Ketika itu, langit begitu gelep. Menandakan hujan akan segera turun. Brenda yang sedang berjalan di tepi jalan mempercepat langkahnya, agar cepat sampai rumah. Sesampainya di rumah dia mengetuk pintu dan mengucapkan salam berkali-kali. Namun, tidak ada sepatah kata pun yang menjawab. Brenda kebingungan “kemana perginya orang-orang?” Tanya Brenda dalam hati.
Disaat Brenda sedang terdiam seribu bahasa, salah satu tetangganya mendatanginya. “Nda, sedang apa kamu berdiam diri disitu?” Tanya Sitta. Dia adalah tetangga sekaligus teman bermain Brenda. “Saya sedang……” Jawab Brenda. Sebelum Brenda menyelesaikan pembicaraanya, terlebih dahulu Sitta memotong pembicaraan Brenda.“Oh.iya Nda, tadi orang tua kamu titip pesan ke saya.” Sela Sitta. Brenda sangat penasaran dan segera ingin mengetahui kemana perginya orang rumah. Dengan cepat dia menanyakan ke Sitta “Pesan apa Sit?” Jelas Brenda. “Mereka sedang mengantar nenek kamu ke rumah sakit dan mereka juga menyuruh kamu, untuk mengangkat jemuran.” Jawab Sitta. Loh, ta… tapi apakah mereke tidak memberi tahu kamu, di mana mereka meletakkan kunci rumah? Tanya Brenda dengan heran. “Maaf Nda, tapi mereka hanya pesan itu ke saya”. Sambil melangkah masuk ke dalam teras rumah Brenda, karena suara halilintar menyambar dengan dahsyat. “duor…duorr…” suara dahsyat halilintar tersebut. Sementara itu Brenda masih terdiam kebingungan di sela-sela sambaran halilintar dan gemerlapan cahaya petir.
“Nda, saya pulang dulu ya? karena sebentar lagi akan turun hujan nih” ijin Sitta kepada Brenda. “Iya Sit, kamu pulang saja. Saya tidak apa-apa sendirian, dan terima kasih iya? Karena kamu sudah menyampaikan pesan orang tua saya.” Sambil melontarkan senyum kecil kepada Sitta. “ iya sama-sama Nda” Sitta bergegas meninggalkan Brenda.
Brenda yang sekarang sendirian. Masih terdiam disela-sela gemerlap cahaya petir dan suara halilintar. Tiba-tiba terlintas dibenak Brenda, bahwa dia kan bisa menelpon orang tuanya lewat hp. Dia pun segera mengambil hp dari dalam tasnya. Setelah beberapa detik kemudian, barulah tersambung dengan orang tuanya. “tut…tut…tut… suara sambungan sinyal hp tersebut. Namun, tidak ada jawaban dari telpon Brenda tersebut. Dia mengulang kembali untuk menelpon orang tuanya. Dan Ibunya yang mengangkat telpon tersebut. “Hallo…” Jawab Ibu. Brenda pun menanyakan dimana mereka meletakkan kunci rumah. Ternyata kunci rumah itu, diletakkan di bawah pot mawar putih, bunga kesayangan nenek.
Brenda segera masuk ke rumah. Hawa hangat sekaligus sunyi senyap, masuk ke raga Brenda. Brenda segera ingat pesan Ibu, yaitu mengangkat jemuran. Satu persatu jemuran, diangkat Brenda. Dan disaat Brenda menangkat jemuran terakhir. Hujan deras dan lebat pun, turun dengan kasarnya….. Brenda segera lari masuk rumah. Suasana rumah yang gelap dan sunyi senyap, kembali menghampiri Brenda. “Brenda…Brenda…” Brenda seperti mendengar suara pelan dan halus memanggil namanya. “Siapa itu?” Tanya Brenda dengan heran. Namun tidak sepatah katapun, pertanyaan Brenda terjawab.
Kemudian Brenda bergeges menuju kamar. “Kyek….” Suara pintu kamar Brenda yang tua. “Ckalag” Brenda menyalakan lampu kamar. Brenda duduk disisi pojok dipan tunya. “Krek” suara lapuk dipan tua Brenda. Hanya suara benda-benda mati yang terdengar di ruang kamar Brenda. tiba-tiba “Dret..dret…dret…” Suara hp Brenda yang hanya bergetar diatas meja belajarnya. Tertera dengan jelas di layer hp Brenda. 1 message form Daniel. Brenda segera membalas sms dari Daniel. Jemarinya dengan cekatan memencet huruf-huruf di hpnya. Ctag…ctag…ctag” Suara tombol navigasi hp Brenda.
Setelah beberapa menit dia berkontak dengan Daniel, yaitu pacar Brenda. Walaupun hanya via hp. Itu sangat menghibur Brenda disaat kesepian. Seperti halnya yang dirasakan Brenda sekarang. Apalagi Brenda sangat mencintai Daniel. Sifat pengertian dan lembut yang dimiliki Daniel, membuat Brenda semakin mencintainya.
Brenda kembali meletakkan hpnya di atas meja “Tag” suara benturan hp Brenda dengan permukaan meja yang keras. Suasana kembali sunyi senyap seperti semula. “Thag…thag…thag…” suara langkah kaki Brenda menuju jendela kamarnya. “Brak” jendela kamar Brenda terbuka. Hawa dingin langsung masuk ke kamar Brenda yang hangat. Seketika itu juga suasana kamar Brenda berubah menjadi dingin. Dia menghirup dalam-dalam udara dingin itu dan melepasnya secara perlahan. Dia memejamkan mata untuk menikmatinya. Ketika dia membuka mata, hamparan mawar putih dihadapanya masuk ke bola matanya. Brenda terdiamdalam lamunannya. Hanya gemericik suara air hujan yang terdengar saat itu. Brenda sedang membayangkan dahulu saat dia masih kecil, menanam bunga mawar-mawar putih itu bersama neneknya. Sifat nenek Brenda yang sangat prrhatian kepadanya. Membuat Brenda kecil senang bermanja-manja ria dengan neneknya. Bibir mungil Brenda tersenyum kecil, mengingat semua kenangan yang telah dilalui bersama neneknya. Di tengah lamunannya, Brenda terkujut dengan suara “dret…dret…dret…” suara itu langsung memecah suasana hening saat itu. Brenda bergegas menuju meja, Dimana dia meletakkan hp. Ternyata ada telpon dari adiknya yaitu Pety. Dia sekarang baru kelas 1 smp. Sifatnya yang cerewet, aktif, dan selalu ingin tahu tapi sangan pengertian ini, membuat Pety dekat dengan kakaknya dan sering curhat. Namun, kali ini dia tidak seperti biasanya. Pety yang biasanya suka berbicara panjang lebar. Ketika itu hanya berbicara beberapa kata. Pety hanya bilang ada berita duka sambil terbata-bata dan langsung menutup telpon. Dan Brenda hanya bertanya-tanya dalam hatinya. “berita duka apa yang dimaksud adikku?”
“Nda…Brenda… Suara itu langsung memecah suasana hening saat itu. Brenda menoleh ke arah suara itu. Dia melihat sosok yang sepertinya sangat dekat dengan dia. Dia mendekat ke perempuan tua itu. Dan benar, setelah diperhatikan perenpuan itu adalah neneknya. Namun nenek Brenda hanya terdiam seribu bahasa dan Brenda pun hanya melihat saja. Sepertinya nenek Brenda ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak bias untuk mengatakan.
“Tiud…tiud..tiud…” dari kejauhan terdengar suara ambulan yang semakin lama semakin mendekat dan semakin keras suaranya. Tiba-tiba sosok perempuan yang menyerupai nenek Brenda menghilang dengan sekejap. Meskipun di hati Brenda masih bertanya-tanya siapakah perempuan yang menyerupai neneknya? Pikiran itu menghilang dengan sendiri dan Brenda pun berlari menuju pintu dan membuka pintu. Betapa terkejutnya ketika ambulan itu berhenti tepat di depan rumahnya. Brenda dengan langkah pelan mendekati ambulan itu.
“Deg…deg…deg…” suara detak jantung Brenda, ketika mendekati ambulan itu. Dari sisi depan ambulan, keluarlah Ibu Brenda beersama Pety adik Brenda. Brenda masih terdiam kaku, mereka berdua berjalan ke arah Brenda dengan wajah pucat pasi. Mereka menghampiri Brenda sambil menundukkan wajah.
Tidak lama kemudian, terbukalah pintu belakang mobil itu. Dan dua petugas rumah sakit mengangkat sebuah peti mati. Peti tersebut diletakkan di ruang tengah rumah Brenda. Brenda belum melihat siapa yang ada di dalam peti mati tersebut.
“Drung…drung…drung… suara mobil Ayah Brenda yang sedang menuju garasi. Ayah, segera masuk ke ruang tengah. Sifat Ayah yang pendiam, membuat setiap orang yang melihatnya bertanya-tanya dalam hatinya. Begitu pun dengan Brenda yang bingung dengan semua kejadian yang ada di rumah.
Tidak lama kemudian Daniel, pacar Brenda dating ke rumah Brenda. Dengan mengenakan hem hitam. Dan dia hanya diam disamping Brenda. Begitu pun, dengan Brenda yang hanya diam tanpa kata.
Peti tersebut dibuka oleh Ayah Brenda dan dengan serentak suara tangisan Ibu Brenda memecah suasana hening di rumah. Brenda pun mendekat ke arah peti tersebut. Dia melihat sosok perempuan yang selama ini selalu memanjakanya, terbujur kaku di dalam peti mati. Dia pun sama seperti Ibunya yang menangis mengiringi kepergian Neneknya. Daniel menyoba menenangkan Brenda dengan memeluknya dan menyuruh Brenda agar sabar dan ikhlas, untuk melepas kepergian neneknya. Brenda mulai tenang dan pemakaman neneknya pun di mulai. Sejak saat itu Brenda berjanji akan merawat bunga-bunga mawar putih milik neneknya dengan sebaik mungkin.
By : Selsio Ceisaria A.m
0 komentar:
Posting Komentar