 21-8-1996. Wanita tua itu menghembuskan nafasnya perlahan. Terlihat uap putih yang berhembus. Hawanya sangat dingin, membuatnya sedikit menggigil.
”Apa kabar ? maafkan aku lama tak mengunjungimu…sepertinya giliranku akan segera tiba, jadi tunggu aku ya,” Kataku sambil mengusap batu Nisan itu dengan lembut.
@@@
Jum’at, 20 Agustus 1996
Malam kian larut, awan mendung menggantung di ujung langit. Bulan tampak muram dalam kungkungan langit. Malam juga kian pekat, menunjukkan betapa hitam malam tanpa bulan yang tak bersinar. Bintang pun juga turut serta dalam menghilangnya sang cahaya malam ini. Angin berhembus pelan, Udara yang dingin seakan menusuk rusuk. Hewan malam sepertinya enggan meninggalkan peraduannya. Tak terdengar jangkrik yang mengerik ataupun burung hantu yang biasanya ribut.
Aku masih duduk diambang jendela, menatap malam yang seakan menatapku dengan pilu. Aku melihat sekelilingku dan mulai mengingat-ingat apa yang terjadi. Kamar yang semula rapi jali, sekarang berantakan seperti kapal pecah. Ah ya…tiba-tiba Gia datang, menatapku dengan mata merah menahan marah. Dan menamparku dengan sekuat tenaganya. Masalah sepele, cowok yang disukainya terlihat bersamaku. Dan Gia salah paham dia tak tahu hal yang sebenanya terjadi, biarlah nanti aku jelaskan. Sekarang aku merasa lelah, sangat lelah.
Setelah selesai menulisi buku diary itu, Nanda, begitulah panggilan gadis yang sangat cantik parasnya itu, menutup diarynya dengan hembusan nafas berat. Setelah meletakkan buku itu di dalam laci, dia menuju ke tempat tidurnya. Dengan perasaan yang cukup gundah dia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, menyusupkan badannya ke dalam selimut hijau yang hangat. Dan mencoba untuk tidur walau hanya satu atau dua jam.
Pagi seakan menawarkan keindahannya. Mentari bersinar penuh kehangatan, burung-burung berkicau merdu. Udara yang kemarin dingin, berganti dengan hangatnya suasana pagi yang cerah. Nanda mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Dengan mata yang masih setengah terpejam dia berjalan ke arah kamar mandi. Nanda segera menyalakan shower dan duduk di bawahnya berharap masalahnya akan segera selesai bersama air yang mengalir deras.
Setelah selesai dengan mandinya, dia bergegas ganti baju dan mulai merapikan diri. Wajahnya yang kusut terlihat sangat jelas sekali. Nanda tak pernah terlihat begitu parahnya sampai tak mau merias wajahnya yang biasa dia poles dengan berbagai macam kosmetik. Dia sudah tidak peduli dengan hal-hal yang dulu dianggapnya penting sekarang semua baginya jadi masalah sepele.
Setelah selesai dengan hanya menyisir rambut dan mengoleskan sedikit bedak Nanda pergi ke ruang makan. Saat dia sudah berada di ruang makan, keadaan seperti biasa. Seolah pertengkarannya dengan Gia kemarin hanya sebuah angin lalu. Namun sikapnya belakangan ini memang di rasa aneh oleh Mama dan Papanya.
”Selamat pagi sayang, kamu mau Mama buatkan pan cake? Atau hanya makan roti seperti biasa.”
”Em, aku makan seperti biasa saja Ma,” Katanya pelan.
Tiba-tiba Gia datang dengan mata yang sembab dan muka yang terlihat kesal. Gia langsung duduk di samping Nanda tanpa mengucapkan apapun. Nanda pun tak berkomentar sama sekali. Nanda menikmati apa yang terhidang di hadapannya. Sementara Gia masih tetap diam sampai Mamanya bertanya dengan pertanyaan sama yang di ajukannya pada Nanda. Tak berapa lama Gia sudah melahap pan cake buatan Mamanya.
Setelah selesai makan Nanda bergegas berpamitan pada Mama dan Papanya. Tanpa sedikitpun melihat Gia yang masih terlihat tidak suka padanya. Nanda langsung naik ke mobil, sambil menunggu Gia, Nanda membuka buku pelajarannya. Dengan nafas berat, ia hembuskan perlahan. Dan melihat langit biru yang membentang luas.
Setelah sepersekian detik dia menatap langit. Gia masuk ke dalam mobil dan mendengus pelan lalu menutup pintu mobil. Mobil meluncur santai membelah kota yang masih belum terlalu sibuk. Maklum masih pukul 6 pagi, hanya masih ada beberapa orang yang akan berangkat kerja selain itu juga toko-toko belum banyak yang buka. Nanda mengamati orang-orang yang berlalu lalang di sekitar jalan raya.
Tak sampai 30 menit mobil itu sudah berhenti di depan sebuah bangunan megah. Ya itulah sekolah Gia dan Nanda. Sekarang mereka berdua berada diangkatan yang sama yaitu kelas XI IPA di sebuah SMA yang lumayan terkenal. Gia segera turun dan berlalu bersama murid-murid lainnya menuju gerbang, sementara Nanda masih memandangi Gia sampai hilang dari pelupuk matanya. Tak berapa lama kemudian Nandapun segera turun dan melangkah bersama yang lain.
”Hai Nan,” Sapa Bimo, teman dekat Nanda dan satu-satunya sahabat Nanda.
”Hai,” Katanya tanpa menoleh.
”Em, muka kamu kok kelihatannya pucet banget. Apa sakitnya kambuh lagi?”
”Nggak kok, siapa yang sakit?” Katanya mengelak.
”Itu, buktinya. Kamu kelihatan lesu banget,”
”Ya sih, aku sedikit nggak enak badan,”
”Em, Nan, boleh aku tanya sesuatu sama kamu?”
”Tanya aja, emangnya mau ngomongin apa sih kok kayaknya serius banget,”
”Ini emang serius, Nan, apa kamu kemarin bener-bener jadian sama Tyo?”
”Apa? Siapa bilang kayak gitu?” Kata Nanda masih tanpa menoleh.
”Anak-anak udah pada tahu, kemarin kalian berduaan di belakang sekolah dan ….., apa itu beneran Nan?” Kata Bimo tanpa melanjutkan perkataannya dan langsung bertanya.
”Kalo itu benar, emangnya nggak boleh?”
”Bukan gitu Nan, kenapa kamu ngelakuin itu semua, padahalkan…,” Kata-kata Bimo terputus.
”Padahal aku sudah tahu kalo Gia suka banget sama Tyo, itukan yang mau kamu omongin?”
”Iya sih, tapi Nan…apa kamu mau Gia benci sama kamu sedangkan kamu akan….,” Bimo tak sanggup melanjutkan perkataannya lagi.
”Mati! Nggak idup lagi, emangnya aku salah kalau aku mau mati, denger ya Bim, aku nggak pernah mau dikasihani sama orang lain, ngerti kamu!” Kata Nanda sambil berlari menjauhi Bimo.
”Maafin aku Nan…, aku hanya mencoba buat kamu lebih tegar,…NANDA,” Jerit Bimo dalam hati.
Bel berbunyi nyaring, tanda dimulainya jam pelajaran pertama. Namun Nanda masih berkutat di atas gedung Sekolah. Angin berhembus semilir menyibakkan rambutnya yang panjang terurai. Nanda memandangi cermin yang sekarang dibawanya, dia menatap cermin itu tanpa berkedip untuk beberapa saat.
”Ternyata kami memang mirip” Desisnya pelan,”Kami memang saudara kembar tentulah mirip,”Katanya kemudian sambil tertawa dingin,”Tapi kenapa semua ini hanya menimpaku…,”Katanya pilu, dan mulai menangis lirih.
Jam pertama, kedua dan seterusnya Nanda tak menampakkan batang hidungnya di kelas. Seluruh isi kelas heran sekali dengan absennya sang ketua kelas. Namun mereka juga tak menemukan jawaban atas keheranan mereka itu, mereka masih saja mengikuti rutinitas harian mereka yaitu belajar. Kecuali Bimo, pikirannya masih menerawang jauh dimana Nanda sekarang berada. Walaupun satu-satunya sahabat Nanda, Bimo masih belum tahu keseluruhan apa yang pikirkan oleh Nanda.
Bel pulang usai berdering. Murid-murid segera keluar dari kelas masing-masing. Termasuk Gia, Bimo dan Tyo. Mereka keluar dari kelas masing-masing. Bimo segera berlari menuju kelas Gia, Gia berada di kelas XI IA 2 bersama Tyo, sementara Bimo berada di kelas XI IA 1 sama dengan kelas Nanda.
”Gi, tunggu,” Panggil Bimo sambil berlari.
”Ngapain kamu lari-lari kayak gitu Bim?” Tanya Gia dengan nada cuek.
”Eh, kamu tahu Nanda dimana nggak?”
”Mana aku tahu, kamukan temen sekelasnya, seharusnya kamu dong yang lebih tahu,”Kata Gia sinis.
”Aku juga nggak tahu Gi, tiba-tiba Nanda ilang gitu aja sejak jam pelajaran pertama,”
”So?”
”Maukan kamu bantuin aku cari dia, aku takut dia kenapa-napa, soalnya tadi pagi mukanya pucet banget,”
”Kamu aja yang nyari, aku buru-buru nih,”
”Heh, kamu saudaranya bukan sih? Emang kamu nggak takut kalau tejadi apa-apa sama Nanda, aku percaya kamu marah sama Nanda soal dia dan Tyo, tapi aku nggak nyangka kamu itu orang yang nggak punya hati ya,” Kata Bimo marah.
”Ada apa nih?” Kata Tyo tiba-tiba muncul.
”Gini Yo,…..,” Bimo menjelaskan apa yang terjadi.
”Apa? Terus kamu tahu sekarang Nanda ada dimana?”
”Aku nggak tahu makanya aku tanya sama Gia, kayaknya Gia juga nggak tahu,”
”Sekarang kita berpencar nyari Nanda,oke!”
”Oke, aku cari ke gedung belakang,”
”Aku coba cari ke atas atap gedung baru, kali aja dia di sana”
”Em, aku boleh ikut nggak?” Kata Gia mengajukan diri.
”Terserah kamu,” Kata Bimo sedikit sinis, mengingat perkataan Gia tadi.
Mereka menyusuri lorong-lorong sekolah. Berharap Nanda secepatnya ditemukan, tiba-tiba perasaan aneh muncul dalam hati Gia. Perasaannya sangat tidak enak sekali. Gia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Firasat yang sama sekali tidak ia kehendaki.
Sekitar dua puluh menit berputar-putar tanpa hasil Gia pun menyerah. Namun hatinya masih tak karuan, pikirannya terus terbayang-bayang pertengkaran mereka kemarin. Tak terasa air mata meleleh dari ke dua matanya. Dia merasa semua ini salahnya, dia merasa sangat ketakutan bila terjadi sesuatu pada Nanda. Gia melihat Bimo yang berlari-lari menghampirinya.
”Gimana? Ketemu?” Tanya Gia penuh harap.
”Nggak, aku nggak bisa temuin Nanda,”
Tiba-tiba Tyo muncul, namun tak sendirian. Dia menggendong seseorang yang Gia dan Bimo tahu itu adalah Nanda. Segera mereka berdua menghampiri Tyo dan Nanda. Namun mereka terkejut, Nanda dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Darah segar menetes dari lubang hidungnya.
”Bim, tolongin aku bukain pintu mobil kita pergi ke rumah sakit, kamu yang nyetir ya”
”Ok,”
Gia memandang Nanda dengan pilu, dan tak bisa berkata apapun. Gia shock melihat keadaan saudara kembarnya yang begitu memilukan. Gia hanya bisa mengikuti Tyo yang menggendong Nanda. Nanda masih tak sadarkan diri ketika masuk ke ruang gawat darurat. Gia duduk di ruang tunggu dengan perasaan tak keruan adanya.
”Em, Bim, aku mau telfon Mama sama Papanya Nanda dulu ya, kamu tolong jagain Gia,” Pinta Tyo.
”Ok,”Jawab Bimo singkat.
”Bim, darahnya mengalir, darahnya dimana-mana….,”Kata Gia sambil sesenggukan, ”Bim, ini semua salahku, nggak seharusnya aku marah sama Nanda, seharusnya aku sebagai saudara ngedukung dia, aku jahat Bim, aku jahat,”Kata Gia sambil menangis histeris.
”Sudahlah Gi, ini semua bukan salah kamu kok, ini semua memang takdir yang ditentukan oleh-Nya, dia ngelakuin ini semua agar kamu nggak terlalu sedih ketika dia pergi,” Tiba-tiba Tyo datang dan berkata sesuatu yang tak dipahami maksudnya oleh Gia.
”Apa yang kamu katakan barusan? Takdir? Pergi?”
”Apa kamu tahu, Nanda menutupi semuanya dengan baik. Dia kena leukimia stadium akhir, kata dokter umurnya udah nggak lama lagi,” Kata Tyo dengan menghembuskan nafas berat.
”Apa? Kamu bohong, kamu pasti bohong,” Kata Gia tak percaya.
”Dia nggak bohong, Nanda emang kena leukimia stadium akhir. Aku tahu ketika dia pingsan 3 bulan yang lalu, aku diberitahu langsung oleh Nanda, dan dia bilang jangan kasih tahu kamu, dia takut kamu akan sedih,” Kata Bimo membenarkan.
”Kenapa kalian nggak ngasih tahu aku?” Kata Gia semakin histeris.
Tiba-tiba dokter datang dan memberitahukan bahwa Nanda sudah sadar. Namun Nanda harus banyak istirahat, badannya sangat lemah. Dokter membolehkan Gia, Bimo dan Tyo masuk ke ruang perawatan. Begitu masuk, Gia langsung ngeri melihat keadaan saudara kembarnya. Infus, kantong darah dan selang udara menempel di beberapa bagian tubuhnya. Seolah-olah menyatu dalam diri Nanda, Gia terpekik pelan.
”Gia,” Panggil Nanda lemah sambil meambaikan jari tangannya menyuruh Gia mendekat.
”Nanda kamu jahat, kenapa Cuma aku yang nggak tahu, kenapa?” Isak Gia.
”Karena aku nggak mau melihat kamu sedih,” Kata Nanda pelan namun hampir seperti berbisik sambil mengelus rambut Gia.”Maafin aku ya?”
”Aku yang seharusnya minta maaf, aku yang salah. Aku yang jahat, aku yang nggak sensitif, aku ini saudara yang bodoh, aku minta maaf, aku…,”
”Stt, kamu nggak salah, kamu nggak jahat, kamu saudaraku yang sangat baik…,” Kata Nanda mengusap air mata Gia,”Aku akan selalu maafin kamu, jadi kamu mau maafin aku?”
”Tentu, aku mau maafin kamu, kamu saudara yang aku sayangi, kamu harus bertahan,”
”Terima kasih, dengan begini aku akan pergi dengan tenang, Ashaduanla illahailallah, Waashaduanna Muhammadarosulullah,….Lahaula walla quatta ilabillah….”
Hening sesaat.
”Nan….? Nanda?”Tak ada Jawaban, kedua mata Nanda sudah tertutup sekarang.”Bangun Nan, jangan tinggalin aku sendirian, Nanda,” Raung Gia dalam kepiluan.
Tyo menarik tubuh Gia dalam pelukannya. Gia melihat salah satu suster sedang menutup tubuh Nanda dengan selimut. Gia sudah tak mampu mengatakan apapun, hanya isak tangis yang keluar dari mulut Gia. Kini sang mentari telah tutup usia.
Setelah beberapa hari penguburan Nanda, Gia masih sedih atas kematian saudara kembarnya itu. Ia masih sering mengurung diri dalam kamarnya. Dia masih ingat saat-saat terakhirnya bersama Nanda, senyum terakhir yang tersungging di bibirnya yang mungil. Dan bayangan Nanda masih terngiang-ngiang dalam pikirannya.
Malam itu Tyo datang, entah apa yang Tyo pikirkan. Tyo menghampiri Gia yang masih melamun di belakang teras rumahnya. Mata Gia menerawang jauh ke atas langit. Untuk beberapa saat Gia tak sadar akan keberadaan Tyo, namun setelah sekian lama Gia pun menoleh dan mendapati Tyo sedang menatapnya.
”Malam Gi,” Sapanya ramah.
”Malam Yo, kamu datang ke sini ada perlu apa?” Tanya Gia tak bersemangat.
”Aku datang ke sini untuk nyerahin amanat dari Nanda, aku disuruh nyerahin buku hariannya sama kamu, dia nyerahin amanat ini ke aku sebelum dia pingsan waktu itu,”
Tak lama Tyo mengeluarkan sebuah buku kecil bersampul biru tua. Dengan bercak darah yang sudah mengering di beberapa tempat. Air mata meleleh kembali di kedua mata Gia yang indah. Tyo menyerahkan buku harian itu kepada Gia, Gia menerimanya dengan isak tangis tertahan.
”Baca langsung pada halaman terakhir,” Kata Tyo menjelaskan,”Ada sesuatu yang perlu kamu tahu,”
Sabtu, 21 Agustus 1996
Aku udah ngerasa begitu dekat dengan kematian. Aku udah nggak punya banyak waktu. Aku ngerasa begitu cepat waktu berlalu, tapi semua ini pasti akan terjadi cepat atau lambat. Dalam kesendirianku ini, aku hanya meminta pada Tuhan semoga Mama, Papa dan Gia mau memafkan aku atas segala tindakanku yang buruk.
Ketika pertama mendengar vonis dokter kalau aku menderita Leukimia stadium akhir, aku tak percaya. Aku mencari kesalahan diagnosis itu, namun semua terbukti benar. Aku marah dan kecewa kenapa hanya aku, bukan Gia atau yang lain. Kenapa semuanya hanya terjadi padaku?
Namun akhirnya aku mengerti, bahwa saat yang paling dekat dengan kematian, kita baru menyadari bahwa Tuhan sangat menyayangiku. Aku memiliki keluarga yang sangat sayang padaku, punya Mama, Papa dan juga Gia. Aku juga punya sahabat yang pengertian seperti Bimo, dan teman yang dapat dipercaya kayak Tyo.
Maafin aku Gia, bukan maksudku untuk menyakitimu. Aku hanya ingin kamu tahu, aku sangat sayang padamu dan nggak mungkin aku menyakitimu. Hari itu aku mengajak Tyo untuk menceritakan semua hal yang terjadi padaku, dan aku mengatakan padanya, saat aku udah nggak ada nanti aku memohon untuk menjaga Adikku yang paling aku cintai, Gia.
Sebenarnya Tyo sama sekali tak pernah menyukaiku. Aku juga tak pernah suka pada Tyo, sekalipun aku tidak pernah menyukainya. Aku tahu Tyo sudah menyukai gadis lain. Gadis itu adalah kamu, Gia Aryani Naiwa. Dan aku menemuinya untuk mendorongnya menyatakan perasaannya padamu. Karena aku tahu kamu juga menyukai Tyo. Saat itu Tyo tak percaya apa yang aku katakan, namun setelah aku jelaskan lebih rinci dia mulai percaya.
Gi, saat kamu baca Diaryku ini, aku mungkin udah nggak ada di dunia ini. Jadi, jangan pernah kamu sesali semua yang sudah terjadi. Ini semua karena kehendak-Nya. Sang Illahi Robby. Pesanku, jangan pernah kamu menyalahkan diri kamu lagi. Berusahalah untuk jadi lebih dewasa. Tatap masa depan dengan penuh semangat. Dan yang terakhir, kan aku tunggu dirimu selalu…Kamu adalah Pelita hatiku…Pelipur laraku…Penghapus rindu…
Ananda Aryani Naiwa.
Tangis Gia langsung pecah seketika, setelah membaca kalimat terakhir yang dituliskan Nanda untuk Gia. Dengan penuh kasih Tyo mengelus rambut Gia dan memeluk erat tubuh Gia yang mulai bergetar. Gia mulai menyadari, betapa sayangnya dia kepada saudara kembarnya itu. Dengan bibir bergetar Gia mengucapkan sesuatu dengan menatap udara kosong.
”Nanda, tunggulah aku di sana,”Katanya sembari tersenyum pilu.
@@@
Wanita tua itu menutup matanya untuk beberapa saat, mengingat kenangannya masa lalu. Angin kembali bertiup kencang. Dirapatkannya jaket yang menutupi tubuhnya yang tua. Seseorang datang sambil melilitkan sebuah syal pada lehernya. Dia tersenyum pada sang pembawa syal dan mengisyaratkan akan segera berdiri dan mengikutinya.
”Kau pergilah dahulu, Nenek akan segera menyusulmu nanti,”
”Baik,” Jawab sang cucu sembari meninggalkan Neneknya yang masih hendak berdiri.
”Nan,”Katanya lirih, kemudian ia tersenyum sembari berkata,”Tunggulah aku di sana, aku takkan mengecewakanmu lagi.”
Wanita tua itu adalah Gia, matanya masih menatap kuburan yang hendak ditinggalkannya. Tak terasa air mata menetes di ujung lentik matanya yang kian hari terlihat semakin keriput. Lalu tersenyum kecil sambil melangkah pergi. Pekuburan itu terlihat lengang kembali, hanya gemerisik dedaunan yang tertiup angin. Dan suara langkah kaki sang wanita tua menyusuri daerah Pekuburan tua dengan hati yang telah tertata untuk menjejakkan diri di hari esok yang tak diketahui oleh siapapun kecuali Dia, Allah Tuhan Semesta Alam.
By : Dian N
0 komentar:
Posting Komentar