Senin, 25 Mei 2009

"Unknown"

“Huh..!!”
Lagi-lagi aku melihat mereka berdua. Untuk kesekian kalinya aku merasa sakit, sungguh sakit! Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Mendatangi mereka, kemudian melabraknya dan mengatakan kalau aku sakit hati melihat mereka?! Atau lebih tepatnya , cemburu melihat kemesraan mereka?!
Yaaa…memang tak ada jalan lain kecuali diam dan memendam pedih ini. Toh ku akui, aku yang salah dalam hal ini. Intinya, aku yang telah menciptakan masalah ini. Lelah…jiwa dan ragaku. Ku susuri lantai koridor sekolah dengan jiwa yang kosong. Ku pilih untuk menyendiri di podium sekolahku, daripada ke kelasku yang ramai bak pasar Minggu.
Podium ini seakan menjadi saksi bisu tiap aku menangis karena Chyntia dan Rendy, mereka berdua yang telah membuka kembali perihku! Mau tak mau kenangan dulu terulang kembali dalam anganku. Ku sandarkan tubuhku ke dinding podium, dan semuanya mengalir bersamaan dengan menetesnya air mataku.

!!!!!
Aku adalah Arini, perempuan berumur 16 tahun yang sekarang duduk di bangku SMA kelas 1. Masa SMA ini sungguh indah! Aku sangat menikmatinya walau otomatis semuanya terasa lebih berat dibandingkan saat aku SMP dulu. Teman-teman yang baik dan mengasyikkan, guru-guru yang lucu, dan pasti kakak-kakak kelas yang lumayan cakep (he…he…he…). Untungnya aku termasuk perempuan yang lumayan terkenal (^_^), jadinya banyak kakak kelas yang mengenalku pula. Salah satunya adalah Rendy…
Dia anak kelas 11 IPA1 yang juga tergabung dalam ekskul basket. Aku tidak sengaja mengenalnya, dan setelah kenal pun kami cukup dekat. Tidak terfikir sama sekali dalam benakku untuk menganggapnya lebih dari seorang kakak. Dia seorang kakak yang sangat perhatian, bijaksana, dewasa dan baik. Aku sungguh merasa beruntung memiliki seorang kakak seperti Rendy.
Seperti sekarang. Aku dan dia tengah duduk berdua di kantin sekolah. Aku ingin curhat padanya mengenai hubunganku yang hampir kandas dengan seseorang.
“Kalau menurut kakak, kamu nggak usah terlalu mikirin dia Rin. Oke kakak tau kamu udah cukup lama menjalin hubungan sama Ditya. Tapi kalau putus itu jalan terbaik buat kalian, kalian mau apa lagi?? Toh selama ini setau kakak, kamu lebih sering sedih dan nangis. Kamu mau, terus-terusan sakit karena seorang Ditya? Inget adikku, kakak nggak suka lihat kamu disakiti cowok!!”
Aku diam mendengar semua nasihat Rendy. Aku mencernanya, dan memang benar apa yang dikatakan Rendy. Ditya terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan jarang menghubungi aku. Aku tidak kuat kalau harus terus-terusan seperti ini. Mungkin ini memang yang terbaik buatku.
“Inget sayang, kamu nggak sendiri di dunia ini. Kamu masih punya kakak yang bakal selalu jaga dan sayang sama kamu. Kamu masih punya keluarga dan teman-teman. Dan satu hal lagi, dunia nggak bakal kiamat kalau kamu putus sama Ditya. Ini cuma masalah waktu, dan waktu itu obat paling mujarab untuk menyembuhkan luka…”
Ya. Rendy benar. Aku cuma butuh waktu, dan dengan banyak orang di sampingku, aku yakin aku akan kuat menjalani ini semua.
“Oya Rin, kakak juga pengen ngomong sesuatu ke kamu.”
“Mau ngomong apa kak?”
“Eemmm…kakak juga baru putus sama Navila. Baru aja kemarin…”
“Haaahhh?! Kakak serius? Kok bisa? Gimana ceritanya??”
“Dia masih terlalu kecil aja buat kakak. Dan kita emang sama sekali nggak cocok. Buat apa dipaksain kalau emang nggak cocok?”
“Ya ampun kak…Yang sabar ya? Kakak pasti kuat kok menghadapi ini semua. Inget kak, ini cuma masalah waktu dan waktu itu obat paling mujarab untuk menyembuhkan luka. Lagian kakak punya aku kok!”
“Hehehehe…kamu nyontek kata-kata kakak ya? Dasar Arini…”
“Hehehehehehe”
Aku semakin yakin kalau aku mampu melewati ini semua, apalagi dengan kehadiran Rendy yang akan selalu menjagaku.
!!!!!
Dua bulan setelah aku dan Rendy sama-sama sendiri, kami menjadi makin dekat. Mungkin karena faktor kesepian, makanya kami jadi saling membutuhkan. Setiap hari kami saling mengirim sms untuk mengetahui keadaan masing-masing, karena sekarang sudah musim liburan sekolah. Otomatis kami tidak bisa bertemu untuk beberapa waktu. Seperti malam ini, saat kami sedang menghabiskan waktu untuk saling sms. Entah ini hanya perasaanku atau bagaimana, aku merasa ada yang salah! Memang, aku dan Rendy sudah sangat terbiasa dengan panggilan `sayang` atau yang sejenisnya. Tetapi untuk kali ini, aku rasa memang ada yang aneh. Seperti saat…………
To : SisteR ^_^
Sayank udah maem kan? Jangan sakit ya…kakak nggak mau kehilangan kamu.
Deg! Aku tertegun sambil terus membaca ulang sms Rendy. Karena tidak mau terlalu dianggap terlalu berlebihan, aku biasa saja menanggapi sms Rendy. Aku fikir itu hanya gurauan, makanya aku juga membalas dengan gurauan yang sama.
To : BrotHeR ^_^
Udah sayank…kakak juga jangan telat maem yach…
Dan sampai larut malam pun, aku tetap tidak bisa memejamkan mata. Karena kata-kata ‘sayang’ itu aku menjadi terus kepikiran. Apa mungkin Rendy sudah menganggap lebih hubungan kami?? Aku masih terus berfikir tentang itu, sampai saat hp-ku bergetar tanda ada telepon masuk. Ku lihat layer LCD hp-ku, dan tertera nama BrotHeR^_^ di sana. Rendy!
“Halo kak…Ada apa nich?”
“Nggak kenapa-kenapa Rin. Kakak cuma iseng aja. Abis dari tadi nggak bisa tidur sich……”
“Aku juga nggak bisa tidur nich,,kebetulan banget kakak nelpon aku. Hehehehe”
Aku fikir Rendy akan tertawa di seberang sana seperti biasanya. Tapi ternyata dia diam saja. Aku jadi bingung.
“Halo kak…Kakak masih di sana kan? Kok diem? Tumben deh…”
“Emmm Rin, kakak pengen ngomong tapi kamu jangan marah ya?”
Jangan-jangan………
“Kakak rasa, kakak sayang kamu Rin…Sayang yang lebih dari seorang kakak. Kakak juga nggak tau kenapa tiba-tiba perasaan ini muncul. Tapi kakak yakin, kalau sekarang kakak sayang banget sama kamu. Kakak ingin bisa menjaga kamu seutuhnya!”
Benar firasatku!!!
Tertegun aku mendengarnya. Padahal selama ini sayangku pada Rendy sudah terlanjur sayang seorang adik pada kakaknya, dan sulit rasanya untuk mengubahnya. Aku bingung, Tuhan…!! Aku sungguh tak ingin kehilangannya. Dia begitu berarti bagiku. Dengan berat hati aku menolaknya. Dia sakit, aku tahu itu. Dan mungkin aku akan jauh lebih sakit kalau ternyata dia memutuskan untuk menjauhiku. Tapi ternyata dia tetap bersamaku. Dia mau mengerti akan keputusanku.
“Aku juga sayang kakak. Tapi untuk sekarang hanya sebatas sayang adik pada kakaknya. Aku harap kakak bisa ngerti posisiku.”
Hanya kata-kata itu yang aku gunakan untuk mengakhiri pembicaraan lebih dulu dengan Rendy. Kepalaku mendadak pusing, dan aku putuskan untuk segera tidur.
!!!!!
Ternyata tidak cukup sampai di situ. Tuhan, aku mulai terjebak oleh cintanya. Sedikit demi sedikit rasa sayang `kakak-adik` berubah menjadi sayang seorang perempuan pada laki-laki. Dan tanpa ku duga, dia menyatakannya lagi padaku. Aku tak kuasa untuk menolak, pun tak kuasa aku menerimanya, karena kami sungguh berbeda!
“Sungguh, kakak telah berhasil membuatku mencintaimu. Tapi beri aku waktu untuk memikirkan ini semua. Ini terlalu cepat dan mendadak buatku…”
Sejak saat itu, kami makin dekat di sekolah. Bahkan semua orang mengira kami sudah memiliki hubungan yang lebih serius dari sekedar kakak-adik.
Dekat . . . Begitu dekat . . .
Hingga di saat aku sudah merasa siap menerimanya, dia mengambil keputusan yang sungguh berbeda 180 derajat dari apa yang telah ku bayangkan! Dia tak ingin melanjutkan hubungan kami tanpa memberi tahu padaku alasan yang jelas. Intinya, dia ingin kami tidak saling mengenal lagi dan tidak perlu saling mengenal lagi.
Aku bingung saat itu. Kalut. Ku coba untuk menghubungi Rendy, tapi dia tidak pernah mau menjawab. Jujur aku tidak ingin langsung bicara dengannya di sekolah. Aku tidak punya cukup keberanian untuk mendengar secara langsung apa yang akan dikatakannya. Sebenarnya dia pernah menjawab sms-ku, tapi aku tidak yakin sepenuhnya terhadap apa yang ditulisnya! Aku butuh penjelasan langsung darinya, tapi aku sungguh takut………
Akhirnya, aku hanya bisa mengandalkan informasi dari Zai. Aku yakin aku tidak salah memilih orang untuk dimintai tolong. Dan setelah cukup lama memberi waktu pada Zai, dia memberiku kabar yang cukup membuatku sakit hati!
“Maaf Rin, sepertinya Rendy memang tidak mau melanjutkan hubungan kalian. Dia tidak mau bicara langsung sama kamu, karena katanya belum siap. Alasan utama katanya sich agama…Jelas banget agama kalian udah beda. Kamu Islam, dia Kristen. Nggak bakal bisa bersatu…”
Tes…tes…tes…
Tanpa terasa air mataku turun. Aku yakin bukan agama yang jadi alasan utama. Ada hal lain yang sengaja dia sembunyikan dan tidak ada satu orang pun yang tahu, termasuk aku.
Tak lama setelah hubunganku dengan dia selesai, dengan santainya dia kembali jalan dengan mantannya (selain Navila), Chyntia, yang sekaligus kakak kelasku. Tanpa perasaan dia ke mana-mana berdua dengan Chyntia, termasuk saat berada di hadapanku. Tuhan, sungguh sakit rasanya!
!!!!!
Selesai sudah kenangan itu terulang secara otomatis dalam anganku. Dan tak terasa dari tadi aku sudah banjir oleh air mata. Tanpa terasa pula, dua sahabat dekatku sudah ada di sampingku. Aku tenang dalam pelukan mereka.
“Sudahlah, Arini…Percuma kamu tangisi dia. Toh dia nggak menangisi kamu, dan dengan seenaknya dia malah jalan sama Chyntia. Nggak pantes cewek kayak kamu terus-terusan nangis karena cowok kurang ajar model Rendy! Bodoh banget kalau kamu terus-terusan terpuruk…Kamu itu cantik, dan pasti kamu bisa dapet yang jauh lebih baik dari Rendy……”
Yaaa…aku memang bodoh! Bodoh karena cintanya dan aku tak tahu sampai kapan aku akan tetap bodoh seperti ini?!
Tiba-tiba aku teringat kata-kata Rendy dulu, saat dia menasihatiku.
“Inget adikku, kakak nggak suka lihat kamu disakiti cowok!!”
Aku hanya tersenyum getir mengingat kata-katanya. Bohong semuanya!! Sekarang dia telah membuatku sangat sakit! Susah buatku untuk merasakan indahnya cinta lagi. Trauma. Perih. Sakit. Pedih.
Aku memang sakit, dan tidak ada satu orang pun yang bisa mengerti akan sakitku ini. Biarlah aku terus simpan rasa sakit ini, sendiri………(ReRe)
By : Ray Han

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini