Senin, 25 Mei 2009

RODA KEHIDUPAN SANG DEWI

Terik matahari siang itu tak meleburkan niat seorang gadis kecil penjual kue kering untuk menjajakan dagangannya, dengan langkah penuh lelah Ia berjalan dari rumah ke rumah, keringat yang tak henti membasahi tubuhnya, tak ia rasakan. Ia tak menghiraukan dahaga yang menghampirinya demi beberapa rupiah yang ia dapatkan dari penjualan kue kering buatan Ibunya. Terkadang kue-kue itu pun tak habis terjual, seperti hari ini. Ia pulang membawa sisa dagangannya. Dengan wajah kecewa ia menghampiri Ibunya yang sedang mencuci pakaian titipan tetangganya, karena pekerjaan Ibunya hanya sebagai tukang cuci pakaian.

“Bu…!!”, seru Dewi (nama gadis kecil itu) dengan lirih.

“Ada apa anakku? Apakah kuemu hari ini masih tersisa?” tebak seorang wanita paruh baya tersebut.

“Iya Bu. maafkan Dewi..!!”, jawab Dewi semakin lirih.

“Apa yang harus dimaafkan? Sudahlah ini bukan salahmu. Memang itu sudah menjadi rejeki kita hari ini, Aaaaagh……..,” tiba-tiba terlihat wajah ibunya yang pucat seperti menahan rasa sakit dan tangannya memegangi perutnya.

“Ibu kenapa? Ibu sedang sakit?”

“Tidak, Ibu tidak apa-apa,”

“Sudahlah Bu, Ibu istirahat saja!! biar Dewi yang melanjutkan pekerjaan Ibu,”

“Tidak usah, kamukan besok sekolah, lebih baik segeralah belajar!!”

“Tapi….., ya sudahlah,jika itu perintah Ibu, Dewi akan melaksanakannya, Ibu benar tidak apa-apa kan??”

“Iya, Ibu tidak apa-apa anakku,”

Dewi pun segera pergi kekamar untuk belajar.

αJJα

Keeasokan harinya seperti biasa sebelum Dewi berangkat sekolah, Dewi berpamitan dengan ibunya terlebih dahulu. Namun saat Dewi berpamitan tiba-tiba ibunya pingsan. Dewi yang panik kemudian bergegas mencari bantuan kepada tetangganya. Sesegera mungkin ibu Dewi dibawa ke puskesmas terdekat. Karena fasilitas yang kurang memadai, pihak puskesmas menyarankan untuk membawa ibu Dewi ke rumah sakit. Dengan resah Dewi menunggu ibunya didepan ruang UGD. Setelah beberapa saat lamanya, dokter yang memeriksa ibunya pun keluar, Dewi segera menanyakan keadaaan ibunya pada Dokter tersebut.

“Bagaimana keadaan Ibu saya Dok? Beliau sakit apa?” Tanya Dewi dengan cemas.

“Setelah saya periksa, saya menemukan ada sel kanker didalam rahim Ibu anda,”

“Apakah itu masih bisa untuk disembuhkan secara total Dok?”

“Kemungkinan untuk sembuh masih ada. Karena sel tersebut masih belum terlalu kronis dan belum menyebar keorgan yang lainnya,”

“Lalu bagaimana cara menyembuhkannya, Dok?”.

“Salah satu caranya adalah Ibu anda harus menjalani operasi pengangkatan kantung rahim,”

“Operasi pengangkatan kantung rahim, Dok?” sentak Dewi kaget.

“Iya, memang ada apa?”

“Ti…tidak Dok, memang berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk melaksanakan operasi tersebut?”

“Mengenai keterangan biaya, anda bisa menanyakan pada bagian administrasi rumah sakit, karena hal itu bukan kewenangan seorang Dokter, tapi saya ingatkan untuk tidak terlalu lama,”

“Baik Dok, saya mengerti,”

“Baiklah masih banyak pasien yang menanti saya, saya tinggal dulu, semoga Ibu anda dapat melawan sakitnya,”

“Terima kasih Dok!!”

Dokter tersebut tersenyum sambil meninggalkan Dewi. Dewi pun segera bergegas menuju bagian administrasi rumah sakit untuk menanyakan biaya operasi untuk ibunya. Betapa terkejutnya ia saat tahu bahwa biaya operasi tersebut sebesar Rp 20.000.000. Dari mana ia akan mencari uang sebanyak itu?

Tiba-tiba ketika ia hendak bergegas pergi. Ia bertemu dengan temannya yang bernama Desy yang sedang bersama dengan kakaknya.

“Hai Dewi, sedang apa kamu di sini? Hari ini juga Kamu tidak masuk sekolah, kenapa?” Tanya Desy.

“Iya, aku sedang mendapat musibah, Ibuku dirawat disini,” curhat Dewi.

“Oh ya? memang Ibumu sakit apa?”

“Beliau sedang sakit kanker rahim,”

“Astaga? Lalu apa Ibumu akan dioperasi?”

“Dokter menyarankan begitu, tapi bagaimana caranya aku bisa mendapatkan uang untuk biaya operasi Ibu? Sedangkan kamu tahu sendiri aku bisa sekolah saja itu karena bea siswa dari pihak sekolah,”

“Mudah, kamu ikut aku saja, pasti dalam semalam kamu bisa mendapatkan uang banyak!!” ceplos kakak Desy.

“Huuss!! kakak ini ngomong apa sih? Jangan ajari Dewi untuk menjadi seperti kakak, Dewi ini anak baik-baik. Sudahlah, Wi, tak usah Kamu dengarkan kata-kata kakak yang ngawur itu. Eh.., sudah dulu ya Wi, aku sudah harus pulang nih, aku doakan semoga Ibumu lekas sembuh dan besok aku akan meminta bantuan teman-teman dan guru-guru untuk menggalang dana demi meringankan biaya rumah sakit Ibumu,”

“Terima kasih banyak Desy, Kamu memang temanku yang sangat baik,”

αJJα

Keesokan harinya Dewi pergi ke sekolah untuk meminta izin atas absentnya selama beberapa hari mendatang, kemudian ia bergegas mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang. Mulai dari menjadi loper Koran dipagi hari, sampai menjadi pencuci piring disebuah rumah makan hingga larut malam. Sepulangnya dari kerja ia menemani ibunya di rumah sakit sepajang malam. Dewi memikirkan kata-kata kakak Desy tempo hari, karena ia tahu dengan uang yang ia peroleh dari pekerjaannya akan memerlukan waktu yang lama untuk mengumpulkannya. Dalam hati Dewi berkecamuk apa yang harus ia lakukan untuk pengobatan ibunya. Sedangkan jumlah uang sumbangan hasil penggalangan dana dari teman-teman dan guru-gurunya hamya cukup untuk biaya inap di rumah sakit selama beberapa hari. Namun, Dewi juga tahu pekerjaan yang dimaksud oleh kakak Desy.

Dewi semakin gelisah, batinnya berperang melawan fikirnya. Disatu sisi ia ingin sekali menyelamatkan nyawa ibunya. Tapi, disisi lain ia tahu bahwa itu adalah pekerjaan yang sangat hina. Akhirnya ia memutuskan pilihan yang akan ia tempuh demi ibunya. Dengan keringat dingin mengucur dari dahinya, dengan menghela nafas dalam-dalam, ia mengangkat handphonenya untuk menelepon kakak Desy. Mereka berdua sepakat untuk bertemu disebuah kafe nanti malam.

Sore itu juga Dewi bersiap untuk pergi menemui kakak Desy. Melihat ibunya yang terbaring lemah, hati kecil Dewi berkata, Ibu maafkan Dewi…, mungkin jalan yang Dewi tempuh ini salah. Tapi, harus bagaimana lagi? Dewi sayang Ibu, Dewi nggak mau kalau Ibu terus-terusan seperti ini, Dewi ingin Ibu segera sembuh.

Dengan tergesa ia berangkat. Hingga saat ia hendak menyeberang jalan, tiba-tiba, Ciiiit…….!!!!’ bunyi rem mobil berdecit.

Karena kaget, Dewi pun terjatuh tepat di depan mobil yang berdecit tadi. Terlihat seorang pria dewasa keluar dari mobil tersebut. Betapa terkejutnya pria itu saat hendak menolong Dewi untuk berdiri. Ia melihat sebingkai foto yang terjatuh dari tas Dewi. Dengan wajah terpukau, pria itu mengambil foto tersebut. Dewi yang terheran memberanikan diri untuk bertanya.

“Maaf, apakah paman kenal dengan orang yang ada difoto itu?” Tanya Dewi.

“Iya, aku sangat mengenalnya! Lalu kamu siapa? Kenapa kamu punya foto Hani istriku?”

Wajah Dewi pun menjadi pucat setelah mendengar perkataan pria itu. Dengan nada terbata Dewi menjawab.

“Beliau adalah Ibu saya,”

“Ibumu? Berarti kamu adalah Dewi anakku!!” Teriak pria itu kegirangan.

“Maksud paman?” Tanya Dewi yang masih terlihat bingung.

“Aku ini Adi, Ayahmu, kamu tahukan nama Ayahmu?” Jawab pria itu meyakinkan Dewi.

“Tapi……, jika benar Ayahku adalah paman, kenapa selama ini paman meninggalkan saya dan Ibu?” Kata Dewi dengan lirih.

“Maafkan Ayah anakku, Ayah tidak bermaksud meninggalkanmu dengan Ibumu, tapi kakekmu yang tak merestui pernikahan Ayah dengan Ibumu, beliau memisahkan kami saat kamu berumur 2 tahun. Dan selama 15 tahun ini Ayah selalu mencarimu dan Ibumu kemana-mana,” cerita pria itu.

“Jadi benar paman ini adalah Ayahku?” Kata Dewi yang masih tak percaya.

“Iya, jangan panggil Aku paman, panggillah Aku Ayah!!”

“Baiklah, Ayah……,” seraya Dewi memeluk tubuh pria itu.

“Oh ya Anakku? Dimana Ibumu saat ini?”

“Tuhan mempertemukan kita disaat yang tepat. Ayah, saat ini Ibu sedang terbaring lemah di rumah sakit, beliau mengidap penyakit kanker rahim dan Dokter menyarankan untuk melakukan operasi sesegera mungkin. Tapi, Dewi belum punya biayanya, Ayah,” papar Dewi dengan nada memelas.

“Tenang saja, biar Ayah yang membereskan semuanya. Besok Ayah janji Ibu pasti sudah dioperasi,”

“Terima kasih Ayah, Dewi sayang Ayah…!!”

Dewi pun mengurungkan niatnya untuk menumui kakak Desy, karena ia telah menemukan titik terang dari permasalahannya.

αJJα

Keeseokan harinya, ayah Dewi mempersiapkan semuanya. Siang itu juga ibu Dewi dioperasi. Dan syukurlah operasi tersebut berjalan dengan baik dan lancar. Beberapa hari setelah operasi ibu Dewi diperkenankan untuk pulang. Untuk menyambut kepulangan ibunya, Dewi dan Ayahnya mempersiapkan sebuah kejutan kecil untuk ibunya. Betapa terkejutnya sang ibu ketika melihat suaminya yang telah sekian lama menghilang, kini ada dihadapannya dan berkumpul bersama dengan keluarganya.

Sejak saat itu kehidupan Dewi berubah drastis. Dari kehidupan yang berkekurangan berubah menjadi sangat dan sangat berkecukupan. Dengan tersenyum lebar, hati kecil Dewi berbisik.

“Memang, kehidupan ini bagaikan roda yang berputar, ada kalanya kita dibawah dan ada kalanya kita diatas,”

Oleh: Siti Nur Hanifah

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini