Minggu, 24 Mei 2009

Menunggu kepastian yang tak pasti

Aku tetap tersandarkan di samping tempat tidurku, entah apa yang ku bayangkan. Aku tetap memikirkan arah kisah cintaku. Ini yang siap hari kulakukan setelah sholat Isya’, memikirkan hal yang tak pasti. Walaupun selalu ada di setiap doa-doaku, bayangan tentangnya tak pernah lepas dariku.

“Tok,tok,tok…! Na… ayo keluar makan malam, kami sudah menunggu. Cepatlah kau turun.” teriak umi didepan pintu kamarku. Sesegera mungkin aku melepas mukenaku dan membuyarkan lamunanku.

“Iya mi, sebentar.”sahutku. aku segera turun menuju meja makan.

Seperti biasa, Aini dan Agil sudah duduk manis di meja makan.

“Kak Aina lama banget sih, kenapa tadi langsung kabur selesai sholat berjama’ah?pasti ngelamun lagi.” Aini langsung nyletuk setelah aku duduk.

“Iya mbak,nggak baik kalo mbak kebanyakan nglamun gitu. Ntar kesambet loh.” Sahut Agil. Aku manyun dengar celotehan adik-adikku yang sudah tidak asing lagi.

“Apa sih yang tiap hari kamu pikirkan Na?apa tentang Agung lagi?.” Tanya Umi. Aku hanya diam mendengar partanyaan umi.

“Abi, silakan memimpin doa. Nanti saja setelah makan baru dibicarakan.” Aku segera mengalihkan pembicaraan. Aku paling mlas kalau semua sudah membicarakan tentang sikapku. Paling-paling nanti setelah makan aku langsung kembali kekamar, Aini juga langsung menuju kamarnya dan Agil sudah pasti langsung keruang perpustakaan dilantai atas.

Umi sibuk membereskan meja dan Abi segera masuk keruang kerjanya.

“Aina benar, sudahlah kita makan dulu.”jawab Abi.

Mkan malam berjalan lancar dan tanpa suara.

“Abi, Umi, ada yang ingin Agil sampaikan. Bisakah setelah ini kita semua berkumpul di ruang keluarga?”

Abi dan umi hanya mengangguk.Sudah menjadi tradisi setiap ada yang dibicarakan oleh salah satu keluarga selalu dibicarakan diruang keluarga sehabis makan malam. Tak ada yang heran lagi apa yang akan dibicarakan Agil. Dugaanku paling-paling hanya membicarakan tentang kuliah dan pekerjaannya.

Kami sudah berkumpul di ruang keluarga, TV selalu dinyalakan oleh abi, agar suasana pembicaraan menjadi santay.

“Abi,Umi, Agil sudah besar. Agil juga sudah memiliki pekerjaan yang bagus.” Agil memulai pambicaraannya. Kami hanya mendengarkannya hingga ia selesai bicara.

“Agil ingin menikah Bi.”

Apa yang dikatakannya membuatku melotot. Abi dan Umi pun juga terlihat kaget.

“Abi, Agil tidak mau berpacaran. Tentu saja Abi dan Umi juga tidak ingin Agil berpacaran. Selama ini aku dan Azisya hanya dekat dan sebatas teman saja. Tapi kami juga tidak dapat memungkiri kalau kami saling suka. Seminggu yang lalu Ayahnya Azisya meminta kepastian lagi padaku. Jika aku benar-benar serius dengan Azisya maka menikahlah. Jangan sampai nantinya malah membuat kami jadi terjerumus dalam kemaksiatan. Sebenarnya sudah sejak tiga tahun yang lalu, sejak Agil dianggat menjadi asisten dosen dikampus Ayah azisya sudah menanyakannya padaku.”

Kami hanya terdiam dan mendengarkannya.

“Abi, Agil ingin melamar Azisya. Menurut Abi, Umi dan mbak Aina sudah matangkah Agil untuk menikah? Maafkan aku mbak Aina, bukan maaksudku untuk meloncati mbak Aina. Sudah tiga thun aku mengurungkan niatku untuk melamar Azisya karna aku tidak mau meloncati mbak. Sudah terlalu lama mbak, aku membuat Azisya menunggu. Dan aku tidak ingin membuatnya menunggu lagi. Dengan segala hormatku pada mbak Aina, bolehkah aku menanyakan sesuatu?”

Apa yang dikatakan Adikku membuatku tersentak kaget, aku tak menyangka telah membuat adikku menderita. Subhanallah. Aku dan Agil hanya berjarak 2tahun, dan Aini berjarak jauh sekali, Aini masih kelas 3 SMA. Dan aku sudah 27 tahun. Agil memang sudah matang menurutku, diantara kami bertiga, dialah yang paling cerdas. SMP dan SMA hanya ia tempuh selama 2 tahun. Dia memang pintar dan cerdas. Setelah lulus SMA dia langsung diterima di fakultas Mikrobiologi di ITB yang saat itu umurnya masih 17 tahun. Setelah kuliah selama 5 tahun dia diangkat menjadi asisten dosen.

“Iya, apa yang akan kau tanyakan? Insyaallah mbak akan menjawabnya.”

“Apa yang membuat mbak menanti? Apakah mbak akan tetap menunggu mas Agung yang tak kunjung kembali? Mbak, Mbak masih bisa mendapatkan yang lebih baik walaupun itu bukan yang terbaik. Maafkan Agil dengan semua kelancangan Agil mengatakan hal ini. Tapi Agil sudah berjanji pada diri sendiri kalau Agil tidak akan meloncati mbak Aina, Agil akan menunggu mbak Aina menikah, barulah Agil juga akan menyusul mbak Aina.”

Pertanyaan Agil membuatku tersentak. Aku bingung akan mengatakan apa, seperti yang sebenarnya mereka tau, ada seseorang yang kunanti.

“Iya Na, apa yang sebenarnya kau nanti, sudah lama kau sendiri dengan lamunanmu itu,. Umi tau, kau sedang menunggu Agung, tapi apa kau akan terus menunggunya? Menunggu ketidak pastiannya untuk menikahimu nak?” Umi juga ikut bertanya.

“benar mbak, mbak tuh cantik, sholeh, baik dan sudah mapan. Apa lagi yang mbak tunggu?” toh banyak sekali laki-laki yang mengantri diluar sana. Nunggu apa lagi coba?” sahut Aini.

“ Aini? Jangan lancang ngomong sama mbakmu. Hormati orang yang lebih tua. Ini bukan saatnya bercanda.” Agil memasang raut wajah yang kesal.

“Anakku… apa yang dikatakan Umi dan adik-adikmu itu benar. Sekarang Abi tanya, apa kau akan terus seperti ini nak? Apa kau tega membiarkan adikmu juga ikut menanggung akibatnya? Abi tau Agung adalah ank yang baik. Dan Abi tau apa yang kau rasakan selama ini. Sungguh, Abi merasa sedih jika kau terus-terusan seperti ini. Sekarang, Abi minta, menikahlah nak, sudah saatnya Abi melepas tanggung jawab Abi pada anak-anak abi… abi ingin melihat anak-anak abi bahagia dengan keluarganya, Abi ingin melihat pernikahan kalian, menikahlah nak!”

Apa yang dikatakan Abi membuatku mengerti semuanya. Ternyata aku telah membuat adikku menunggu hingga sekian lama, membuat Umi cemas dan khawatir, membuat Aini jengkel karna sehabis sholat Isya’ aku pasti melamun. Dan yang paling membutku terharu, aku telah membuat Abi sedih. Bodohnya aku tak pernah menyadari itu.

“ Anakku, bukan maksud Abi untuk memaksamu menikah. Tapi pikiranlah segalanya nak. Jodoh memang ada di tangan Allah. Abi tidak akan memaksamu. Kau sudah besar, dan sudah bisa menentukan jalanmu sendiri, pikirkanlah dulu.”

“Iya mbak, agil sama sekali tidak bermaksud lancang. Agil hanya tidak tau harus bagaimana lagi, Agil bingungg mbak, Zisya sudah terlalu lama menunggu. Agil tidak ingin membuatya menunggun lagi.”

Aku hanya tertunduk, perasaanku campur adku, aku tak tau harus bagaimana.

Dengan terbata dan bibir yang gemetar aku berkta. “ berikan aku waktu untuk memikirkannya Abi, Biarkan Aina meminta petunjuk Allah. Maafkan aku adikku, maafkan mbakmu ini yang tak tau apa yang kau alami. Maafkan aku.”

“Iya Na, Insyaallah Allah akan menunjukkan jalan yang terbaik bagimu nak.” Kata umi.

“Kami akan menunggu jawabannya.” Sahut Abi dengan sayup wajahnya yang teduh dan penuh kesabaran.

Aku langsung kekamar, entahlah aku tak dapat memikirkannya lagi. Apa yang dikatakan Abi terus terngiang ditelingaku. Aku tak dapat memejamkan mata. Kulihat jam dinding, sudah pukul 01.00. segera ku ambil air wudhu dan sholat Istikhara dan sholat Tahajud. Aku ingin meminta petunjuk oleh allah.

Aku terus memikirkannya semalaman, entahlah apa keputusan yang akan ku ambil, Aku harus mengambil keputusannya sekarang. Aku tak ingin membuat Adikku menunggu lagi. Harus kuputuskan sekarang juga.

Keesokan harinya, selesai sholat Isya’ berjamaah aku tidak langsung pergi kekamar. Kunanti makan malam bersama keluarga, hari ini makan malam sedikit berbeda. Ada Azisya disini. Zisya memang sudah diterima dikeluarga kami. Dan sudah tidak asing lagi ia ikut makan malam bersama kami.

Aku merasa sangat bersalah saat melihatnya, aku telah membuatnya menunggu terlalu lama.

“Maafkan aku.”satu kata yang ku ucapkan untuk membuka pembicaraan.

Semua mata diruangan itu tertju kepadaku.

“Maafkan aku umi, mungkin aku telah membuat umi cemas. Maafkan aku adikku, terutama Azisya, karna aku kau menggu Agil hinggasekian lamanya. Sungguh, betapa bodohnya aku, sama sekali tak terfikirkan olehku jika kau akan separti ini Agil. Sekarang aku sudah mengambil keputusan. Menikahlah, jangan biarkan cintamu menunggu hanya karna aku ini.”

“tidak mbak, tidak akan. Aku tidak ingin lancang meloncati mbak. Aku ingin melihat mbak di pelaminan lebih dulu dari pada aku.”agil menjawab dengan raut wjah yang serius.

“ tidak adikku, sudah cukup aku membuatmu menjadi seperti ini. Kau laki-laki, jadilah seorang laki-laki yang bijak. Menikahlah. Mbak ingin tetap menunggu mas Agung, mas Agung sudah berjanji padaku, ia akan meminangku sepulang dari kuliahnya di Jepang. Aku pun sudah berjanji padanya akan setia menunggunya.”

“Zisya ikhlas mbak jika harus menunggu, Zisya ikhlas menunggu mas Agil seperti mbak ikhlas menunggu mas Agung.”

“Tidak Sya.. sudah terlalu lama kau menunggu hanya karna aku. Sudahlah, menikahlah, mbak baik-baik saja. Menikahlah. Abi, inilah keputusan Aina, Aina senang dan menikmati kesendirian Aina. Aina tidak siap untuk menikah dulu, biarkanlah Agil mendahuluiku. Maafkan segala keputusan Aina ini, InsyaAllah Allah pasti memberiakn yang terbaik pada Aina dan semua akan indah pada waktunya.”

“ Abi menghargai semua keputusanmu nak, jika memang itu yang kau inginkan.” Ucap abi

“ Umi juga menyerahkan semua keputusan padamu anakku.”

“ Sekali lagi maafkan Aku. Aina akan tetap menunggu Mas Agung. Menunggu kepastian yang mungkin tidak pasti, karna tidak ada yang pasti didunia ini.”

“I’m still here waiting for you.”

By : Retno Vatika Pratami ^_^

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini