HARI INI UDARA begitu gerah dan lagi suasana kelas sedang suntuk. “Bletaak!!” suara buku paket Budi jatuh ke lantai. Budi masih saja melihat kalender di sebelah meja guru., dilihat hari ini adalah hari sabtu, hari yang paling melelahkan tiap minggunya ditambah pelajaran fisika yang menjadi menu utamanya yang membuat budi tidak mempunyai semangat belajar sedikitpun hari itu.
“Ah! Berat kali ini rasanya, pelajaran fisika di depan papan tulis itu tidak seperti halnya ayam goring yang lezat untuk disantap. “ Tuhan berikan aku kekuatan, berikan aku tetesan semangat hari ini,” gumam Budi dalam hati.
“Budi! Hayoo! Kamu ini dari tadi bapak perhatiin Cuma ngeliatin kalender aja, emang kamu udah bias pelajaran bapak, ha?” bentak Pak Legimin, guru fisika yang mengajar kelas budi siang itu.
“Ma….ma-maap Pak! Tadi saya khilaf!”
“Khilaf, khilaf dengkulmu kuwi! Ya sudah bud, sekarang perhatikan papan tulis kembali,!” kata Pak Legimin bersama dengan suara teman-teman Budi yang menertawakannya.
“Baik, pak!” kata Budi.
Suasana kembali tenang, kemudian Pak Legimin duduk kembali di tempatnya dan melanjutkan pelajaran fisika.
“Ok anak-anak, sekarang kita mulai sub-bab baru dari Hukum Newton tentang gaya ‘aksi-reaksi’ buka buku paket kalian
Setelah selang beberapa lama menjelaskan materi fisika, akhirnya Pak Legimin menuliskan kesimpulan pelajaran hari ini mengenai gaya ‘aksi-reaksi’ di papan tulis sebagai sesi terakhir pembelajaran ala pak Legimin.
Hukum Newton III berbunyi, jika benda A mengerjakan gaya pada benda B, maka benda B akan mengerjakan pada A, yang besarnya sama tetapi arahnya berbeda (berlawanan).
Contohnya, tank sedang menembak. Pada saat menembakan peluru, tank mendorong peluru kedepan (aksi). Sebagai reaksi, peluru mendrong tank ke belakang sehingga tank terdorong ke belakang.
“ok! Anak-anak jam pelajaran sudah selesai, kalau tidak ada pelajaran kita tutup. Wassalamualaikum Wr. Wb.” Kata pak Legimin mengakhiri pertemuan.
Jam menunjukkan pukul 13.00, bel pulang sekolahpun sudah berbunyi beberapa menit lalu, tapi tak seperti biasanya, budi belum beranjak dari tempat duduknya. Tas ditaruh dibawah kursi, kedua kakinya ia taruh diatas meja, tangan bersendekap layaknya seorang pemikir, matanya melototi hasil kesimpulan yang dituliskan oleh Pak Legimin tadi. Tidak seperti biasanya.
Oh, jadi begitu, gaya yang kita berikan pad suatu benda sebesar n akan memberikan reaksi yang kita dapatkan sebesar n juga, hemm…. Boleh-boleh, nah sekarang aku mau pulang!” gumam budi seraya beranjak dan kursinya dan ngeloyor meninggalkan kelas.
Sesampainya di depan pintu rumah, budi tidak langsung masuk ke dalam, tetapi ia duduk di kursi teras, di lihatnya sebuah pisang diatas meja di sampingnya.
“Aduh….duh… hari ini badanku gak enak banget, rasanya pegel-pegel,”gumam Budi sambil membuang kulit pisang yang barusan ia makan ke lantai.
Beberapa saat setelah membuang kulit pisang ke lantai, adik Budi yang masih kecil, Ipin, berlari-lari.
“gedubrakkkk!!! suara Ipin yang terjatuh terpeleset karena kulit pisang tadi.
Lantaran Ipin menangis dan mengerang kesakitan, mengagetkan Budi yang sedang bersantai.
“bah, adikku kenapa menangis?” kata Budi.
“uuuaa, kakiku!” teriak Ipin sambil memegang lututnya.
“alamak! Kulit pisang itu tow! Wah gawat nih, bias-bisa mati kalau tahu ipin nangis karna ulahku.”
“Budi kau apakan adikmu ini sampai menangis segala? hah!” kata bapak Budi membentak.
“Enggak-enggak Pak,
By : Edwin Ardiansyah
0 komentar:
Posting Komentar