Senin, 25 Mei 2009

PELANGI DI AMBANG AWAN

Di pelantaran malam, di sudut ruang yang terang lantaran bolamp, yang selalu terdengar melodi-melodi lembut mengalun menembus keheningan malam. Seperti malam yang sudah-sudah, Awan selalu menyempatkan waktu untuk sendiri di ruang khususnya itu. Ruang yang menampung curahan hati awan dengan berbagai bentuk karyanya, seperti lukisan, grafiti dan lagu-lagu ciptaannya. Tak ada seorang pun kecuali awan yang menginjakkan kakinya di ruang itu semenjak kurang lebih 1 tahun yang lalu.

Bel berbunyi menandakan jam pelajaran telah usai, awan berjalan ke arah taman kemudian menyandarkan punggungnya di batang pohon, angannya melayang terbang ke awang-awang, mengingatkannya pada seseorang yang kini ia nanti, penghuni hati di kala sunyi, penghuni jiwanya yang terpanah asmara.

“Dimana sih dia ?? perasaan dari tadi tak kutemukan senyum yang ku nanti!!! “Gumam Awan yang sejak tadi resah menunggu.

“Dek dek…….lihat lala nggak ???”

Awan bertanya secara tiba-tiba pada teman sekelas lala yang melintas di hadapannya dengan nada khawatir, karena sejak satu jam yang lalu tak di jumpai wajah yang di nantinya.

“Ooow…….. si lala memang sudah 3 hari ini nggak masuk sekolak kak,”

“Lhah, memangnya kenapa dek ? sakit ?”

Teman sekelas lala menggelengkan kepala dan buru-buru meninggalkan Awan. “Aku pergi dulu kak, buru-buru nich…….”

“Ditanya kok malah pergi sih? Dasar !”

Kemudian Awan pulang dengan perasaan kecewa. Pikirannya tetap tertuju pada lala, ia bertanya-tanya dalam hati mengapa beberapa hari ini lala tidak masuk sekolah, padahal Awan merasa kangen jika tidak bertemu dengan lala. Nampaknya lala sudah mengisi hati Awan.

Seperti malam yang sudah-sudah, Awan menyempatkan dirinya untuk berkunjung di ruang khususnya itu. Gelapnya malam ini seakan mengerti betapa gundah dan risaunya hati Awan. Derasnya hujan yang membasahi bumi sederas tangisan dalam hatinya. Kerasnya suara petir yang menembus dinding-dinding ruang itu sekeras teriakan hatinya. Bagai gemuruh angin yang tak terhenti, begitulah suasana hatinya yang telah dilanda rindu oleh sang kekasih hati yang selama ini ia nanti.

Tak tak tak………. Awan tersentak oleh suara itu. Dengan langkah gontai Awan membuka pintu, ternyata bundanya telah berdiri di depan pintu dengan wajah khawatir ketika melihat raup muka anak semata wayangnya itu.

”Ada apa Bunda mengetok pintu ?”

“Kamu kenapa nak? Kok aneh gitu ?”

Awan hanya terdiam, ia berfikir apakah ini saatnya ia bercerita tentang perasaannya. Awan memang dekat dengan Bundanya, ia sering curhat apa saja pada Bundanya, namun kali ini rasanya begitu berat baginya untuk bercerita tentang perasaannya pada lala.

”Ada apa Awan? Tidak biasanya kamu menyembunyikan sesuatu dari Bunda. Hmm…..pasti ini masalah ………”

Tiba-tiba Awan memotong pembicaraan Bundanya, ”Bunda ingat nggak dulu Bunda pernah bilang kalau pelangi itu simbol kebahagiaan?”

”Iya nak, memangnya kenapa tiba-tiba kamu bertanya itu?” tanya Bunda dengan nada penasaran.

”Pelangi…………, Awan suka pelangi !! Awan menjawab dengan lesu

”Ha…ha….ha….., kamu ini sudah besar kok ya masih berkata begitu ? seperti dulu waktu kamu masih kecil saja, sukanya lihat pelangi’. Ledek Bunda sambil tertawa kecil.

”Ini beda Bun!! Bukan pelangi itu yang aku maksud!! Awan suka sama cewek yang namanya pelangi, sudah hampir satu tahun aku memendam perasaanku ini”.

”Wah……wah…….., ternyata anak Bunda ini sedang Falling in love ya ? terus kenapa mukamu kusut gitu ?”

Awan hanya menggelengkan kepala.

”Memangnya kamu kenal Pelangi dimana ? cerita dong sama Bunda!! Desak bunda pada Awan yang masih terdiam.

“Pelangi itu adek kelas Awan dia biasa di panggil dengan panggilan Lala. Dulu waktu MOS aku pernah ngerjain dia habis-habisan sampai dia nangis, aku sampai nggak tega melihatnya. Setelah MOS yang berisi cacian, pujian, serta ucapan terima kasih yang ditunjukkan kepadaku, di surat itu tertulis pengirimnya berinisial “P-L” dan pikiranku langsung tertuju pada pelangi adek kelasku yang dipanggil dengan nama lala itu”. Cerita Awan terhenti sejenak.

“Terus apa kamu sudah berkenalan dengannya?” Tanya Bunda penasaran.

”Sudah, besoknya aku langsung nanya lala terus kita kenalan dech……, dan selama ini aku dan dia Cuma saling tegur sapa dan lempar senyum saja. ”Wajah Awan nampak berseri-seri.

”Jadi masalahnya sekarang kamu pasti pengen mengungkapkan perasaanmu ke dia kan ?” Tanya Bunda sambil melirik Awan.

Awan hanya tersenyum.

”Bunda rasa sudah saatnya kamu mengungkapkan itu semua.satu tahun bukan waktu yang singkat lho………….”

”Tunggu minggu depan ketika hari ulang tahunnya.” Jawab Awan dengan penuh keyakinan.

Buih cinta ronakan asmara asmara yang larutkan hatinya dalam keindahan melunturkan gundah kelana pelara jiwa yang telah lama terpendam jua. Seolah ia merangkai bintang yang menawan tawarkan terpendam sekian lama.

”Lala, boleh kita bicara sebentar ?”

”Iya kok ada apa ?”

Lala melempar senyum manisnya pada Awan. Parasnya sungguh indah sekali, meresap indah dalam senja di sore itu, senyumnya menggetarkan jiwa hingga Awan terpaku sejenak, kemudian melanjutkan pembicaraan dengan sedikit salah tingkah gitu dech.

“Besok sore sepulang sekolah aku pengen ngajak kamu ke pantai yang dulu tanpa sengaja kita pernah berjumpa di sana,” masih ingat kan ?”

“Ooo……. tempat itu kak ?”

Awan menganggukkan kepala “Gimana ? bisa ya ! Please……”

“Hmm…. Baik lah kak, nampaknya mama juga mengijinkanku,”

“Nah, gitu dong! Ada yang ingin ku sampaikan.”

“Tapi besok langsung ketemu di sana aja ya kak, aku ingin berangkat sendiri, nanti pulangnya kakak boleh anter aku. “pinta Lala pada Awan.

“Oke deh, no problem! Jawab Awan dengan semangat

“Lala pulang dulu kak, sudah di tunggu mama di rumah.”

“Iya, hati-hati di jalan dek ! “Pesan Awan pada Lala dengan gaya sok perhatiannya.

Lala hanya melempar senyum manisnya pada Awan kemudian pergi menuju tempat parkir dan meninggalkan sosok Awan yang masih memandanginya di lorong sekolah.

Dengan penuh semangat Awan berkemas-kemas, ia menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat matang. Awan mengusung seluruh karya-karyanya yang ia simpan di ruang khususnya ke dalam mobil, ia juga telah menyiapkan kado special untuk hari ulang tahun Lala, tak lupa kue ulang tahun berbentuk hati ia sertakan juga.

Sesampainya di pantai Awan segera menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan Lala. Karya-karyanya telah tertata sangatlah menawan di atas pasir putih di tepian pantai. Diiringi desir angin dan irama ombak, sayup terdengar lantunan syair lagu yang dialunkan oleh Awan dengan permainan gitar di pangkuannya.

Jam sudah menunjuk pukul 4 sore, namun sosok Lala yang di nantinya tak kunjung datang. Bagi Awan sedetik menunggunya seperti seharian, berkali Awan melihat jam demi memburu waktu tak terlihat tanda kehadiran Lala, yang semakin menyakinkan Awan bahwa Lala tak datang. Hampa, kesal, dan amarah seluruhnya ada di benak Awan. Tetap ia pandangi alam sekitarnya, senja telah tiba. Mentari tenggelam di gunung yang biru, langit merah berwarna sendu.

Tiba-tiba Bunda Awan datang dan memeluk tubuh anak semata wayangnya itu dengan muka sendu.

“Bunda, kenapa bunda malah yang datang ke sini ? ”Tanya Awan dengan keheranan.

Tiba-tiba bunda berkata lirih. ”Seperti asalnya, pelanngi itu hanyalah biasan dari terik matahari yang dibayangi gerimis. Pelangi telah menjadi fatamorgana, ia tak pernah ada.”

”Maksud Bunda apa berkata seperti itu ?” Tanya Awan dengan nada sedikit menyentak dan melepaskan pelukan Bundanya.

”Nak, nampaknya kali ini kebahagiaan belum berpihak kepadamu. Sekarang juga Bunda akan mengajakmu menemui Lala”.

”Lala dimana Bun?”

”Ayolah, nanti kamu juga akan tahu. Tinggalkan dulu semua ini!”

”Tapi ini semua persembahan Awan untuk Lala, untuk menyatakan perasaanku padanya sekaligus ucapan ultah untuknya.”

”Tenanglah nak, Bunda sudah menyuruh orang untuk menjaga ini semua. Dan sekarang ikutlah Bunda !” Pinta Bunda pada Awan.

Dalam perjalanan Awan bertanya-tanya dalam hati tentang dimana keberadaan Lala sekarang dan mengapa Lala tidak menemuinya di tempat yang telah di sepakati. Tak lama kemudian ternyata mobil yang ditumpanginya berhenti di rumah Lala. Saat itu juga di lihatnya sebuah mobil jenazah dengan beberapa orang sedang menangis. Awan kembali bertanya-tanya siapa yang ada dalam mobil jenazah itu. Ia melihat jenazah yang tertutupi oleh kain kafan di keluarkan dari mobil tersebut. Awan semakin penasaran, apa yang sebenarnya terjadi.

”Lihatlah jenazah itu nak, lihat wajahnya untuk yang terakhir kalinya!” pinta Bunda pada Awan.

Awan hanya terdiam dan kemudian perlahan membuka kain kafan tersebut. Betapa terkejutnya ketika ia menyaksikan wajah yang telah ia nanti-nanti terbujur kaku tak berdaya di atas pembaringan. Awan terpaku menatap wajah itu, dia mematung tak sanggup urung, menangis pun ia tak mampu, air mata terasa terkurung. Awan menatap orang di sekelilingnya dan bertanya dengan terbata-bata

”Buun……nda, ini ?”

Bunda merangkul Awan. ”Lala meninggal karena kecelakaan saat perjalanan menuju pantai.”

Awan seakan tak percaya akan semua ini, langsung ia melaju dengan mobilnya ke arah pantai. Awan tetap mencari-cari Lala di pantai itu ditemani oleh kegelapan malam. Dia mengalunkan lagu-lagu ciptaannya untuk Lala sampai akhirnya ia tertidur dengan duduk bersandar pada pohon kelapa dan gitar di pangkuannya. Dalam tidurnya Awan bermimpi, ada sebuah perahu besar yang memuat semua karya-karya ungkapan hatinya untuk Lala, kemudian ia melihat Lala naik ke dalam perahu tersebut dengan melempar senyum ke arah Awan dari satu kalimat yang keluar dari bibir mungilnya “Love You Too.” Perahu itu semakin menjauh terbawa arus air, tenggelam hilang bersama pandangan.

Awan terbangun, seolah ada yang memeluk pundaknya untuk membangunkan dari tidurnya. Awan baru benar-benar sadar dan percaya bahwa pelangi atau Lala telah pergi untuk selama-lamanya.

Lirih berkata, “Pelangi adalah simbol kebahagiaan. Selalu indah. Tapi sayang, pelangi tak pernah melengkung di atas kepala orang yang melihatnya. Ia selalu berada di atas kepala orang lain”.

By : AULIA TRIA MAHARDHIKA

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini