Ketika aku melihat gedung ini, rasanya aku ingin berhenti berjalan dan masuk di dalamnya. Banyak orang keluar masuk dari gedung tersebut pada waktu yang telah di tentukan oleh kebanyakan orang. Ingin rasanya masuk ke dalam gedung itu dan melihat keadaannya mengapa begitu menarik dan jika melihatnya membuat hatiku ingin memilikinya seperti orang yang keluar masuk tadi. Sepertinya itu tak mungkin jika aku memilikinya, sebab ayah sudah memilihkan gedung lain untukku.
Aku adalah seorang gadis yang sedang mencari kesejukan yang dapat menerangi jiwaku, yang dapat membimbingku ke jalan yang benar. Tidak seperti saat ini, rasanya suram sekali kehidupanku. Aku sudah menemukan sesuatu yang dapat menerangi jiwaku, yaitu gedung tadi. Rasanya itu tak mungkin jika aku memiliki gedung itu, sebab ayah sudah memilihkan gedung lain untukku. Jika aku memaksa pindah ke gedung yang hamper setiap hari aku lewati, ayah pasti marah. Tidak hanya ayah saja, tapi juga keluargaku lain yang juga memilih gedung yang aku anggap suram itu.
“Andai saja dulu ayah tidak memilihkan gedung yang suram itu untukku, sekarang pasti aku sudah memiliki gedung yang menerangi jiwaku itu”gerutuku.
Keesokan hari aku kembali melewati gedung itu. Kali ini ketika aku melihat bangun itu. Tidak seperti biasanya, gejolak hati semakin besar untuk memiliki gedung itu. Tak perduli ayah marah atau tidak, yang jelas aku sudah menambatkan hati pada gedung itu. Sudah ku putuskan aku akan pindah dari gedung yang di pilihkan ayah ke gedung yang selalu membuatku tenang dan damai ini.
Di rumah aku menyampaikan niatku itu kepada ayah. Belum selesai bicara, ayah marah.
”tidak ada yang boleh pindah dari gedung yang sudah ku pilihkan ke gedung yang lain. Mengerti!”.
Sontak aku merasa kecewa dengan apa yang baru saja ayah katakan. Sifat ayah memang keras dan tidak dapat di tawar apa yang sudah jadi keputusannya. Tetapi, aku tak perduli dengan keputusan ayah. Aku tetap ingin memiliki gedung itu.
Lusa aku pergi ke gedung itu dan masuk di dalamnya. Di sana aku bertemu seorang laki-laki tua yang dapat membantuku utuk mengukuhkan kalimat bahwa aku memilih bangunan ini.
“apakah kau yakin nak, bahwa kau memilih gedung ini sebagai sandaran yang terakhir?” tanya laki-laki tua itu.
“aku yakin, bahwa inilah jalan hidupku yang sebenarnya” kataku
“baiklah kalau begitu, ikutilah kalimat yang akan aku katakana untukmu” sahut laki- laki itu. Aku hanya mengangguk saja.
“asyhaduallaa ilaaha illalloh wa asyhadu anna muhammadan rosululloh” dikte laki-laki itu.
Aku pun mengikuti kalimat itu, dan setelah mengukuhkan kalimat itu secara otomatis aku masuk ke agama Islam. Mulai hari ini aku seorang muslim. Setelah mengucapkan kalimat syahadat hatiku merasa tenang dan tidak ada lagi kegundahan yang melanda hatiku. Rasanya aku ingin selalu memuji nama Tuhan yang baru saja aku temukan, yaitu Allah Yang Maha Besar. Dia telah menunjukkan jalannya untukku.
Masalah yang harus aku hadapi lagi yaitu, bagaimana cara aku menyampaikan bahwa aku telah masuk Islam tanpa restu ayah. Setiba di rumah aku merasa takuttakut, tapi aku merasakan ada bisikan yang menyuruhku untuk tidak takut pada apapun. Begitu mendengar bisikan itu, rasa takut hilang, dan aku langsung menemui ayah di ruang kerja.
Aku menghampiri ayah dan berkata,”yah, maaf bila aku harus bilang seperti ini pada ayah. Aku tak bermaksud untuk menentang perkataan ayah, jika aku ingin masuk Islam. Tapi yah, aku tidak bisa menahan diri untuk masuk Islam, karena di sini aku mendapatkan ketenangan dalam hidup,aku bisa mengerti arti sebuah pilihan. Ini adalah keputusanku,yah. Aku telah mengikrarkan kalimat bahwa aku masuk Islam”.
Sontak ayah berdiri dari duduk dan marah-marah kepadaku. Aku pasrah dengan apa yang akan di lakukan ayah kepadaku.
“aline, ayah sudah bilang, bahwa tidak ada yang boleh keluar dari ajaran nenek moyang kita. Kenapa kau harus melakukan perbuatan yang ayah tidak suka”.
Bentak ayah. Ayah pernah bilang , bila salah satu dari angota keluarga kami yang keluar dari agama nenek moyang, maka dia tidak akan pernah di anggap keluarga lagi.
Ayah mendekatiku dan menarik ikat pinggang yang ada di celananya. Ayah mengangkat ikat pinggang dan memukulnya kepadaku. Hingga berkali-kali, aku meringis kesakitan. Ayah memaksaku untuk kembali ke agama yang semula, tapi aku tetap bersihkukuh untuk tetap pada agama Islam ini.
“aku tak mau yah, ini sudah jadi keputusanku yang terakhir”.
Ayah tidak hanya memukulku dengan ikat pinggang , tetapi juga menyeretku ke dalam kamar mandi dan menceburkan kepalaku ke dalam bak mandi. Aku tak bisa bernafas. Setelah beberapa detik, ayah mengangkat kepalaku untuk memberiku udara dan menceburkan kembali ke bak mandi, kemudian mengangkat, menceburkan, mengangkat, menceburkan, begitu berkali-kali. Rasanya seperti mau mati saja. Aku tidak di beri kesempatan untuk berkata satu kata pun. Setelah itu, aku di bawa ayah ke gudang bawah tanah dan mengurungku di sana. Di gudang bawah tanah, badanku terasa memar di seujur tubuh, hingga aku tak sanggup untuk berdiri. Tenagaku habis untuk melawan tenaga ayah tadi.
Aku berdoa,” Ya Allah, apakah ini cobaan pertama yang harus aku tempuh untuk meyakinkan diriku? Jika memang benar, aku akan menerimanya dengan ikhlas dan menjalankannya dengan senang hati. Terima kasih Ya Allah, kau telah menguji keimananku kepadamu. Sungguh bersyukur aku bias beriman kepadamu”.
Sudah beberapa hari ini aku berada di gudang bawah tanah, dan tidak di beri makan dan minum oleh ayah. Rasanya lemas sekali badan ini,sama sekali tidak bias untuk bergerak. Akhirnya pintu gudang pun di buka. Tanpa basa-basi ayah bukannya menanyakan keadaanku tetapi bertanya.
” apakah kau tetap pada pendirianmu itu, haah!!”.
“aku tetap pada pendirianku yah, dan aku tidak takut dengan apapun. Yang aku takutkan adalah Allah, tuhan yang telah menciptakanku” jawabku.
“kalau begitu keluarlah kau dari sini dan jangan pernah kau menginjakkan kakimu di rumah ini”.
Dengan langkah gontai aku menghampiri ayah dan berlutut di kaki ayah dan berkata,” maafkan aku ayah, bukan maksudku untuk menentang ayah dan membuat marah, tapi ini adalah keputusanku. Sekali lagi aku minta maaf. Tapi aku tidak akan memutuskan hubungan darah antara anak dengan ayah. Terima kasih telah merawatku selama ini”.
Aku pergi meninggalkan ayah, keluarga, dan semua kenanganku bersama ayah. Walaupun terasa amat menyakitkan untukku, tapi ini adalah jalan yang sudah aku ambil.
Beberapa hari aku berjalan tanpa tujuan. Aku bingung entah harus kemana. Sudah beberapa hari ini aku tidak makan dan tidak minum. Jangankan untuk makan dan minum, berjalan saja aku hampir tidak sanggup.sekujur tubuhku masih terdapat bekas cambukan, dan tamparan ayah. Aku sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan. Aku memutuskan mencari tempat untuk berteduh, tanpa sadar aku telah sampai di sebuah masjid. Masjid yang aku perjuangkan selama ini. Segera aku mengambil wudhlu dan melaksanakan sholat dhuhur. Walaupun aku tidak begitu fasih melafalkan nama-nama Allah, tapi aku tetap mengerjakan sholat. Setelah sholat aku bertemu dengan seorang ibu. Ibu itu bernama Bu Fatimah. Dia menghampiriku dan bertanya tentang asal usulku. Aku menceritakan semua kejadian mulai dari awal hingga aku berada di sini. Bu Fatimah merasa iba dan menyuruhku untuk ikut ke rumahnya.
“alhamdulillah ya Allah, akhirnya engkau menolongku, dan mengirim seorang ibu yang baik seperti Bu Fatimah ini” gumamku.
Setelah tiba di rumah Bu Fatimah,aku bertemu dengan seorang laki-laki tua dan seorang gadis remaja yang ternyata itu suami dan anak Bu Fatimah. Sepertinya aku pernah bertemu dengan suami Bu Fatimah. Dia adalah orang yang membimbingku untuk mengucapkan syahadat. Bu Fatimah menceritakan semua yang aku alami kepada suami dan anaknya. Bu Fatimah dan suaminya berniat menjadikanku sebagai anaknya. Betapa bahagia aku dan senangnya aku. Aku bersedia menjadi bagian dari keluarga ini.
“alhamdulillah Ya Allah, ku syukuri semua anugerah yang Kau berikan kepadaku”.
Tetapi aku tidak akan lupa dengan ayah yang selama ini merawatku. Bagaimanapun juga, sejahat apapun ayah, dia tetap ayahku.(unr).
By : Ulin Nuha Rahma N.
0 komentar:
Posting Komentar