Minggu, 31 Mei 2009
Pengumuman nomor urut wapres dan cawapres 3 pasangan pengikut pemilu 2009
Setiap capres dan cawapres melakukan gerilya
tiap pasangan capres dan wapres secara cepat mengumumkan nomor urut mereka pada kubu masing masing.
Pasangan mega-prabowo mendapat urutan nomor urut 1 "nomor 1 itu nomor b
agus" kata mega.
kemudian pasangan SBY-budiono mendapat nomor urut 2 "menjadi presiden kedua kalinya, lanjutkan" kata salah satu ketua partai demokrat.
JK-Wiranto mendapat nomor urut terakhir yaitu nomor urut 3 "nomor 3 itu menyimbulkan kebaikan" pendapat pendukung pasangan JK-WIN itu.
Read More..
tiap pasangan capres dan wapres secara cepat mengumumkan nomor urut mereka pada kubu masing masing.
Pasangan mega-prabowo mendapat urutan nomor urut 1 "nomor 1 itu nomor b
agus" kata mega.
kemudian pasangan SBY-budiono mendapat nomor urut 2 "menjadi presiden kedua kalinya, lanjutkan" kata salah satu ketua partai demokrat.
JK-Wiranto mendapat nomor urut terakhir yaitu nomor urut 3 "nomor 3 itu menyimbulkan kebaikan" pendapat pendukung pasangan JK-WIN itu.
Sabtu, 30 Mei 2009
Kode rahasia handphone
Kali ini saya akan membahas kode-kode rahasia untuk ponsel nokia, kode tersebut di gunakan untuk menservis dan mengetahui tentang keaslian handphone.
yang pertama kita coba kode *#3370# : kode ini berfungsi untuk memaksimalkan kualitas suara (full rate codec) handphone anda, tapi dengan bertambahnya kualitas suara maka waktu bicara akan berkurang sekitar 5%. Jika ingin mematikan tekan tombol yang sama.
Kedua *#4720# kode ini berfungri untuk membuat handphne anda memiliki kualitas suara paling rendah dan meningkatkan waktu bicara sekitar 30%, untuk mematikan tekan tombol yang sama.
Yang ke tiga *#0000# tombol ini di gunakan untuk menampilkan info handphone anda. Jika tidak bisa maka coba *#9999#.
Yang keempat kita coba *#06# fungsi tombol ini untuk menampilkan nomor IMEI ponsel anda.
yang ke lima *#7760# untuk menampilkan serial number produk.
Ke enam *#7370# tombol ini berfungsi untuk mengembalikan settingan seperti awal, maka semua data akan terhapus (install ulang), tapi biasanya kode ini memungkinkan IC Ponsel anda rusak jika terlalu sering menggunakan ini, solusinya anda dapat memakai kode *#7780# fungsinya sama tapi tidak merusak IC.
Harus di ingat bahwa kode ini hanya untuk ponsel nokia symbian.
Read More..
yang pertama kita coba kode *#3370# : kode ini berfungsi untuk memaksimalkan kualitas suara (full rate codec) handphone anda, tapi dengan bertambahnya kualitas suara maka waktu bicara akan berkurang sekitar 5%. Jika ingin mematikan tekan tombol yang sama.
Kedua *#4720# kode ini berfungri untuk membuat handphne anda memiliki kualitas suara paling rendah dan meningkatkan waktu bicara sekitar 30%, untuk mematikan tekan tombol yang sama.
Yang ke tiga *#0000# tombol ini di gunakan untuk menampilkan info handphone anda. Jika tidak bisa maka coba *#9999#.
Yang keempat kita coba *#06# fungsi tombol ini untuk menampilkan nomor IMEI ponsel anda.
yang ke lima *#7760# untuk menampilkan serial number produk.
Ke enam *#7370# tombol ini berfungsi untuk mengembalikan settingan seperti awal, maka semua data akan terhapus (install ulang), tapi biasanya kode ini memungkinkan IC Ponsel anda rusak jika terlalu sering menggunakan ini, solusinya anda dapat memakai kode *#7780# fungsinya sama tapi tidak merusak IC.
Harus di ingat bahwa kode ini hanya untuk ponsel nokia symbian.
Rabu, 27 Mei 2009
PowerQuest Partition Magic
License code untuk PowerQuest Partition Magic adalah.. :
Salah satu lisensinya :
PM800FR1-3193805303
Read More..
Salah satu lisensinya :
PM800FR1-3193805303
License code untuk PowerDVD Trial (without Dolby Features) 6.0
License code untuk PowerDVD Trial (without Dolby Features) 6.0
PowerDVD Trial (without Dolby Features) 6.0 , ini salah satunya :
DXUNB-LH8HF-DAZHF-HDUR5-K9FPR-7E23E
Read More..
PowerDVD Trial (without Dolby Features) 6.0 , ini salah satunya :
DXUNB-LH8HF-DAZHF-HDUR5-K9FPR-7E23E
License kode Microsoft office 2003 dan 2007
jika anda dibuat jengkel dengan peringatan memasukkan kode lisensi, mungkin kode ini dapat membantu anda mengatasi masalah itu, ini diperuntukkan bagi pengguna microsoft office 2003 dan microsoft office 2007
Untuk microsoft office 2003, ini kodenya :
GWH28-DGCMP-P6RC4-6J4MT-3HFDY
Untuk microsoft office 2007, ini kodenya :
KGFVY-7733B-8WCK9-KTG64-BC7D8
Read More..
Untuk microsoft office 2003, ini kodenya :
GWH28-DGCMP-P6RC4-6J4MT-3HFDY
Untuk microsoft office 2007, ini kodenya :
KGFVY-7733B-8WCK9-KTG64-BC7D8
License code windows 7 beta
Semoga dengan lisensi ini dapat membantu komputer / laptop anda keluar dari masalah registrasi, Serial number / kode lisensi yang pernah saya coba di software windows 7
untuk Windows 7 Beta 32-bit License codenya:
6JKV2-QPB8H-RQ893-FW7TM-PBJ73
TQ32R-WFBDM-GFHD2-QGVMH-3P9GC
GG4MQ-MGK72-HVXFW-KHCRF-KW6KY
4HJRK-X6Q28-HWRFY-WDYHJ-K8HDH
QXV7B-K78W2-QGPR6-9FWH9-KGMM7
untuk Windows 7 Beta 64-bit License codenya:
7XRCQ-RPY28-YY9P8-R6HD8-84GH3
JYDV8-H8VXG-74RPT-6BJPB-X42V4
482XP-6J9WR-4JXT3-VBPP6-FQF4M
JYDV8-H8VXG-74RPT-6BJPB-X42V4
D9RHV-JG8XC-C77H2-3YF6D-RYRJ9
RFFTV-J6K7W-MHBQJ-XYMMJ-Q8DCH
silakan dicoba insyaAllah bisa..
Read More..
untuk Windows 7 Beta 32-bit License codenya:
6JKV2-QPB8H-RQ893-FW7TM-PBJ73
TQ32R-WFBDM-GFHD2-QGVMH-3P9GC
GG4MQ-MGK72-HVXFW-KHCRF-KW6KY
4HJRK-X6Q28-HWRFY-WDYHJ-K8HDH
QXV7B-K78W2-QGPR6-9FWH9-KGMM7
untuk Windows 7 Beta 64-bit License codenya:
7XRCQ-RPY28-YY9P8-R6HD8-84GH3
JYDV8-H8VXG-74RPT-6BJPB-X42V4
482XP-6J9WR-4JXT3-VBPP6-FQF4M
JYDV8-H8VXG-74RPT-6BJPB-X42V4
D9RHV-JG8XC-C77H2-3YF6D-RYRJ9
RFFTV-J6K7W-MHBQJ-XYMMJ-Q8DCH
silakan dicoba insyaAllah bisa..
Senin, 25 Mei 2009
HUKUM BUDI, AKSI ≠ REAKSI
HARI INI UDARA begitu gerah dan lagi suasana kelas sedang suntuk. “Bletaak!!” suara buku paket Budi jatuh ke lantai. Budi masih saja melihat kalender di sebelah meja guru., dilihat hari ini adalah hari sabtu, hari yang paling melelahkan tiap minggunya ditambah pelajaran fisika yang menjadi menu utamanya yang membuat budi tidak mempunyai semangat belajar sedikitpun hari itu.
“Ah! Berat kali ini rasanya, pelajaran fisika di depan papan tulis itu tidak seperti halnya ayam goring yang lezat untuk disantap. “ Tuhan berikan aku kekuatan, berikan aku tetesan semangat hari ini,” gumam Budi dalam hati.
“Budi! Hayoo! Kamu ini dari tadi bapak perhatiin Cuma ngeliatin kalender aja, emang kamu udah bias pelajaran bapak, ha?” bentak Pak Legimin, guru fisika yang mengajar kelas budi siang itu.
“Ma….ma-maap Pak! Tadi saya khilaf!”
“Khilaf, khilaf dengkulmu kuwi! Ya sudah bud, sekarang perhatikan papan tulis kembali,!” kata Pak Legimin bersama dengan suara teman-teman Budi yang menertawakannya.
“Baik, pak!” kata Budi.
Suasana kembali tenang, kemudian Pak Legimin duduk kembali di tempatnya dan melanjutkan pelajaran fisika.
“Ok anak-anak, sekarang kita mulai sub-bab baru dari Hukum Newton tentang gaya ‘aksi-reaksi’ buka buku paket kalian
Setelah selang beberapa lama menjelaskan materi fisika, akhirnya Pak Legimin menuliskan kesimpulan pelajaran hari ini mengenai gaya ‘aksi-reaksi’ di papan tulis sebagai sesi terakhir pembelajaran ala pak Legimin.
Hukum Newton III berbunyi, jika benda A mengerjakan gaya pada benda B, maka benda B akan mengerjakan pada A, yang besarnya sama tetapi arahnya berbeda (berlawanan).
Contohnya, tank sedang menembak. Pada saat menembakan peluru, tank mendorong peluru kedepan (aksi). Sebagai reaksi, peluru mendrong tank ke belakang sehingga tank terdorong ke belakang.
“ok! Anak-anak jam pelajaran sudah selesai, kalau tidak ada pelajaran kita tutup. Wassalamualaikum Wr. Wb.” Kata pak Legimin mengakhiri pertemuan.
Jam menunjukkan pukul 13.00, bel pulang sekolahpun sudah berbunyi beberapa menit lalu, tapi tak seperti biasanya, budi belum beranjak dari tempat duduknya. Tas ditaruh dibawah kursi, kedua kakinya ia taruh diatas meja, tangan bersendekap layaknya seorang pemikir, matanya melototi hasil kesimpulan yang dituliskan oleh Pak Legimin tadi. Tidak seperti biasanya.
Oh, jadi begitu, gaya yang kita berikan pad suatu benda sebesar n akan memberikan reaksi yang kita dapatkan sebesar n juga, hemm…. Boleh-boleh, nah sekarang aku mau pulang!” gumam budi seraya beranjak dan kursinya dan ngeloyor meninggalkan kelas.
Sesampainya di depan pintu rumah, budi tidak langsung masuk ke dalam, tetapi ia duduk di kursi teras, di lihatnya sebuah pisang diatas meja di sampingnya.
“Aduh….duh… hari ini badanku gak enak banget, rasanya pegel-pegel,”gumam Budi sambil membuang kulit pisang yang barusan ia makan ke lantai.
Beberapa saat setelah membuang kulit pisang ke lantai, adik Budi yang masih kecil, Ipin, berlari-lari.
“gedubrakkkk!!! suara Ipin yang terjatuh terpeleset karena kulit pisang tadi.
Lantaran Ipin menangis dan mengerang kesakitan, mengagetkan Budi yang sedang bersantai.
“bah, adikku kenapa menangis?” kata Budi.
“uuuaa, kakiku!” teriak Ipin sambil memegang lututnya.
“alamak! Kulit pisang itu tow! Wah gawat nih, bias-bisa mati kalau tahu ipin nangis karna ulahku.”
“Budi kau apakan adikmu ini sampai menangis segala? hah!” kata bapak Budi membentak.
“Enggak-enggak Pak,
By : Edwin Ardiansyah
Read More..
“Ah! Berat kali ini rasanya, pelajaran fisika di depan papan tulis itu tidak seperti halnya ayam goring yang lezat untuk disantap. “ Tuhan berikan aku kekuatan, berikan aku tetesan semangat hari ini,” gumam Budi dalam hati.
“Budi! Hayoo! Kamu ini dari tadi bapak perhatiin Cuma ngeliatin kalender aja, emang kamu udah bias pelajaran bapak, ha?” bentak Pak Legimin, guru fisika yang mengajar kelas budi siang itu.
“Ma….ma-maap Pak! Tadi saya khilaf!”
“Khilaf, khilaf dengkulmu kuwi! Ya sudah bud, sekarang perhatikan papan tulis kembali,!” kata Pak Legimin bersama dengan suara teman-teman Budi yang menertawakannya.
“Baik, pak!” kata Budi.
Suasana kembali tenang, kemudian Pak Legimin duduk kembali di tempatnya dan melanjutkan pelajaran fisika.
“Ok anak-anak, sekarang kita mulai sub-bab baru dari Hukum Newton tentang gaya ‘aksi-reaksi’ buka buku paket kalian
Setelah selang beberapa lama menjelaskan materi fisika, akhirnya Pak Legimin menuliskan kesimpulan pelajaran hari ini mengenai gaya ‘aksi-reaksi’ di papan tulis sebagai sesi terakhir pembelajaran ala pak Legimin.
Hukum Newton III berbunyi, jika benda A mengerjakan gaya pada benda B, maka benda B akan mengerjakan pada A, yang besarnya sama tetapi arahnya berbeda (berlawanan).
Contohnya, tank sedang menembak. Pada saat menembakan peluru, tank mendorong peluru kedepan (aksi). Sebagai reaksi, peluru mendrong tank ke belakang sehingga tank terdorong ke belakang.
“ok! Anak-anak jam pelajaran sudah selesai, kalau tidak ada pelajaran kita tutup. Wassalamualaikum Wr. Wb.” Kata pak Legimin mengakhiri pertemuan.
Jam menunjukkan pukul 13.00, bel pulang sekolahpun sudah berbunyi beberapa menit lalu, tapi tak seperti biasanya, budi belum beranjak dari tempat duduknya. Tas ditaruh dibawah kursi, kedua kakinya ia taruh diatas meja, tangan bersendekap layaknya seorang pemikir, matanya melototi hasil kesimpulan yang dituliskan oleh Pak Legimin tadi. Tidak seperti biasanya.
Oh, jadi begitu, gaya yang kita berikan pad suatu benda sebesar n akan memberikan reaksi yang kita dapatkan sebesar n juga, hemm…. Boleh-boleh, nah sekarang aku mau pulang!” gumam budi seraya beranjak dan kursinya dan ngeloyor meninggalkan kelas.
Sesampainya di depan pintu rumah, budi tidak langsung masuk ke dalam, tetapi ia duduk di kursi teras, di lihatnya sebuah pisang diatas meja di sampingnya.
“Aduh….duh… hari ini badanku gak enak banget, rasanya pegel-pegel,”gumam Budi sambil membuang kulit pisang yang barusan ia makan ke lantai.
Beberapa saat setelah membuang kulit pisang ke lantai, adik Budi yang masih kecil, Ipin, berlari-lari.
“gedubrakkkk!!! suara Ipin yang terjatuh terpeleset karena kulit pisang tadi.
Lantaran Ipin menangis dan mengerang kesakitan, mengagetkan Budi yang sedang bersantai.
“bah, adikku kenapa menangis?” kata Budi.
“uuuaa, kakiku!” teriak Ipin sambil memegang lututnya.
“alamak! Kulit pisang itu tow! Wah gawat nih, bias-bisa mati kalau tahu ipin nangis karna ulahku.”
“Budi kau apakan adikmu ini sampai menangis segala? hah!” kata bapak Budi membentak.
“Enggak-enggak Pak,
By : Edwin Ardiansyah
"Unknown"
“Huh..!!”
Lagi-lagi aku melihat mereka berdua. Untuk kesekian kalinya aku merasa sakit, sungguh sakit! Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Mendatangi mereka, kemudian melabraknya dan mengatakan kalau aku sakit hati melihat mereka?! Atau lebih tepatnya , cemburu melihat kemesraan mereka?!
Yaaa…memang tak ada jalan lain kecuali diam dan memendam pedih ini. Toh ku akui, aku yang salah dalam hal ini. Intinya, aku yang telah menciptakan masalah ini. Lelah…jiwa dan ragaku. Ku susuri lantai koridor sekolah dengan jiwa yang kosong. Ku pilih untuk menyendiri di podium sekolahku, daripada ke kelasku yang ramai bak pasar Minggu.
Podium ini seakan menjadi saksi bisu tiap aku menangis karena Chyntia dan Rendy, mereka berdua yang telah membuka kembali perihku! Mau tak mau kenangan dulu terulang kembali dalam anganku. Ku sandarkan tubuhku ke dinding podium, dan semuanya mengalir bersamaan dengan menetesnya air mataku.
!!!!!
Aku adalah Arini, perempuan berumur 16 tahun yang sekarang duduk di bangku SMA kelas 1. Masa SMA ini sungguh indah! Aku sangat menikmatinya walau otomatis semuanya terasa lebih berat dibandingkan saat aku SMP dulu. Teman-teman yang baik dan mengasyikkan, guru-guru yang lucu, dan pasti kakak-kakak kelas yang lumayan cakep (he…he…he…). Untungnya aku termasuk perempuan yang lumayan terkenal (^_^), jadinya banyak kakak kelas yang mengenalku pula. Salah satunya adalah Rendy…
Dia anak kelas 11 IPA1 yang juga tergabung dalam ekskul basket. Aku tidak sengaja mengenalnya, dan setelah kenal pun kami cukup dekat. Tidak terfikir sama sekali dalam benakku untuk menganggapnya lebih dari seorang kakak. Dia seorang kakak yang sangat perhatian, bijaksana, dewasa dan baik. Aku sungguh merasa beruntung memiliki seorang kakak seperti Rendy.
Seperti sekarang. Aku dan dia tengah duduk berdua di kantin sekolah. Aku ingin curhat padanya mengenai hubunganku yang hampir kandas dengan seseorang.
“Kalau menurut kakak, kamu nggak usah terlalu mikirin dia Rin. Oke kakak tau kamu udah cukup lama menjalin hubungan sama Ditya. Tapi kalau putus itu jalan terbaik buat kalian, kalian mau apa lagi?? Toh selama ini setau kakak, kamu lebih sering sedih dan nangis. Kamu mau, terus-terusan sakit karena seorang Ditya? Inget adikku, kakak nggak suka lihat kamu disakiti cowok!!”
Aku diam mendengar semua nasihat Rendy. Aku mencernanya, dan memang benar apa yang dikatakan Rendy. Ditya terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan jarang menghubungi aku. Aku tidak kuat kalau harus terus-terusan seperti ini. Mungkin ini memang yang terbaik buatku.
“Inget sayang, kamu nggak sendiri di dunia ini. Kamu masih punya kakak yang bakal selalu jaga dan sayang sama kamu. Kamu masih punya keluarga dan teman-teman. Dan satu hal lagi, dunia nggak bakal kiamat kalau kamu putus sama Ditya. Ini cuma masalah waktu, dan waktu itu obat paling mujarab untuk menyembuhkan luka…”
Ya. Rendy benar. Aku cuma butuh waktu, dan dengan banyak orang di sampingku, aku yakin aku akan kuat menjalani ini semua.
“Oya Rin, kakak juga pengen ngomong sesuatu ke kamu.”
“Mau ngomong apa kak?”
“Eemmm…kakak juga baru putus sama Navila. Baru aja kemarin…”
“Haaahhh?! Kakak serius? Kok bisa? Gimana ceritanya??”
“Dia masih terlalu kecil aja buat kakak. Dan kita emang sama sekali nggak cocok. Buat apa dipaksain kalau emang nggak cocok?”
“Ya ampun kak…Yang sabar ya? Kakak pasti kuat kok menghadapi ini semua. Inget kak, ini cuma masalah waktu dan waktu itu obat paling mujarab untuk menyembuhkan luka. Lagian kakak punya aku kok!”
“Hehehehe…kamu nyontek kata-kata kakak ya? Dasar Arini…”
“Hehehehehehe”
Aku semakin yakin kalau aku mampu melewati ini semua, apalagi dengan kehadiran Rendy yang akan selalu menjagaku.
!!!!!
Dua bulan setelah aku dan Rendy sama-sama sendiri, kami menjadi makin dekat. Mungkin karena faktor kesepian, makanya kami jadi saling membutuhkan. Setiap hari kami saling mengirim sms untuk mengetahui keadaan masing-masing, karena sekarang sudah musim liburan sekolah. Otomatis kami tidak bisa bertemu untuk beberapa waktu. Seperti malam ini, saat kami sedang menghabiskan waktu untuk saling sms. Entah ini hanya perasaanku atau bagaimana, aku merasa ada yang salah! Memang, aku dan Rendy sudah sangat terbiasa dengan panggilan `sayang` atau yang sejenisnya. Tetapi untuk kali ini, aku rasa memang ada yang aneh. Seperti saat…………
To : SisteR ^_^
Sayank udah maem kan? Jangan sakit ya…kakak nggak mau kehilangan kamu.
Deg! Aku tertegun sambil terus membaca ulang sms Rendy. Karena tidak mau terlalu dianggap terlalu berlebihan, aku biasa saja menanggapi sms Rendy. Aku fikir itu hanya gurauan, makanya aku juga membalas dengan gurauan yang sama.
To : BrotHeR ^_^
Udah sayank…kakak juga jangan telat maem yach…
Dan sampai larut malam pun, aku tetap tidak bisa memejamkan mata. Karena kata-kata ‘sayang’ itu aku menjadi terus kepikiran. Apa mungkin Rendy sudah menganggap lebih hubungan kami?? Aku masih terus berfikir tentang itu, sampai saat hp-ku bergetar tanda ada telepon masuk. Ku lihat layer LCD hp-ku, dan tertera nama BrotHeR^_^ di sana. Rendy!
“Halo kak…Ada apa nich?”
“Nggak kenapa-kenapa Rin. Kakak cuma iseng aja. Abis dari tadi nggak bisa tidur sich……”
“Aku juga nggak bisa tidur nich,,kebetulan banget kakak nelpon aku. Hehehehe”
Aku fikir Rendy akan tertawa di seberang sana seperti biasanya. Tapi ternyata dia diam saja. Aku jadi bingung.
“Halo kak…Kakak masih di sana kan? Kok diem? Tumben deh…”
“Emmm Rin, kakak pengen ngomong tapi kamu jangan marah ya?”
Jangan-jangan………
“Kakak rasa, kakak sayang kamu Rin…Sayang yang lebih dari seorang kakak. Kakak juga nggak tau kenapa tiba-tiba perasaan ini muncul. Tapi kakak yakin, kalau sekarang kakak sayang banget sama kamu. Kakak ingin bisa menjaga kamu seutuhnya!”
Benar firasatku!!!
Tertegun aku mendengarnya. Padahal selama ini sayangku pada Rendy sudah terlanjur sayang seorang adik pada kakaknya, dan sulit rasanya untuk mengubahnya. Aku bingung, Tuhan…!! Aku sungguh tak ingin kehilangannya. Dia begitu berarti bagiku. Dengan berat hati aku menolaknya. Dia sakit, aku tahu itu. Dan mungkin aku akan jauh lebih sakit kalau ternyata dia memutuskan untuk menjauhiku. Tapi ternyata dia tetap bersamaku. Dia mau mengerti akan keputusanku.
“Aku juga sayang kakak. Tapi untuk sekarang hanya sebatas sayang adik pada kakaknya. Aku harap kakak bisa ngerti posisiku.”
Hanya kata-kata itu yang aku gunakan untuk mengakhiri pembicaraan lebih dulu dengan Rendy. Kepalaku mendadak pusing, dan aku putuskan untuk segera tidur.
!!!!!
Ternyata tidak cukup sampai di situ. Tuhan, aku mulai terjebak oleh cintanya. Sedikit demi sedikit rasa sayang `kakak-adik` berubah menjadi sayang seorang perempuan pada laki-laki. Dan tanpa ku duga, dia menyatakannya lagi padaku. Aku tak kuasa untuk menolak, pun tak kuasa aku menerimanya, karena kami sungguh berbeda!
“Sungguh, kakak telah berhasil membuatku mencintaimu. Tapi beri aku waktu untuk memikirkan ini semua. Ini terlalu cepat dan mendadak buatku…”
Sejak saat itu, kami makin dekat di sekolah. Bahkan semua orang mengira kami sudah memiliki hubungan yang lebih serius dari sekedar kakak-adik.
Dekat . . . Begitu dekat . . .
Hingga di saat aku sudah merasa siap menerimanya, dia mengambil keputusan yang sungguh berbeda 180 derajat dari apa yang telah ku bayangkan! Dia tak ingin melanjutkan hubungan kami tanpa memberi tahu padaku alasan yang jelas. Intinya, dia ingin kami tidak saling mengenal lagi dan tidak perlu saling mengenal lagi.
Aku bingung saat itu. Kalut. Ku coba untuk menghubungi Rendy, tapi dia tidak pernah mau menjawab. Jujur aku tidak ingin langsung bicara dengannya di sekolah. Aku tidak punya cukup keberanian untuk mendengar secara langsung apa yang akan dikatakannya. Sebenarnya dia pernah menjawab sms-ku, tapi aku tidak yakin sepenuhnya terhadap apa yang ditulisnya! Aku butuh penjelasan langsung darinya, tapi aku sungguh takut………
Akhirnya, aku hanya bisa mengandalkan informasi dari Zai. Aku yakin aku tidak salah memilih orang untuk dimintai tolong. Dan setelah cukup lama memberi waktu pada Zai, dia memberiku kabar yang cukup membuatku sakit hati!
“Maaf Rin, sepertinya Rendy memang tidak mau melanjutkan hubungan kalian. Dia tidak mau bicara langsung sama kamu, karena katanya belum siap. Alasan utama katanya sich agama…Jelas banget agama kalian udah beda. Kamu Islam, dia Kristen. Nggak bakal bisa bersatu…”
Tes…tes…tes…
Tanpa terasa air mataku turun. Aku yakin bukan agama yang jadi alasan utama. Ada hal lain yang sengaja dia sembunyikan dan tidak ada satu orang pun yang tahu, termasuk aku.
Tak lama setelah hubunganku dengan dia selesai, dengan santainya dia kembali jalan dengan mantannya (selain Navila), Chyntia, yang sekaligus kakak kelasku. Tanpa perasaan dia ke mana-mana berdua dengan Chyntia, termasuk saat berada di hadapanku. Tuhan, sungguh sakit rasanya!
!!!!!
Selesai sudah kenangan itu terulang secara otomatis dalam anganku. Dan tak terasa dari tadi aku sudah banjir oleh air mata. Tanpa terasa pula, dua sahabat dekatku sudah ada di sampingku. Aku tenang dalam pelukan mereka.
“Sudahlah, Arini…Percuma kamu tangisi dia. Toh dia nggak menangisi kamu, dan dengan seenaknya dia malah jalan sama Chyntia. Nggak pantes cewek kayak kamu terus-terusan nangis karena cowok kurang ajar model Rendy! Bodoh banget kalau kamu terus-terusan terpuruk…Kamu itu cantik, dan pasti kamu bisa dapet yang jauh lebih baik dari Rendy……”
Yaaa…aku memang bodoh! Bodoh karena cintanya dan aku tak tahu sampai kapan aku akan tetap bodoh seperti ini?!
Tiba-tiba aku teringat kata-kata Rendy dulu, saat dia menasihatiku.
“Inget adikku, kakak nggak suka lihat kamu disakiti cowok!!”
Aku hanya tersenyum getir mengingat kata-katanya. Bohong semuanya!! Sekarang dia telah membuatku sangat sakit! Susah buatku untuk merasakan indahnya cinta lagi. Trauma. Perih. Sakit. Pedih.
Aku memang sakit, dan tidak ada satu orang pun yang bisa mengerti akan sakitku ini. Biarlah aku terus simpan rasa sakit ini, sendiri………(ReRe)
By : Ray Han
Read More..
Lagi-lagi aku melihat mereka berdua. Untuk kesekian kalinya aku merasa sakit, sungguh sakit! Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Mendatangi mereka, kemudian melabraknya dan mengatakan kalau aku sakit hati melihat mereka?! Atau lebih tepatnya , cemburu melihat kemesraan mereka?!
Yaaa…memang tak ada jalan lain kecuali diam dan memendam pedih ini. Toh ku akui, aku yang salah dalam hal ini. Intinya, aku yang telah menciptakan masalah ini. Lelah…jiwa dan ragaku. Ku susuri lantai koridor sekolah dengan jiwa yang kosong. Ku pilih untuk menyendiri di podium sekolahku, daripada ke kelasku yang ramai bak pasar Minggu.
Podium ini seakan menjadi saksi bisu tiap aku menangis karena Chyntia dan Rendy, mereka berdua yang telah membuka kembali perihku! Mau tak mau kenangan dulu terulang kembali dalam anganku. Ku sandarkan tubuhku ke dinding podium, dan semuanya mengalir bersamaan dengan menetesnya air mataku.
!!!!!
Aku adalah Arini, perempuan berumur 16 tahun yang sekarang duduk di bangku SMA kelas 1. Masa SMA ini sungguh indah! Aku sangat menikmatinya walau otomatis semuanya terasa lebih berat dibandingkan saat aku SMP dulu. Teman-teman yang baik dan mengasyikkan, guru-guru yang lucu, dan pasti kakak-kakak kelas yang lumayan cakep (he…he…he…). Untungnya aku termasuk perempuan yang lumayan terkenal (^_^), jadinya banyak kakak kelas yang mengenalku pula. Salah satunya adalah Rendy…
Dia anak kelas 11 IPA1 yang juga tergabung dalam ekskul basket. Aku tidak sengaja mengenalnya, dan setelah kenal pun kami cukup dekat. Tidak terfikir sama sekali dalam benakku untuk menganggapnya lebih dari seorang kakak. Dia seorang kakak yang sangat perhatian, bijaksana, dewasa dan baik. Aku sungguh merasa beruntung memiliki seorang kakak seperti Rendy.
Seperti sekarang. Aku dan dia tengah duduk berdua di kantin sekolah. Aku ingin curhat padanya mengenai hubunganku yang hampir kandas dengan seseorang.
“Kalau menurut kakak, kamu nggak usah terlalu mikirin dia Rin. Oke kakak tau kamu udah cukup lama menjalin hubungan sama Ditya. Tapi kalau putus itu jalan terbaik buat kalian, kalian mau apa lagi?? Toh selama ini setau kakak, kamu lebih sering sedih dan nangis. Kamu mau, terus-terusan sakit karena seorang Ditya? Inget adikku, kakak nggak suka lihat kamu disakiti cowok!!”
Aku diam mendengar semua nasihat Rendy. Aku mencernanya, dan memang benar apa yang dikatakan Rendy. Ditya terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan jarang menghubungi aku. Aku tidak kuat kalau harus terus-terusan seperti ini. Mungkin ini memang yang terbaik buatku.
“Inget sayang, kamu nggak sendiri di dunia ini. Kamu masih punya kakak yang bakal selalu jaga dan sayang sama kamu. Kamu masih punya keluarga dan teman-teman. Dan satu hal lagi, dunia nggak bakal kiamat kalau kamu putus sama Ditya. Ini cuma masalah waktu, dan waktu itu obat paling mujarab untuk menyembuhkan luka…”
Ya. Rendy benar. Aku cuma butuh waktu, dan dengan banyak orang di sampingku, aku yakin aku akan kuat menjalani ini semua.
“Oya Rin, kakak juga pengen ngomong sesuatu ke kamu.”
“Mau ngomong apa kak?”
“Eemmm…kakak juga baru putus sama Navila. Baru aja kemarin…”
“Haaahhh?! Kakak serius? Kok bisa? Gimana ceritanya??”
“Dia masih terlalu kecil aja buat kakak. Dan kita emang sama sekali nggak cocok. Buat apa dipaksain kalau emang nggak cocok?”
“Ya ampun kak…Yang sabar ya? Kakak pasti kuat kok menghadapi ini semua. Inget kak, ini cuma masalah waktu dan waktu itu obat paling mujarab untuk menyembuhkan luka. Lagian kakak punya aku kok!”
“Hehehehe…kamu nyontek kata-kata kakak ya? Dasar Arini…”
“Hehehehehehe”
Aku semakin yakin kalau aku mampu melewati ini semua, apalagi dengan kehadiran Rendy yang akan selalu menjagaku.
!!!!!
Dua bulan setelah aku dan Rendy sama-sama sendiri, kami menjadi makin dekat. Mungkin karena faktor kesepian, makanya kami jadi saling membutuhkan. Setiap hari kami saling mengirim sms untuk mengetahui keadaan masing-masing, karena sekarang sudah musim liburan sekolah. Otomatis kami tidak bisa bertemu untuk beberapa waktu. Seperti malam ini, saat kami sedang menghabiskan waktu untuk saling sms. Entah ini hanya perasaanku atau bagaimana, aku merasa ada yang salah! Memang, aku dan Rendy sudah sangat terbiasa dengan panggilan `sayang` atau yang sejenisnya. Tetapi untuk kali ini, aku rasa memang ada yang aneh. Seperti saat…………
To : SisteR ^_^
Sayank udah maem kan? Jangan sakit ya…kakak nggak mau kehilangan kamu.
Deg! Aku tertegun sambil terus membaca ulang sms Rendy. Karena tidak mau terlalu dianggap terlalu berlebihan, aku biasa saja menanggapi sms Rendy. Aku fikir itu hanya gurauan, makanya aku juga membalas dengan gurauan yang sama.
To : BrotHeR ^_^
Udah sayank…kakak juga jangan telat maem yach…
Dan sampai larut malam pun, aku tetap tidak bisa memejamkan mata. Karena kata-kata ‘sayang’ itu aku menjadi terus kepikiran. Apa mungkin Rendy sudah menganggap lebih hubungan kami?? Aku masih terus berfikir tentang itu, sampai saat hp-ku bergetar tanda ada telepon masuk. Ku lihat layer LCD hp-ku, dan tertera nama BrotHeR^_^ di sana. Rendy!
“Halo kak…Ada apa nich?”
“Nggak kenapa-kenapa Rin. Kakak cuma iseng aja. Abis dari tadi nggak bisa tidur sich……”
“Aku juga nggak bisa tidur nich,,kebetulan banget kakak nelpon aku. Hehehehe”
Aku fikir Rendy akan tertawa di seberang sana seperti biasanya. Tapi ternyata dia diam saja. Aku jadi bingung.
“Halo kak…Kakak masih di sana kan? Kok diem? Tumben deh…”
“Emmm Rin, kakak pengen ngomong tapi kamu jangan marah ya?”
Jangan-jangan………
“Kakak rasa, kakak sayang kamu Rin…Sayang yang lebih dari seorang kakak. Kakak juga nggak tau kenapa tiba-tiba perasaan ini muncul. Tapi kakak yakin, kalau sekarang kakak sayang banget sama kamu. Kakak ingin bisa menjaga kamu seutuhnya!”
Benar firasatku!!!
Tertegun aku mendengarnya. Padahal selama ini sayangku pada Rendy sudah terlanjur sayang seorang adik pada kakaknya, dan sulit rasanya untuk mengubahnya. Aku bingung, Tuhan…!! Aku sungguh tak ingin kehilangannya. Dia begitu berarti bagiku. Dengan berat hati aku menolaknya. Dia sakit, aku tahu itu. Dan mungkin aku akan jauh lebih sakit kalau ternyata dia memutuskan untuk menjauhiku. Tapi ternyata dia tetap bersamaku. Dia mau mengerti akan keputusanku.
“Aku juga sayang kakak. Tapi untuk sekarang hanya sebatas sayang adik pada kakaknya. Aku harap kakak bisa ngerti posisiku.”
Hanya kata-kata itu yang aku gunakan untuk mengakhiri pembicaraan lebih dulu dengan Rendy. Kepalaku mendadak pusing, dan aku putuskan untuk segera tidur.
!!!!!
Ternyata tidak cukup sampai di situ. Tuhan, aku mulai terjebak oleh cintanya. Sedikit demi sedikit rasa sayang `kakak-adik` berubah menjadi sayang seorang perempuan pada laki-laki. Dan tanpa ku duga, dia menyatakannya lagi padaku. Aku tak kuasa untuk menolak, pun tak kuasa aku menerimanya, karena kami sungguh berbeda!
“Sungguh, kakak telah berhasil membuatku mencintaimu. Tapi beri aku waktu untuk memikirkan ini semua. Ini terlalu cepat dan mendadak buatku…”
Sejak saat itu, kami makin dekat di sekolah. Bahkan semua orang mengira kami sudah memiliki hubungan yang lebih serius dari sekedar kakak-adik.
Dekat . . . Begitu dekat . . .
Hingga di saat aku sudah merasa siap menerimanya, dia mengambil keputusan yang sungguh berbeda 180 derajat dari apa yang telah ku bayangkan! Dia tak ingin melanjutkan hubungan kami tanpa memberi tahu padaku alasan yang jelas. Intinya, dia ingin kami tidak saling mengenal lagi dan tidak perlu saling mengenal lagi.
Aku bingung saat itu. Kalut. Ku coba untuk menghubungi Rendy, tapi dia tidak pernah mau menjawab. Jujur aku tidak ingin langsung bicara dengannya di sekolah. Aku tidak punya cukup keberanian untuk mendengar secara langsung apa yang akan dikatakannya. Sebenarnya dia pernah menjawab sms-ku, tapi aku tidak yakin sepenuhnya terhadap apa yang ditulisnya! Aku butuh penjelasan langsung darinya, tapi aku sungguh takut………
Akhirnya, aku hanya bisa mengandalkan informasi dari Zai. Aku yakin aku tidak salah memilih orang untuk dimintai tolong. Dan setelah cukup lama memberi waktu pada Zai, dia memberiku kabar yang cukup membuatku sakit hati!
“Maaf Rin, sepertinya Rendy memang tidak mau melanjutkan hubungan kalian. Dia tidak mau bicara langsung sama kamu, karena katanya belum siap. Alasan utama katanya sich agama…Jelas banget agama kalian udah beda. Kamu Islam, dia Kristen. Nggak bakal bisa bersatu…”
Tes…tes…tes…
Tanpa terasa air mataku turun. Aku yakin bukan agama yang jadi alasan utama. Ada hal lain yang sengaja dia sembunyikan dan tidak ada satu orang pun yang tahu, termasuk aku.
Tak lama setelah hubunganku dengan dia selesai, dengan santainya dia kembali jalan dengan mantannya (selain Navila), Chyntia, yang sekaligus kakak kelasku. Tanpa perasaan dia ke mana-mana berdua dengan Chyntia, termasuk saat berada di hadapanku. Tuhan, sungguh sakit rasanya!
!!!!!
Selesai sudah kenangan itu terulang secara otomatis dalam anganku. Dan tak terasa dari tadi aku sudah banjir oleh air mata. Tanpa terasa pula, dua sahabat dekatku sudah ada di sampingku. Aku tenang dalam pelukan mereka.
“Sudahlah, Arini…Percuma kamu tangisi dia. Toh dia nggak menangisi kamu, dan dengan seenaknya dia malah jalan sama Chyntia. Nggak pantes cewek kayak kamu terus-terusan nangis karena cowok kurang ajar model Rendy! Bodoh banget kalau kamu terus-terusan terpuruk…Kamu itu cantik, dan pasti kamu bisa dapet yang jauh lebih baik dari Rendy……”
Yaaa…aku memang bodoh! Bodoh karena cintanya dan aku tak tahu sampai kapan aku akan tetap bodoh seperti ini?!
Tiba-tiba aku teringat kata-kata Rendy dulu, saat dia menasihatiku.
“Inget adikku, kakak nggak suka lihat kamu disakiti cowok!!”
Aku hanya tersenyum getir mengingat kata-katanya. Bohong semuanya!! Sekarang dia telah membuatku sangat sakit! Susah buatku untuk merasakan indahnya cinta lagi. Trauma. Perih. Sakit. Pedih.
Aku memang sakit, dan tidak ada satu orang pun yang bisa mengerti akan sakitku ini. Biarlah aku terus simpan rasa sakit ini, sendiri………(ReRe)
By : Ray Han
TEROREJING
Tet…teet…teeet…
Bel pulang berbunyi. Nita buru-buru menyambar tas sekolahnya lalu lari keluar kelas. Sesampainya di belakang sekolah, dikeluarkan sebuah benda dari bambu. Sumpit. Tinggal diisi biji kacang ijo, jadilah senjata ampuh untuk membidik lawan.
Nita sembunyi. Sebentar lagi Alex dan Lina, pacar barunya lewat. Dua manusia yang telah menghancurkan hatinya. Beruntung Alex hari ini nggak bawa motor. Nita dapat dengan mudah menjalankan rencananya.
Plup! Nita meniup sumpit ber ‘peluru’ biji kacang ijo tepat ditengkuk Alex.
“Aduh!” Alex mengaduh sambil memegang lehernya.
Plup! Nita meniup sumpit itu lagi. Kali ini mengenai pipi Alex yang putih itu.
“Aduh!” lagi-lagi Alex mengaduh, tapi kali ini sambil memegang pipi dan lahernya.
“Kenapa, Lex?” Tanya Lina ikut kanget
“Nggak tahu nih. Leher sama pipiku panas, perih banget kayak kena seplet.” Adu Alex.
Rasakan pembalasanku! Cibir Nita, untung tembakannya nggak meleset.
Alex berusaha mencari sumber sepletan itu. Sementara Lina terus merengek lapar. Akhirnya Alex mengurungkan niatnya untuk penyelidikan itu.
Setelah mereka pergi Nita membereskan peralatannya. Dia nggak sadar perbuatannya kepergok Andre, sahabatnya. Nita terlihat kaget.
“Barusan kamu melakukan apa, Ta?” Tanya Andre menyelidik
“Eh…emm…tenang dulu, Ndre, aku akan jelaskan semuanya padamu,” jawab Nita gugup.
“Waktu itu pikiranku kacau, yang ada hanya rasa sedih dan kecewa. Alex sudah mengakhiri hubungan denganku tanpa alasan yang jelas. Dia, cowok yang aku suka dari dulu, udah bikin hatiku hancur. Dan yang lebih parah sekarang dia jalan sama Lina, temen satu kelas kita. Saat itu aku langsung kepikiran untuk membuat hubungan mereka nggak tenang, dengan cara meneror mereka. Mungkin itu terlihat konyol, tapi mau gimana lagi? Dan aku udah lama melakukan teror itu ke mereka,” jelas Nita.
“Aku tahu Ta, kamu benci banget sama mereka, tapi seharusnya kamu nggak melakukan hal itu. Aku takut suatu saat nanti terormu itu akan jadi bumerang buat kamu.”
“Ooo…jadi maksud kamu, aku salah melakukan itu?” jawab Nita sebel.
“Bukan…bukan itu maksudku…tapi..tapi…”
“Ah…sudahlah aku kecewa sama kamu.” Belum selesai Andre berbicara Nita langsung memutusnya dan pergi meninggalkan Andre dengan muka marah.
Setelah berpikir semalaman (sampai nggak bisa tidur,he..he..), pagi ini Andre bertekad untuk minta maaf ke Nita. Dia juga akan membantu Nita untuk melakukan aksi terornya. Meskipun hati Andre sendiri tidak setuju dengan ide konyol itu.
“Ya..,aku maafin kamu. Tapi kamu harus bantu aku ya. Karena Cuma kamu, Ndre, yang bisa membantu aku,” pinta Nita dengan muka memelas.
“Siap bos! Aku akan selalu membantu kamu. Asal kamu senang dan nggak marah lagi,” Andre tersenyum lega.
“Kamu memamg sobatku yang terbaik. Nanti pulang sekolah kita mulai beraksi.”
Pulang sekolah Nita langsung menjelaskan ke Andre tentang rencananya. Nita berencana untuk mengempeskan ban motor Alex.
Andre Cuma manghela nafas panjang, mendengar Nita menjelaskan. Tapi akhirnya Andre mengikuti kemauan Nita. Mereka mendekati motor Alex. Menarik pentilnya. Dan pess…!!! Al-hasil kempeslah ban belakang motor Alex. Kemudian Andre memasang pentil itu lagi ditempatnya supaya nggak menimbulkan kecurigaan. Setelah itu Nita dan Andre buru-buru sembunyi dibalik pohon. Dari situ mereka mengamati gimana bingungnya Alex dan Lina saat mengetahui motor yang akan mereka naiki ban-nya kempes.
Nita cekikikan penuh kemenangan. Andre hanya bengong melihat Nita.
“Besok apa lagi nih?” Tanya Nita saat perjalanan pulang.
“Udah deh!”
“Eh, gimana kalau besok kita masukkan kecoa di tasnya Lina?” seakan Nita tak mendengar kata-kata Andre tadi untuk menyudahi teror ini.
“Udahlah terserah kamu aja deh!”
“OK! Besok aku siapin kecoanya seplastik.
Esok harinya Nita membawa seplastik kecoa. Nita memang sengaja bayar anak-anak kampung buat nyari kecoa kemarin, makanya dia dapat banyak.
Pulang sekolah Nita menjalankan aksinya. Diantara anak-anak yang berdesak keluar dari pintu gerbang, diam-diam Nita memasukkan seplastik kecoa itu kedalam tas Lina.
Dari kejauhan Andre mengamati Nita. Dia khawatir ada yang melihat aksi Nita. Beberapa menit kemudian dilihatnya Nita berlari kecil mendekati Andre. Sementara disisi lain Alex berdiri sambil tersenyum mesra memandangi Lina yang berjalan dengan centil menuju ke arahnya.
“OK, ! Ndre, kita hitung mundur Lima……empat……tiga……dua……satu…!!!”
“Waaa, tolong……… kecoa……toloong……kecoa……” Lina menjerit histeris.
Tiba-tiba dari dalam tasnya muncul berpuluh-puluh kecoa. Dilemparkan tasnya jauh-jauh. Lina langsung memeluk Alex erat-erat. Menumpahkan semua tangisnya di dada cowok itu.
“Alex…huhuhu………” Lina menangis ketakutan.
“Udah……nggak apa-apa……kecoanya udah pergi kok,” Alex menenangkan Lina.
“Nita berdiri kaku ditempatnya. Matanya menatap pasangan yang sedang berpelukan itu. Jantung Nita seakan berhenti berdetak. Dadanya terasa sesak, sakit seperti ada paku yang tertancap di dalamnya. Andre mendekati Nita. Belum tahu apa yang terjadi pada Nita.
“Gimana? Sekarang kamu puas?” Tanya Andre
Nita membalikkan badannya menghadap Andre. Andre kaget melihat butir-butir air mata turun ke pipi Nita. Nita sudah tak sanggup membendung air matanya.
“Nita kamu kenapa?” Andre cemas.
Untuk beberapa saat Nita nggak bisa menjawab. Dia hanya menatap bayangan buram Andre dari matanya yang basah.
“Aku sebel banget sama mereka. Aku sebel sama Alex. Dia pernah janji akan selalu sayang sama aku. Tapi…nyatanya baru dua bulan udah menghianati aku. Aku nggak terima…huhuhu……” Nita menangistersedu-sedu.
Andre mengulurkan tangannya. Siap menampung tangis nita dalam rengkuhannya. Nita melangkah ragu. Akhirnya dia mendekat dan menyambut lengan Andre. Ditumpahkannya tangis di sana sepuasnya. Andre mengelus kepala Nita lembut.
Sebenarnya malam sebelum mereka menaruh kecoa di tas Lina. Andre sudah bertekat bulat untuk tidak ikut campur lagi dan menyuruh Nita untuk berhenti melakukan terornya. Tapi karena tak tega meninggalkan Nita beraksi sendiri, akhirnya Andre menurut saja. Andre sudah mengira hari ini akan terjadi. Hari dimana Nita akan menangis karena perbuatan terornya bisa menjadi boomerang buat dirinya, akan membuatnya semakin terluka dan menangis.
“Kalau kamu ijinkan, aku akan membalut luka kamu, Ta.” Bisiknya di telinga Nita.
Nita semakin sesenggukan menangis. Semakin menenggelamkan kepalanya di dada Andre.
By: TORY ANGGITA ARICINDY
Read More..
Bel pulang berbunyi. Nita buru-buru menyambar tas sekolahnya lalu lari keluar kelas. Sesampainya di belakang sekolah, dikeluarkan sebuah benda dari bambu. Sumpit. Tinggal diisi biji kacang ijo, jadilah senjata ampuh untuk membidik lawan.
Nita sembunyi. Sebentar lagi Alex dan Lina, pacar barunya lewat. Dua manusia yang telah menghancurkan hatinya. Beruntung Alex hari ini nggak bawa motor. Nita dapat dengan mudah menjalankan rencananya.
Plup! Nita meniup sumpit ber ‘peluru’ biji kacang ijo tepat ditengkuk Alex.
“Aduh!” Alex mengaduh sambil memegang lehernya.
Plup! Nita meniup sumpit itu lagi. Kali ini mengenai pipi Alex yang putih itu.
“Aduh!” lagi-lagi Alex mengaduh, tapi kali ini sambil memegang pipi dan lahernya.
“Kenapa, Lex?” Tanya Lina ikut kanget
“Nggak tahu nih. Leher sama pipiku panas, perih banget kayak kena seplet.” Adu Alex.
Rasakan pembalasanku! Cibir Nita, untung tembakannya nggak meleset.
Alex berusaha mencari sumber sepletan itu. Sementara Lina terus merengek lapar. Akhirnya Alex mengurungkan niatnya untuk penyelidikan itu.
Setelah mereka pergi Nita membereskan peralatannya. Dia nggak sadar perbuatannya kepergok Andre, sahabatnya. Nita terlihat kaget.
“Barusan kamu melakukan apa, Ta?” Tanya Andre menyelidik
“Eh…emm…tenang dulu, Ndre, aku akan jelaskan semuanya padamu,” jawab Nita gugup.
“Waktu itu pikiranku kacau, yang ada hanya rasa sedih dan kecewa. Alex sudah mengakhiri hubungan denganku tanpa alasan yang jelas. Dia, cowok yang aku suka dari dulu, udah bikin hatiku hancur. Dan yang lebih parah sekarang dia jalan sama Lina, temen satu kelas kita. Saat itu aku langsung kepikiran untuk membuat hubungan mereka nggak tenang, dengan cara meneror mereka. Mungkin itu terlihat konyol, tapi mau gimana lagi? Dan aku udah lama melakukan teror itu ke mereka,” jelas Nita.
“Aku tahu Ta, kamu benci banget sama mereka, tapi seharusnya kamu nggak melakukan hal itu. Aku takut suatu saat nanti terormu itu akan jadi bumerang buat kamu.”
“Ooo…jadi maksud kamu, aku salah melakukan itu?” jawab Nita sebel.
“Bukan…bukan itu maksudku…tapi..tapi…”
“Ah…sudahlah aku kecewa sama kamu.” Belum selesai Andre berbicara Nita langsung memutusnya dan pergi meninggalkan Andre dengan muka marah.
Setelah berpikir semalaman (sampai nggak bisa tidur,he..he..), pagi ini Andre bertekad untuk minta maaf ke Nita. Dia juga akan membantu Nita untuk melakukan aksi terornya. Meskipun hati Andre sendiri tidak setuju dengan ide konyol itu.
“Ya..,aku maafin kamu. Tapi kamu harus bantu aku ya. Karena Cuma kamu, Ndre, yang bisa membantu aku,” pinta Nita dengan muka memelas.
“Siap bos! Aku akan selalu membantu kamu. Asal kamu senang dan nggak marah lagi,” Andre tersenyum lega.
“Kamu memamg sobatku yang terbaik. Nanti pulang sekolah kita mulai beraksi.”
Pulang sekolah Nita langsung menjelaskan ke Andre tentang rencananya. Nita berencana untuk mengempeskan ban motor Alex.
Andre Cuma manghela nafas panjang, mendengar Nita menjelaskan. Tapi akhirnya Andre mengikuti kemauan Nita. Mereka mendekati motor Alex. Menarik pentilnya. Dan pess…!!! Al-hasil kempeslah ban belakang motor Alex. Kemudian Andre memasang pentil itu lagi ditempatnya supaya nggak menimbulkan kecurigaan. Setelah itu Nita dan Andre buru-buru sembunyi dibalik pohon. Dari situ mereka mengamati gimana bingungnya Alex dan Lina saat mengetahui motor yang akan mereka naiki ban-nya kempes.
Nita cekikikan penuh kemenangan. Andre hanya bengong melihat Nita.
“Besok apa lagi nih?” Tanya Nita saat perjalanan pulang.
“Udah deh!”
“Eh, gimana kalau besok kita masukkan kecoa di tasnya Lina?” seakan Nita tak mendengar kata-kata Andre tadi untuk menyudahi teror ini.
“Udahlah terserah kamu aja deh!”
“OK! Besok aku siapin kecoanya seplastik.
Esok harinya Nita membawa seplastik kecoa. Nita memang sengaja bayar anak-anak kampung buat nyari kecoa kemarin, makanya dia dapat banyak.
Pulang sekolah Nita menjalankan aksinya. Diantara anak-anak yang berdesak keluar dari pintu gerbang, diam-diam Nita memasukkan seplastik kecoa itu kedalam tas Lina.
Dari kejauhan Andre mengamati Nita. Dia khawatir ada yang melihat aksi Nita. Beberapa menit kemudian dilihatnya Nita berlari kecil mendekati Andre. Sementara disisi lain Alex berdiri sambil tersenyum mesra memandangi Lina yang berjalan dengan centil menuju ke arahnya.
“OK, ! Ndre, kita hitung mundur Lima……empat……tiga……dua……satu…!!!”
“Waaa, tolong……… kecoa……toloong……kecoa……” Lina menjerit histeris.
Tiba-tiba dari dalam tasnya muncul berpuluh-puluh kecoa. Dilemparkan tasnya jauh-jauh. Lina langsung memeluk Alex erat-erat. Menumpahkan semua tangisnya di dada cowok itu.
“Alex…huhuhu………” Lina menangis ketakutan.
“Udah……nggak apa-apa……kecoanya udah pergi kok,” Alex menenangkan Lina.
“Nita berdiri kaku ditempatnya. Matanya menatap pasangan yang sedang berpelukan itu. Jantung Nita seakan berhenti berdetak. Dadanya terasa sesak, sakit seperti ada paku yang tertancap di dalamnya. Andre mendekati Nita. Belum tahu apa yang terjadi pada Nita.
“Gimana? Sekarang kamu puas?” Tanya Andre
Nita membalikkan badannya menghadap Andre. Andre kaget melihat butir-butir air mata turun ke pipi Nita. Nita sudah tak sanggup membendung air matanya.
“Nita kamu kenapa?” Andre cemas.
Untuk beberapa saat Nita nggak bisa menjawab. Dia hanya menatap bayangan buram Andre dari matanya yang basah.
“Aku sebel banget sama mereka. Aku sebel sama Alex. Dia pernah janji akan selalu sayang sama aku. Tapi…nyatanya baru dua bulan udah menghianati aku. Aku nggak terima…huhuhu……” Nita menangistersedu-sedu.
Andre mengulurkan tangannya. Siap menampung tangis nita dalam rengkuhannya. Nita melangkah ragu. Akhirnya dia mendekat dan menyambut lengan Andre. Ditumpahkannya tangis di sana sepuasnya. Andre mengelus kepala Nita lembut.
Sebenarnya malam sebelum mereka menaruh kecoa di tas Lina. Andre sudah bertekat bulat untuk tidak ikut campur lagi dan menyuruh Nita untuk berhenti melakukan terornya. Tapi karena tak tega meninggalkan Nita beraksi sendiri, akhirnya Andre menurut saja. Andre sudah mengira hari ini akan terjadi. Hari dimana Nita akan menangis karena perbuatan terornya bisa menjadi boomerang buat dirinya, akan membuatnya semakin terluka dan menangis.
“Kalau kamu ijinkan, aku akan membalut luka kamu, Ta.” Bisiknya di telinga Nita.
Nita semakin sesenggukan menangis. Semakin menenggelamkan kepalanya di dada Andre.
By: TORY ANGGITA ARICINDY
“SESALKU MENGHANCURKAN AKU”
Aku merasa terlahir sempurna di dunia. Apapun terasa cukup bagiku. Sesuatu yang aku inginkan selalu ada dihadapanku.sebelum semua itu melenyapkannya.
Papaku seorang direktur Bank swasta. Papa sangat sayang kepadaku, dan juga papa seorang yang pandai ,seorang imam yang baik bagi keluargaku. Juga seorang yang paling sukses diantara saudara-saudaranya. Papa mempunyai harta yang berlimpah. Aku bangga atas kerja keras papaku.
Mamaku seorang wiraswasta , mama mempunyai sebuah butik yang megah di Jl.tamrin kediri. Butik itu pemberian papaku pada ulang tahun mamaku yang ke 26 tahun, saatku masih kecil. Maklumlah mamaku sangat pandai dalam membuat busana, sehingga untuk menyalurkan bakat mamaku, papaku memberikan butik untuk mama. Selain seorang yang pandai membuat busana mama juga seorang ibu rumah tangga yang baik, mama sangat pengertian padaku. Dan juga mamaku seorang yang pandai memasak. Pernah lho mama meraih juara 2 memasak diacara arisan ibu-ibu di kecamatanku. Mamaku juga seorang yang tegar, ketika didera masalah-masalah pun mama selalu tegar dan menyemangati papaku untuk bangkit dan selalu tersenyum.
Dan aku????
Aku adalah gadis mungil yang cute, manis, manja, baik hati dan tidak sombong. Begitu celoteh teman-temanku.usiaku baru akan menginjak tujuh belas tahun bulan November mendatang. Yach kurang lebih,kurang 8 bulan sich!!. Teman-temanku bilang aku anak yang cerewet!!. Ahh biar saja meskipun begitu aku cukup bangga dengan diriku. Karena aku bisa membanggakan kedua orangtuaku. Atas hasil kerja kerasku, aku mendapat beberapa juara model kontes. Aku bersyukur kepada Tuhan yang telah memberiku bentuk tubuh yang lumayan ideal juga kedua orangtuaku yang selalu mendukung aku.
“ Kring…………Kring……….!!”
“Halah,bunyi apaan sich ini??aku masih ngantuk!!” gumamku dalam hati.
“Rizi……….!!!!
“Brok……Brok………Brok………!!!”
Tersontak aku bangun dari ranjangku yang super empuk.
“Iya ma…!!”sahutku kaget sambil menguap aku tegakkan tubuhku untuk berjalan membuka pintu gerbang istanaku.
“Ada apa sich Ma??? Pagi-pagi udah ganggu aku ajach??!”
“Rizi sayang udah pukul berapa nih nak?? Kamu nggak sekolah??”
“Memang pukul berapa sih Ma sekarang?? Repot banget?!”
“Lihat itu jam?”dera mamaku !
Segera aku bangun melihat jam dan???……
“Hhaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!”
“Ma..??kenapa nggak bangunin aku dari tadi sih?terlambat nih??!!”
Segera aku ke kamar mandi , tapi karena aku melihat jam,sudah sangat siang, akhirnya aku nggak mandi, dan hanya menggosok gigi, berganti pakaian lalu langsung berangkat ke sekolah.
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
In the school.
“Tettt…………..Tetttt…..!!!
“Wadoch,udah bel masuk nich!”segera aku berlarimenuju kelas,dan ternyata???.
“Rizi,dari mana kamu? Sudah jam segini baru masuk kelas?? Telat berapa jam??”gumam guruku.
“Maaf Pak!tadi bangunnya kesiangan, macet lagi pak, kan baru telat 2 menit pak??!!”
“Masa???”sontak guru kesenianku yang kejam.
“Ya sudah,silahkan duduk!!”
“Alhamdulillah!!” Tumben Pak.Prasya nggak hukum aku ya?!”gumamkudalam hati.
“Anak-anak? Apakah kalian sudah membaca pengumuman ??”Tanya Pak.Prasya kepada kami.
“Sudah!!!”
“Rizi, kamu sudah membaca??”
Karena bingung dan tidak tau apa-apa aku jawab saja “iya” daripada kena hukuman.
“Iya Pak,sudah kok!”
“Bagus-bagus ,kamu ikut Rizi??”
Wadoch,ikut apa? Aku nggak ngerti apa-apa lagi,kemudian teman sebangkuku menyaut dan menjawab.
“Ya ikutlah Pak, secara Rizi kan top model kita “..
“Oooooo……….!lanjut Pak Prasya.
“Baiklah anak-anak kita mulai pelajaran hari ini!!”
…………………………………………………………………………………………………………………………………………..
In the class
“Tettt…………..Tettt………….!!”
“Zi,ke kantin yuuk?”ajak Rere.
“Ayok Re,aku juga laper kok tadi belom maem alias makan!!”
“Zi,gimana?udah siap?kan kontes modelnya 2 hari lagi??” Tanya Rere.
“Ya siaplah, ntar biar diurus mamaku!!” jawabku singkat.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………
2 hari kemudian
Gedung Monumen Simpang Simpang Lima Gumul 15 Juni 2008.
“Baiklah kita sambut peserta dengan nomer urut 11.”aku dengar pembawa acara menyebut nomer ku.
Dengan PDnya aku leukkan badanku kekiri kekanan. Setelah pentas aku duduk di kursi tamu sembari melihat para aksi kontestan yang lain.
“Hai,boleh duduk disini? “tiba-tiba seorang mendatangiku.
“Iya silahkan!!”
“Boleh kenal nggak??kenalin dunx aku Dewa,kamu siapa??”
“Aku Rizi!”jawabku.
Alhamdulillah, pada acara ini pula aku mendapat juara 1.
Dan mulai saat itu hubungan kami semakin erat,dan saking eratnya hingga kami dikira teman-temanku pacaran.
Tapi di acara SLG itu,aku merasa sedikit kecewa karena orangtuaku yang biasanya selalu menyempatkan diri hadir saat aku kontes kali ini absen, dengan alasan sibuk. Awalnya aku mengajak Papaku, tapi papa menolak dengan alasan akan ada rapat dengan kliennya, kemudian aku mengajak mamaku. Yach, ternyata mamaku sudah ada janji dengan pelanggannya juga. Sehingga tantekulah yang mengantar aku mengikuti kontes model itu.
……………………………………………………………………………………………………………………………………….
Setelah kontes itu, aku rasakan ketidak nyamanan dalam keluargaku. Papaku jarang pulang. Dan mamaku selalu sibuk di butiknya, sehingga sering pulang malam. Dan mulai saat itu aku selalu merasa kesepian. Akhirnya pada suatu malam, aku pergi ke suatu tempat yang ramai sekali. Aku pergi seorang diri dengan mengendarai mobil hadiah dari papaku saat ultahku ke-16 kemarin. Ya walaupun aku masih belum punya SIM sich!! Aku pergi ke sebuah taman kota yang ramai. Disana aku berkenalan dengan seorang cewek yang bernama Caca. Entah mengapa aku merasa cocok dengannya. Hingga aku selalu curhat padanya tentang semua akan problem keluargaku. Setelah malam itu, akhirnya hampir setiap malam aku pergi keluar.
……………………………………………………………………………………………………………………………………
In the BMB Restaurant
“Dewa makanannya enak yaa? Aku suka deh!”ungkapku kepada Dewa.
“Iya, dengan minumnya jus alpokat + roti bakar kesukaanmu kan??”jawab Dewa.
“Huuh..Huuh..!nyam-nyam!!”dengan lahapnya aku makan semua makananku!!.
Tiba-tiba..”Hah,itu kan Mama!!kok disini sich?? Siapa juga tu Om-om??”seketika itu darahku mendidih,betapa tidak mamaku sangat mesra dengan om itu?? Mamaku disuapi, dipeluk dan dicium Om itu.
Dengan santainya Dewa membujukku untuk tetap tenang dan sabar!! Karena aku tak tahan melihat, aku putuskan untuk pulang dan segera merebahkan badanku ke atas ranjangku yang super empuk!.
“Rizi….!! Brok…brok…brok…!!” biasa ocehan mamaku setiap pagi untuk membangunkanku. Aku males untuk bangun dari ranjang empukku. Tapi suara ocehan itu semakin menjadi. Akhirnya aku buka pintu kamarku dan??…
“Ada apa sih ma??”
“Kamu nggak masuk??udah pukul berapa ini??”..
“Males ahh Ma!!”..
“Kamu kenapa sich??”..
“Udah deh, aku males ya males!!”
Kemudian papaku membujukku seperti biasa yang selalu papa lakukan jika aku marah kepada mamaku!.
“Kamu kenapa sich nak?? Tumben males sekolah?”.
“Pa, papa kemana aja sich! Mama tu dijagain!!”deraku kepada papaku.
“Kamu ini kenapa sich Zi? Aneh pertanyaan kamu itu??”sontak papaku.
Karena aku anaknya ceplas-ceplos, aku ceritakan semua kejadian malam tadi., wahh seketika itu???….
“Braak….Briik……Bruuk……Tooooorr!!”
Aku mendengar ocehan orangtuaku yang tak pantas aku dengar!! Ternyata sebelumnya papaku sudah menduga perselingkuhan itu!! Dan hal itu semakin membuat aku mengutuk mamaku. Aku menjadi semakin muak di rumah, aku putuskan untuk pergi dan “MBOLANG” bersama Caca dan aku ceritakan semua masalahku padanya.
“Zi, coba deh ini??”kata Caca padaku.
“Apa ini Ca,permen kah??tapi kuk aneh bentuknya??kok pahit??obat ya??obat apa??”tanyaku pada Caca dengan segudang penasaranku karena aku belum pernah tau obat apa yang sedang diberikan Caca padaku.
“Udah deh!! Jangan ngoceh aja!! Cepetan minum! Itu bisa membuat kamu lupa masalahmu dan bisa membuat kamu”FLY”…hehe!!”desa Caca agar aku segera minum obat itu.
“Haha, ada aja kamu Ca!! Tanpa ragu aku meminum obat itu!!”
Semakin hari, aku semakin gerah di rumah, setiap hari aku harus mendengar percecokan kedua orangtuaku. Hingga berakhir diperceraian yang akan disidang minggu depan. Dan mulai saat itu aku semakin dan semakin mengutuk mamaku. Untuk itu aku menjadi sering mengkonsumsi obat yang akhirnya aku beli dari Caca. Meskipun aku harus menghabiskan uangku untuk membeli barang itu. Tapi tak apalah, secara papaku selalu menuruti kemauanku. Apalagi hanya uang jajan. Karena setelah percereain itu, aku memilih tinggal bersama papaku karena aku pikir papa bisa mendukung karirku ketimbang ikut mama yang sekarang tak punya apa-apa karena perceraian itu!! Aku juga tak tau mamaku sekarang ada dimana!! Mungkin dengan om-om itu!!.
………………………………………………………………………………………………………………………………………….
In the BMB Restaurant
“Zi??? Kamu kenapa sich?? Akhir-akhir ini kamu berubah drastis banget! Pemalas, sering bolos, aku dengar dari papamu, karirmu merosot, sering membangkang, menghabiskan uang, nilai-nilaimu jatuh dan sering pulang malam?! Kenapa sich Zi??”Tanya Dewa yang sedang mengajakku makan siang di warung favoritku. Tanpa basa-basi aku tinggalkan Dewa dan aku pulang!.
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
Keesokan harinya didepan sekolah.
“Zi………!!!!Zi……..!!”teriak Dewa padaku.
“Zi,tunggu-tunggu!!”teriak Dewa sembari menarik tanganku.
“Ada apa sich Dewa?? Aku capek mau pulang!”tambahku.
“Zi, ibumu sedang sakit!! Kamu ini kenapa sich?? Iya aku tahu mamamu pernah berbuat salah padamu dan keluargamu, tapi tak adakah maaf untuk mamamu?? Lihat dia!! Lihat!!!!!! Disana dia sekarat menunggui kedatanganmu!! Apakah kamu akan tetap seperti ini?? Durhaka kamu Zi??!! Menyesal aku telah memujamu!!”
Begitu kaget dan tersontaknya aku mendengar kata-kata Dewa , dia yang telah aku anggap sahabatku, sebagai kakak, sebagai penghibur laraku, yang selalu lembut dan mengertiku berkata sekeras itu padaku didepan seribu mata yang melihat. Walaupun akhirnya aku luluh juga!!
“Dewa, aku sudah hancur. Aku sudah masuk dalam jurang kegelapan. Aku ngeDrugs!! Karirku sudah hancur. Dan lebih bejatnya lagi , ternyata papaku juga main serong dengan perempuan lain, bahkan lebih bejat dari mamaku!! Aku sudah hancur Wa!!!”keluhku kepada Dewa, dengan bijaksananya dia menasehatiku.
“Zi, di dunia ini tiada manusia yang sempurna. Tidak ada seorang yang tidak pernah berbuat salah. Tuhan saja mau memaafkan hamba-Nya yang berbuat salah!! Apalagi dia mamamu Zi, yang mengandungmu, melahirkanmu, merawatmu dan membesarkanmu dengan peluh keringatnya”.
“Baiklah,Wa aku ikut denganmu!!”kataku pada Dewa.
“Zi, lihat itu, kok rame banget ya?? Ada apa ini?!!”panggil Dewa padaku. Lalu kamipun masuk ke sebuah rumah yang mungil. Lalu kutemui sesosok tubuh yang terbaring di pembaringannya, wajahnya yang pucat pasi dan tubuh yang kurus mengering membuatku semakin tertegun layu. Andai aku bisa memutar kembali waktu yang telah berjalan untuk kembali bersamanya. Dan aku yang tak punya hati untuk menyakitimu, aku yang tak punya hati tuk mencintaimu yang selalu mencintai diriku. Walau kau tahu diriku selalu menghujatmu.
By : Rizky Ayu
Read More..
Papaku seorang direktur Bank swasta. Papa sangat sayang kepadaku, dan juga papa seorang yang pandai ,seorang imam yang baik bagi keluargaku. Juga seorang yang paling sukses diantara saudara-saudaranya. Papa mempunyai harta yang berlimpah. Aku bangga atas kerja keras papaku.
Mamaku seorang wiraswasta , mama mempunyai sebuah butik yang megah di Jl.tamrin kediri. Butik itu pemberian papaku pada ulang tahun mamaku yang ke 26 tahun, saatku masih kecil. Maklumlah mamaku sangat pandai dalam membuat busana, sehingga untuk menyalurkan bakat mamaku, papaku memberikan butik untuk mama. Selain seorang yang pandai membuat busana mama juga seorang ibu rumah tangga yang baik, mama sangat pengertian padaku. Dan juga mamaku seorang yang pandai memasak. Pernah lho mama meraih juara 2 memasak diacara arisan ibu-ibu di kecamatanku. Mamaku juga seorang yang tegar, ketika didera masalah-masalah pun mama selalu tegar dan menyemangati papaku untuk bangkit dan selalu tersenyum.
Dan aku????
Aku adalah gadis mungil yang cute, manis, manja, baik hati dan tidak sombong. Begitu celoteh teman-temanku.usiaku baru akan menginjak tujuh belas tahun bulan November mendatang. Yach kurang lebih,kurang 8 bulan sich!!. Teman-temanku bilang aku anak yang cerewet!!. Ahh biar saja meskipun begitu aku cukup bangga dengan diriku. Karena aku bisa membanggakan kedua orangtuaku. Atas hasil kerja kerasku, aku mendapat beberapa juara model kontes. Aku bersyukur kepada Tuhan yang telah memberiku bentuk tubuh yang lumayan ideal juga kedua orangtuaku yang selalu mendukung aku.
“ Kring…………Kring……….!!”
“Halah,bunyi apaan sich ini??aku masih ngantuk!!” gumamku dalam hati.
“Rizi……….!!!!
“Brok……Brok………Brok………!!!”
Tersontak aku bangun dari ranjangku yang super empuk.
“Iya ma…!!”sahutku kaget sambil menguap aku tegakkan tubuhku untuk berjalan membuka pintu gerbang istanaku.
“Ada apa sich Ma??? Pagi-pagi udah ganggu aku ajach??!”
“Rizi sayang udah pukul berapa nih nak?? Kamu nggak sekolah??”
“Memang pukul berapa sih Ma sekarang?? Repot banget?!”
“Lihat itu jam?”dera mamaku !
Segera aku bangun melihat jam dan???……
“Hhaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!”
“Ma..??kenapa nggak bangunin aku dari tadi sih?terlambat nih??!!”
Segera aku ke kamar mandi , tapi karena aku melihat jam,sudah sangat siang, akhirnya aku nggak mandi, dan hanya menggosok gigi, berganti pakaian lalu langsung berangkat ke sekolah.
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
In the school.
“Tettt…………..Tetttt…..!!!
“Wadoch,udah bel masuk nich!”segera aku berlarimenuju kelas,dan ternyata???.
“Rizi,dari mana kamu? Sudah jam segini baru masuk kelas?? Telat berapa jam??”gumam guruku.
“Maaf Pak!tadi bangunnya kesiangan, macet lagi pak, kan baru telat 2 menit pak??!!”
“Masa???”sontak guru kesenianku yang kejam.
“Ya sudah,silahkan duduk!!”
“Alhamdulillah!!” Tumben Pak.Prasya nggak hukum aku ya?!”gumamkudalam hati.
“Anak-anak? Apakah kalian sudah membaca pengumuman ??”Tanya Pak.Prasya kepada kami.
“Sudah!!!”
“Rizi, kamu sudah membaca??”
Karena bingung dan tidak tau apa-apa aku jawab saja “iya” daripada kena hukuman.
“Iya Pak,sudah kok!”
“Bagus-bagus ,kamu ikut Rizi??”
Wadoch,ikut apa? Aku nggak ngerti apa-apa lagi,kemudian teman sebangkuku menyaut dan menjawab.
“Ya ikutlah Pak, secara Rizi kan top model kita “..
“Oooooo……….!lanjut Pak Prasya.
“Baiklah anak-anak kita mulai pelajaran hari ini!!”
…………………………………………………………………………………………………………………………………………..
In the class
“Tettt…………..Tettt………….!!”
“Zi,ke kantin yuuk?”ajak Rere.
“Ayok Re,aku juga laper kok tadi belom maem alias makan!!”
“Zi,gimana?udah siap?kan kontes modelnya 2 hari lagi??” Tanya Rere.
“Ya siaplah, ntar biar diurus mamaku!!” jawabku singkat.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………
2 hari kemudian
Gedung Monumen Simpang Simpang Lima Gumul 15 Juni 2008.
“Baiklah kita sambut peserta dengan nomer urut 11.”aku dengar pembawa acara menyebut nomer ku.
Dengan PDnya aku leukkan badanku kekiri kekanan. Setelah pentas aku duduk di kursi tamu sembari melihat para aksi kontestan yang lain.
“Hai,boleh duduk disini? “tiba-tiba seorang mendatangiku.
“Iya silahkan!!”
“Boleh kenal nggak??kenalin dunx aku Dewa,kamu siapa??”
“Aku Rizi!”jawabku.
Alhamdulillah, pada acara ini pula aku mendapat juara 1.
Dan mulai saat itu hubungan kami semakin erat,dan saking eratnya hingga kami dikira teman-temanku pacaran.
Tapi di acara SLG itu,aku merasa sedikit kecewa karena orangtuaku yang biasanya selalu menyempatkan diri hadir saat aku kontes kali ini absen, dengan alasan sibuk. Awalnya aku mengajak Papaku, tapi papa menolak dengan alasan akan ada rapat dengan kliennya, kemudian aku mengajak mamaku. Yach, ternyata mamaku sudah ada janji dengan pelanggannya juga. Sehingga tantekulah yang mengantar aku mengikuti kontes model itu.
……………………………………………………………………………………………………………………………………….
Setelah kontes itu, aku rasakan ketidak nyamanan dalam keluargaku. Papaku jarang pulang. Dan mamaku selalu sibuk di butiknya, sehingga sering pulang malam. Dan mulai saat itu aku selalu merasa kesepian. Akhirnya pada suatu malam, aku pergi ke suatu tempat yang ramai sekali. Aku pergi seorang diri dengan mengendarai mobil hadiah dari papaku saat ultahku ke-16 kemarin. Ya walaupun aku masih belum punya SIM sich!! Aku pergi ke sebuah taman kota yang ramai. Disana aku berkenalan dengan seorang cewek yang bernama Caca. Entah mengapa aku merasa cocok dengannya. Hingga aku selalu curhat padanya tentang semua akan problem keluargaku. Setelah malam itu, akhirnya hampir setiap malam aku pergi keluar.
……………………………………………………………………………………………………………………………………
In the BMB Restaurant
“Dewa makanannya enak yaa? Aku suka deh!”ungkapku kepada Dewa.
“Iya, dengan minumnya jus alpokat + roti bakar kesukaanmu kan??”jawab Dewa.
“Huuh..Huuh..!nyam-nyam!!”dengan lahapnya aku makan semua makananku!!.
Tiba-tiba..”Hah,itu kan Mama!!kok disini sich?? Siapa juga tu Om-om??”seketika itu darahku mendidih,betapa tidak mamaku sangat mesra dengan om itu?? Mamaku disuapi, dipeluk dan dicium Om itu.
Dengan santainya Dewa membujukku untuk tetap tenang dan sabar!! Karena aku tak tahan melihat, aku putuskan untuk pulang dan segera merebahkan badanku ke atas ranjangku yang super empuk!.
“Rizi….!! Brok…brok…brok…!!” biasa ocehan mamaku setiap pagi untuk membangunkanku. Aku males untuk bangun dari ranjang empukku. Tapi suara ocehan itu semakin menjadi. Akhirnya aku buka pintu kamarku dan??…
“Ada apa sih ma??”
“Kamu nggak masuk??udah pukul berapa ini??”..
“Males ahh Ma!!”..
“Kamu kenapa sich??”..
“Udah deh, aku males ya males!!”
Kemudian papaku membujukku seperti biasa yang selalu papa lakukan jika aku marah kepada mamaku!.
“Kamu kenapa sich nak?? Tumben males sekolah?”.
“Pa, papa kemana aja sich! Mama tu dijagain!!”deraku kepada papaku.
“Kamu ini kenapa sich Zi? Aneh pertanyaan kamu itu??”sontak papaku.
Karena aku anaknya ceplas-ceplos, aku ceritakan semua kejadian malam tadi., wahh seketika itu???….
“Braak….Briik……Bruuk……Tooooorr!!”
Aku mendengar ocehan orangtuaku yang tak pantas aku dengar!! Ternyata sebelumnya papaku sudah menduga perselingkuhan itu!! Dan hal itu semakin membuat aku mengutuk mamaku. Aku menjadi semakin muak di rumah, aku putuskan untuk pergi dan “MBOLANG” bersama Caca dan aku ceritakan semua masalahku padanya.
“Zi, coba deh ini??”kata Caca padaku.
“Apa ini Ca,permen kah??tapi kuk aneh bentuknya??kok pahit??obat ya??obat apa??”tanyaku pada Caca dengan segudang penasaranku karena aku belum pernah tau obat apa yang sedang diberikan Caca padaku.
“Udah deh!! Jangan ngoceh aja!! Cepetan minum! Itu bisa membuat kamu lupa masalahmu dan bisa membuat kamu”FLY”…hehe!!”desa Caca agar aku segera minum obat itu.
“Haha, ada aja kamu Ca!! Tanpa ragu aku meminum obat itu!!”
Semakin hari, aku semakin gerah di rumah, setiap hari aku harus mendengar percecokan kedua orangtuaku. Hingga berakhir diperceraian yang akan disidang minggu depan. Dan mulai saat itu aku semakin dan semakin mengutuk mamaku. Untuk itu aku menjadi sering mengkonsumsi obat yang akhirnya aku beli dari Caca. Meskipun aku harus menghabiskan uangku untuk membeli barang itu. Tapi tak apalah, secara papaku selalu menuruti kemauanku. Apalagi hanya uang jajan. Karena setelah percereain itu, aku memilih tinggal bersama papaku karena aku pikir papa bisa mendukung karirku ketimbang ikut mama yang sekarang tak punya apa-apa karena perceraian itu!! Aku juga tak tau mamaku sekarang ada dimana!! Mungkin dengan om-om itu!!.
………………………………………………………………………………………………………………………………………….
In the BMB Restaurant
“Zi??? Kamu kenapa sich?? Akhir-akhir ini kamu berubah drastis banget! Pemalas, sering bolos, aku dengar dari papamu, karirmu merosot, sering membangkang, menghabiskan uang, nilai-nilaimu jatuh dan sering pulang malam?! Kenapa sich Zi??”Tanya Dewa yang sedang mengajakku makan siang di warung favoritku. Tanpa basa-basi aku tinggalkan Dewa dan aku pulang!.
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
Keesokan harinya didepan sekolah.
“Zi………!!!!Zi……..!!”teriak Dewa padaku.
“Zi,tunggu-tunggu!!”teriak Dewa sembari menarik tanganku.
“Ada apa sich Dewa?? Aku capek mau pulang!”tambahku.
“Zi, ibumu sedang sakit!! Kamu ini kenapa sich?? Iya aku tahu mamamu pernah berbuat salah padamu dan keluargamu, tapi tak adakah maaf untuk mamamu?? Lihat dia!! Lihat!!!!!! Disana dia sekarat menunggui kedatanganmu!! Apakah kamu akan tetap seperti ini?? Durhaka kamu Zi??!! Menyesal aku telah memujamu!!”
Begitu kaget dan tersontaknya aku mendengar kata-kata Dewa , dia yang telah aku anggap sahabatku, sebagai kakak, sebagai penghibur laraku, yang selalu lembut dan mengertiku berkata sekeras itu padaku didepan seribu mata yang melihat. Walaupun akhirnya aku luluh juga!!
“Dewa, aku sudah hancur. Aku sudah masuk dalam jurang kegelapan. Aku ngeDrugs!! Karirku sudah hancur. Dan lebih bejatnya lagi , ternyata papaku juga main serong dengan perempuan lain, bahkan lebih bejat dari mamaku!! Aku sudah hancur Wa!!!”keluhku kepada Dewa, dengan bijaksananya dia menasehatiku.
“Zi, di dunia ini tiada manusia yang sempurna. Tidak ada seorang yang tidak pernah berbuat salah. Tuhan saja mau memaafkan hamba-Nya yang berbuat salah!! Apalagi dia mamamu Zi, yang mengandungmu, melahirkanmu, merawatmu dan membesarkanmu dengan peluh keringatnya”.
“Baiklah,Wa aku ikut denganmu!!”kataku pada Dewa.
“Zi, lihat itu, kok rame banget ya?? Ada apa ini?!!”panggil Dewa padaku. Lalu kamipun masuk ke sebuah rumah yang mungil. Lalu kutemui sesosok tubuh yang terbaring di pembaringannya, wajahnya yang pucat pasi dan tubuh yang kurus mengering membuatku semakin tertegun layu. Andai aku bisa memutar kembali waktu yang telah berjalan untuk kembali bersamanya. Dan aku yang tak punya hati untuk menyakitimu, aku yang tak punya hati tuk mencintaimu yang selalu mencintai diriku. Walau kau tahu diriku selalu menghujatmu.
By : Rizky Ayu
RODA KEHIDUPAN SANG DEWI
Terik matahari siang itu tak meleburkan niat seorang gadis kecil penjual kue kering untuk menjajakan dagangannya, dengan langkah penuh lelah Ia berjalan dari rumah ke rumah, keringat yang tak henti membasahi tubuhnya, tak ia rasakan. Ia tak menghiraukan dahaga yang menghampirinya demi beberapa rupiah yang ia dapatkan dari penjualan kue kering buatan Ibunya. Terkadang kue-kue itu pun tak habis terjual, seperti hari ini. Ia pulang membawa sisa dagangannya. Dengan wajah kecewa ia menghampiri Ibunya yang sedang mencuci pakaian titipan tetangganya, karena pekerjaan Ibunya hanya sebagai tukang cuci pakaian.
“Bu…!!”, seru Dewi (nama gadis kecil itu) dengan lirih.
“Ada apa anakku? Apakah kuemu hari ini masih tersisa?” tebak seorang wanita paruh baya tersebut.
“Iya Bu. maafkan Dewi..!!”, jawab Dewi semakin lirih.
“Apa yang harus dimaafkan? Sudahlah ini bukan salahmu. Memang itu sudah menjadi rejeki kita hari ini, Aaaaagh……..,” tiba-tiba terlihat wajah ibunya yang pucat seperti menahan rasa sakit dan tangannya memegangi perutnya.
“Ibu kenapa? Ibu sedang sakit?”
“Tidak, Ibu tidak apa-apa,”
“Sudahlah Bu, Ibu istirahat saja!! biar Dewi yang melanjutkan pekerjaan Ibu,”
“Tidak usah, kamukan besok sekolah, lebih baik segeralah belajar!!”
“Tapi….., ya sudahlah,jika itu perintah Ibu, Dewi akan melaksanakannya, Ibu benar tidak apa-apa kan??”
“Iya, Ibu tidak apa-apa anakku,”
Dewi pun segera pergi kekamar untuk belajar.
αJJα
Keeasokan harinya seperti biasa sebelum Dewi berangkat sekolah, Dewi berpamitan dengan ibunya terlebih dahulu. Namun saat Dewi berpamitan tiba-tiba ibunya pingsan. Dewi yang panik kemudian bergegas mencari bantuan kepada tetangganya. Sesegera mungkin ibu Dewi dibawa ke puskesmas terdekat. Karena fasilitas yang kurang memadai, pihak puskesmas menyarankan untuk membawa ibu Dewi ke rumah sakit. Dengan resah Dewi menunggu ibunya didepan ruang UGD. Setelah beberapa saat lamanya, dokter yang memeriksa ibunya pun keluar, Dewi segera menanyakan keadaaan ibunya pada Dokter tersebut.
“Bagaimana keadaan Ibu saya Dok? Beliau sakit apa?” Tanya Dewi dengan cemas.
“Setelah saya periksa, saya menemukan ada sel kanker didalam rahim Ibu anda,”
“Apakah itu masih bisa untuk disembuhkan secara total Dok?”
“Kemungkinan untuk sembuh masih ada. Karena sel tersebut masih belum terlalu kronis dan belum menyebar keorgan yang lainnya,”
“Lalu bagaimana cara menyembuhkannya, Dok?”.
“Salah satu caranya adalah Ibu anda harus menjalani operasi pengangkatan kantung rahim,”
“Operasi pengangkatan kantung rahim, Dok?” sentak Dewi kaget.
“Iya, memang ada apa?”
“Ti…tidak Dok, memang berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk melaksanakan operasi tersebut?”
“Mengenai keterangan biaya, anda bisa menanyakan pada bagian administrasi rumah sakit, karena hal itu bukan kewenangan seorang Dokter, tapi saya ingatkan untuk tidak terlalu lama,”
“Baik Dok, saya mengerti,”
“Baiklah masih banyak pasien yang menanti saya, saya tinggal dulu, semoga Ibu anda dapat melawan sakitnya,”
“Terima kasih Dok!!”
Dokter tersebut tersenyum sambil meninggalkan Dewi. Dewi pun segera bergegas menuju bagian administrasi rumah sakit untuk menanyakan biaya operasi untuk ibunya. Betapa terkejutnya ia saat tahu bahwa biaya operasi tersebut sebesar Rp 20.000.000. Dari mana ia akan mencari uang sebanyak itu?
Tiba-tiba ketika ia hendak bergegas pergi. Ia bertemu dengan temannya yang bernama Desy yang sedang bersama dengan kakaknya.
“Hai Dewi, sedang apa kamu di sini? Hari ini juga Kamu tidak masuk sekolah, kenapa?” Tanya Desy.
“Iya, aku sedang mendapat musibah, Ibuku dirawat disini,” curhat Dewi.
“Oh ya? memang Ibumu sakit apa?”
“Beliau sedang sakit kanker rahim,”
“Astaga? Lalu apa Ibumu akan dioperasi?”
“Dokter menyarankan begitu, tapi bagaimana caranya aku bisa mendapatkan uang untuk biaya operasi Ibu? Sedangkan kamu tahu sendiri aku bisa sekolah saja itu karena bea siswa dari pihak sekolah,”
“Mudah, kamu ikut aku saja, pasti dalam semalam kamu bisa mendapatkan uang banyak!!” ceplos kakak Desy.
“Huuss!! kakak ini ngomong apa sih? Jangan ajari Dewi untuk menjadi seperti kakak, Dewi ini anak baik-baik. Sudahlah, Wi, tak usah Kamu dengarkan kata-kata kakak yang ngawur itu. Eh.., sudah dulu ya Wi, aku sudah harus pulang nih, aku doakan semoga Ibumu lekas sembuh dan besok aku akan meminta bantuan teman-teman dan guru-guru untuk menggalang dana demi meringankan biaya rumah sakit Ibumu,”
“Terima kasih banyak Desy, Kamu memang temanku yang sangat baik,”
αJJα
Keesokan harinya Dewi pergi ke sekolah untuk meminta izin atas absentnya selama beberapa hari mendatang, kemudian ia bergegas mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang. Mulai dari menjadi loper Koran dipagi hari, sampai menjadi pencuci piring disebuah rumah makan hingga larut malam. Sepulangnya dari kerja ia menemani ibunya di rumah sakit sepajang malam. Dewi memikirkan kata-kata kakak Desy tempo hari, karena ia tahu dengan uang yang ia peroleh dari pekerjaannya akan memerlukan waktu yang lama untuk mengumpulkannya. Dalam hati Dewi berkecamuk apa yang harus ia lakukan untuk pengobatan ibunya. Sedangkan jumlah uang sumbangan hasil penggalangan dana dari teman-teman dan guru-gurunya hamya cukup untuk biaya inap di rumah sakit selama beberapa hari. Namun, Dewi juga tahu pekerjaan yang dimaksud oleh kakak Desy.
Dewi semakin gelisah, batinnya berperang melawan fikirnya. Disatu sisi ia ingin sekali menyelamatkan nyawa ibunya. Tapi, disisi lain ia tahu bahwa itu adalah pekerjaan yang sangat hina. Akhirnya ia memutuskan pilihan yang akan ia tempuh demi ibunya. Dengan keringat dingin mengucur dari dahinya, dengan menghela nafas dalam-dalam, ia mengangkat handphonenya untuk menelepon kakak Desy. Mereka berdua sepakat untuk bertemu disebuah kafe nanti malam.
Sore itu juga Dewi bersiap untuk pergi menemui kakak Desy. Melihat ibunya yang terbaring lemah, hati kecil Dewi berkata, Ibu maafkan Dewi…, mungkin jalan yang Dewi tempuh ini salah. Tapi, harus bagaimana lagi? Dewi sayang Ibu, Dewi nggak mau kalau Ibu terus-terusan seperti ini, Dewi ingin Ibu segera sembuh.
Dengan tergesa ia berangkat. Hingga saat ia hendak menyeberang jalan, tiba-tiba, Ciiiit…….!!!!’ bunyi rem mobil berdecit.
Karena kaget, Dewi pun terjatuh tepat di depan mobil yang berdecit tadi. Terlihat seorang pria dewasa keluar dari mobil tersebut. Betapa terkejutnya pria itu saat hendak menolong Dewi untuk berdiri. Ia melihat sebingkai foto yang terjatuh dari tas Dewi. Dengan wajah terpukau, pria itu mengambil foto tersebut. Dewi yang terheran memberanikan diri untuk bertanya.
“Maaf, apakah paman kenal dengan orang yang ada difoto itu?” Tanya Dewi.
“Iya, aku sangat mengenalnya! Lalu kamu siapa? Kenapa kamu punya foto Hani istriku?”
Wajah Dewi pun menjadi pucat setelah mendengar perkataan pria itu. Dengan nada terbata Dewi menjawab.
“Beliau adalah Ibu saya,”
“Ibumu? Berarti kamu adalah Dewi anakku!!” Teriak pria itu kegirangan.
“Maksud paman?” Tanya Dewi yang masih terlihat bingung.
“Aku ini Adi, Ayahmu, kamu tahukan nama Ayahmu?” Jawab pria itu meyakinkan Dewi.
“Tapi……, jika benar Ayahku adalah paman, kenapa selama ini paman meninggalkan saya dan Ibu?” Kata Dewi dengan lirih.
“Maafkan Ayah anakku, Ayah tidak bermaksud meninggalkanmu dengan Ibumu, tapi kakekmu yang tak merestui pernikahan Ayah dengan Ibumu, beliau memisahkan kami saat kamu berumur 2 tahun. Dan selama 15 tahun ini Ayah selalu mencarimu dan Ibumu kemana-mana,” cerita pria itu.
“Jadi benar paman ini adalah Ayahku?” Kata Dewi yang masih tak percaya.
“Iya, jangan panggil Aku paman, panggillah Aku Ayah!!”
“Baiklah, Ayah……,” seraya Dewi memeluk tubuh pria itu.
“Oh ya Anakku? Dimana Ibumu saat ini?”
“Tuhan mempertemukan kita disaat yang tepat. Ayah, saat ini Ibu sedang terbaring lemah di rumah sakit, beliau mengidap penyakit kanker rahim dan Dokter menyarankan untuk melakukan operasi sesegera mungkin. Tapi, Dewi belum punya biayanya, Ayah,” papar Dewi dengan nada memelas.
“Tenang saja, biar Ayah yang membereskan semuanya. Besok Ayah janji Ibu pasti sudah dioperasi,”
“Terima kasih Ayah, Dewi sayang Ayah…!!”
Dewi pun mengurungkan niatnya untuk menumui kakak Desy, karena ia telah menemukan titik terang dari permasalahannya.
αJJα
Keeseokan harinya, ayah Dewi mempersiapkan semuanya. Siang itu juga ibu Dewi dioperasi. Dan syukurlah operasi tersebut berjalan dengan baik dan lancar. Beberapa hari setelah operasi ibu Dewi diperkenankan untuk pulang. Untuk menyambut kepulangan ibunya, Dewi dan Ayahnya mempersiapkan sebuah kejutan kecil untuk ibunya. Betapa terkejutnya sang ibu ketika melihat suaminya yang telah sekian lama menghilang, kini ada dihadapannya dan berkumpul bersama dengan keluarganya.
Sejak saat itu kehidupan Dewi berubah drastis. Dari kehidupan yang berkekurangan berubah menjadi sangat dan sangat berkecukupan. Dengan tersenyum lebar, hati kecil Dewi berbisik.
“Memang, kehidupan ini bagaikan roda yang berputar, ada kalanya kita dibawah dan ada kalanya kita diatas,”
Oleh: Siti Nur Hanifah
Read More..
“Bu…!!”, seru Dewi (nama gadis kecil itu) dengan lirih.
“Ada apa anakku? Apakah kuemu hari ini masih tersisa?” tebak seorang wanita paruh baya tersebut.
“Iya Bu. maafkan Dewi..!!”, jawab Dewi semakin lirih.
“Apa yang harus dimaafkan? Sudahlah ini bukan salahmu. Memang itu sudah menjadi rejeki kita hari ini, Aaaaagh……..,” tiba-tiba terlihat wajah ibunya yang pucat seperti menahan rasa sakit dan tangannya memegangi perutnya.
“Ibu kenapa? Ibu sedang sakit?”
“Tidak, Ibu tidak apa-apa,”
“Sudahlah Bu, Ibu istirahat saja!! biar Dewi yang melanjutkan pekerjaan Ibu,”
“Tidak usah, kamukan besok sekolah, lebih baik segeralah belajar!!”
“Tapi….., ya sudahlah,jika itu perintah Ibu, Dewi akan melaksanakannya, Ibu benar tidak apa-apa kan??”
“Iya, Ibu tidak apa-apa anakku,”
Dewi pun segera pergi kekamar untuk belajar.
αJJα
Keeasokan harinya seperti biasa sebelum Dewi berangkat sekolah, Dewi berpamitan dengan ibunya terlebih dahulu. Namun saat Dewi berpamitan tiba-tiba ibunya pingsan. Dewi yang panik kemudian bergegas mencari bantuan kepada tetangganya. Sesegera mungkin ibu Dewi dibawa ke puskesmas terdekat. Karena fasilitas yang kurang memadai, pihak puskesmas menyarankan untuk membawa ibu Dewi ke rumah sakit. Dengan resah Dewi menunggu ibunya didepan ruang UGD. Setelah beberapa saat lamanya, dokter yang memeriksa ibunya pun keluar, Dewi segera menanyakan keadaaan ibunya pada Dokter tersebut.
“Bagaimana keadaan Ibu saya Dok? Beliau sakit apa?” Tanya Dewi dengan cemas.
“Setelah saya periksa, saya menemukan ada sel kanker didalam rahim Ibu anda,”
“Apakah itu masih bisa untuk disembuhkan secara total Dok?”
“Kemungkinan untuk sembuh masih ada. Karena sel tersebut masih belum terlalu kronis dan belum menyebar keorgan yang lainnya,”
“Lalu bagaimana cara menyembuhkannya, Dok?”.
“Salah satu caranya adalah Ibu anda harus menjalani operasi pengangkatan kantung rahim,”
“Operasi pengangkatan kantung rahim, Dok?” sentak Dewi kaget.
“Iya, memang ada apa?”
“Ti…tidak Dok, memang berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk melaksanakan operasi tersebut?”
“Mengenai keterangan biaya, anda bisa menanyakan pada bagian administrasi rumah sakit, karena hal itu bukan kewenangan seorang Dokter, tapi saya ingatkan untuk tidak terlalu lama,”
“Baik Dok, saya mengerti,”
“Baiklah masih banyak pasien yang menanti saya, saya tinggal dulu, semoga Ibu anda dapat melawan sakitnya,”
“Terima kasih Dok!!”
Dokter tersebut tersenyum sambil meninggalkan Dewi. Dewi pun segera bergegas menuju bagian administrasi rumah sakit untuk menanyakan biaya operasi untuk ibunya. Betapa terkejutnya ia saat tahu bahwa biaya operasi tersebut sebesar Rp 20.000.000. Dari mana ia akan mencari uang sebanyak itu?
Tiba-tiba ketika ia hendak bergegas pergi. Ia bertemu dengan temannya yang bernama Desy yang sedang bersama dengan kakaknya.
“Hai Dewi, sedang apa kamu di sini? Hari ini juga Kamu tidak masuk sekolah, kenapa?” Tanya Desy.
“Iya, aku sedang mendapat musibah, Ibuku dirawat disini,” curhat Dewi.
“Oh ya? memang Ibumu sakit apa?”
“Beliau sedang sakit kanker rahim,”
“Astaga? Lalu apa Ibumu akan dioperasi?”
“Dokter menyarankan begitu, tapi bagaimana caranya aku bisa mendapatkan uang untuk biaya operasi Ibu? Sedangkan kamu tahu sendiri aku bisa sekolah saja itu karena bea siswa dari pihak sekolah,”
“Mudah, kamu ikut aku saja, pasti dalam semalam kamu bisa mendapatkan uang banyak!!” ceplos kakak Desy.
“Huuss!! kakak ini ngomong apa sih? Jangan ajari Dewi untuk menjadi seperti kakak, Dewi ini anak baik-baik. Sudahlah, Wi, tak usah Kamu dengarkan kata-kata kakak yang ngawur itu. Eh.., sudah dulu ya Wi, aku sudah harus pulang nih, aku doakan semoga Ibumu lekas sembuh dan besok aku akan meminta bantuan teman-teman dan guru-guru untuk menggalang dana demi meringankan biaya rumah sakit Ibumu,”
“Terima kasih banyak Desy, Kamu memang temanku yang sangat baik,”
αJJα
Keesokan harinya Dewi pergi ke sekolah untuk meminta izin atas absentnya selama beberapa hari mendatang, kemudian ia bergegas mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang. Mulai dari menjadi loper Koran dipagi hari, sampai menjadi pencuci piring disebuah rumah makan hingga larut malam. Sepulangnya dari kerja ia menemani ibunya di rumah sakit sepajang malam. Dewi memikirkan kata-kata kakak Desy tempo hari, karena ia tahu dengan uang yang ia peroleh dari pekerjaannya akan memerlukan waktu yang lama untuk mengumpulkannya. Dalam hati Dewi berkecamuk apa yang harus ia lakukan untuk pengobatan ibunya. Sedangkan jumlah uang sumbangan hasil penggalangan dana dari teman-teman dan guru-gurunya hamya cukup untuk biaya inap di rumah sakit selama beberapa hari. Namun, Dewi juga tahu pekerjaan yang dimaksud oleh kakak Desy.
Dewi semakin gelisah, batinnya berperang melawan fikirnya. Disatu sisi ia ingin sekali menyelamatkan nyawa ibunya. Tapi, disisi lain ia tahu bahwa itu adalah pekerjaan yang sangat hina. Akhirnya ia memutuskan pilihan yang akan ia tempuh demi ibunya. Dengan keringat dingin mengucur dari dahinya, dengan menghela nafas dalam-dalam, ia mengangkat handphonenya untuk menelepon kakak Desy. Mereka berdua sepakat untuk bertemu disebuah kafe nanti malam.
Sore itu juga Dewi bersiap untuk pergi menemui kakak Desy. Melihat ibunya yang terbaring lemah, hati kecil Dewi berkata, Ibu maafkan Dewi…, mungkin jalan yang Dewi tempuh ini salah. Tapi, harus bagaimana lagi? Dewi sayang Ibu, Dewi nggak mau kalau Ibu terus-terusan seperti ini, Dewi ingin Ibu segera sembuh.
Dengan tergesa ia berangkat. Hingga saat ia hendak menyeberang jalan, tiba-tiba, Ciiiit…….!!!!’ bunyi rem mobil berdecit.
Karena kaget, Dewi pun terjatuh tepat di depan mobil yang berdecit tadi. Terlihat seorang pria dewasa keluar dari mobil tersebut. Betapa terkejutnya pria itu saat hendak menolong Dewi untuk berdiri. Ia melihat sebingkai foto yang terjatuh dari tas Dewi. Dengan wajah terpukau, pria itu mengambil foto tersebut. Dewi yang terheran memberanikan diri untuk bertanya.
“Maaf, apakah paman kenal dengan orang yang ada difoto itu?” Tanya Dewi.
“Iya, aku sangat mengenalnya! Lalu kamu siapa? Kenapa kamu punya foto Hani istriku?”
Wajah Dewi pun menjadi pucat setelah mendengar perkataan pria itu. Dengan nada terbata Dewi menjawab.
“Beliau adalah Ibu saya,”
“Ibumu? Berarti kamu adalah Dewi anakku!!” Teriak pria itu kegirangan.
“Maksud paman?” Tanya Dewi yang masih terlihat bingung.
“Aku ini Adi, Ayahmu, kamu tahukan nama Ayahmu?” Jawab pria itu meyakinkan Dewi.
“Tapi……, jika benar Ayahku adalah paman, kenapa selama ini paman meninggalkan saya dan Ibu?” Kata Dewi dengan lirih.
“Maafkan Ayah anakku, Ayah tidak bermaksud meninggalkanmu dengan Ibumu, tapi kakekmu yang tak merestui pernikahan Ayah dengan Ibumu, beliau memisahkan kami saat kamu berumur 2 tahun. Dan selama 15 tahun ini Ayah selalu mencarimu dan Ibumu kemana-mana,” cerita pria itu.
“Jadi benar paman ini adalah Ayahku?” Kata Dewi yang masih tak percaya.
“Iya, jangan panggil Aku paman, panggillah Aku Ayah!!”
“Baiklah, Ayah……,” seraya Dewi memeluk tubuh pria itu.
“Oh ya Anakku? Dimana Ibumu saat ini?”
“Tuhan mempertemukan kita disaat yang tepat. Ayah, saat ini Ibu sedang terbaring lemah di rumah sakit, beliau mengidap penyakit kanker rahim dan Dokter menyarankan untuk melakukan operasi sesegera mungkin. Tapi, Dewi belum punya biayanya, Ayah,” papar Dewi dengan nada memelas.
“Tenang saja, biar Ayah yang membereskan semuanya. Besok Ayah janji Ibu pasti sudah dioperasi,”
“Terima kasih Ayah, Dewi sayang Ayah…!!”
Dewi pun mengurungkan niatnya untuk menumui kakak Desy, karena ia telah menemukan titik terang dari permasalahannya.
αJJα
Keeseokan harinya, ayah Dewi mempersiapkan semuanya. Siang itu juga ibu Dewi dioperasi. Dan syukurlah operasi tersebut berjalan dengan baik dan lancar. Beberapa hari setelah operasi ibu Dewi diperkenankan untuk pulang. Untuk menyambut kepulangan ibunya, Dewi dan Ayahnya mempersiapkan sebuah kejutan kecil untuk ibunya. Betapa terkejutnya sang ibu ketika melihat suaminya yang telah sekian lama menghilang, kini ada dihadapannya dan berkumpul bersama dengan keluarganya.
Sejak saat itu kehidupan Dewi berubah drastis. Dari kehidupan yang berkekurangan berubah menjadi sangat dan sangat berkecukupan. Dengan tersenyum lebar, hati kecil Dewi berbisik.
“Memang, kehidupan ini bagaikan roda yang berputar, ada kalanya kita dibawah dan ada kalanya kita diatas,”
Oleh: Siti Nur Hanifah
PERTEMUAN YANG TAK TERDUGA
Disebuah jalan menuju kerumah Stella…..
“Lho, itu kan kak Damian kakak kelas kita”, kata Stella kepada temannya. Damian pun hanya membalasnya dengan sebuah senyuman kosong. Dan ini pun menjadi pertemuan pertama mereka disebuah lampu lalu lintas disebuah jalan. Sejak saat itu, Stella dan Damian pun sering bertemu. Padahal sebelum mereka bertemu pada saat itu, keduanya tidak pernah saling bertemu, bahkan juga tidak saling kenal satu sama lain.
Suatu pagi disebuah rapat OSIS di sekolah…..
Stella dan temannya Wingky sedang asyik berdiskusi, tiba-tiba salah seorang anggota OSIS mengajak Stella berbicara. Dan anggota OSIS itu adalah Damian kakak kelas Stella. “Hai dek, punya obeng gak?” tanya Damian. Stella pun menjawab, “He…ya gak punya lah kak”. kemudian Damian pun bertanya lagi, “Tapi kalo nomor Hp ada kan?”. Stella pun hanya tersenyum bingung.
Suatu sore, disekolah Stella diadakan sebuah pertandingan sepak bola. Dan kelas Stella jadi pesertanya. Stella dan teman-temannya akan segera pergi ke lapangan untuk memberi semangat kepada temannya yang sedang ikut bertanding. Tapi sebelum Stella berangkat ke lapangan, tiba-tiba Hp Stella berdering. Dan disitu ada sebuah sms yang isinya menanyakan apakah benar ini nomornya Stella. Stella pun bingung dan penasaran. Tak lama kemudian, Hp Stella berdering lagi dan disitu juga ada sms yang mengatakan bahwa si pengirim sms tadi adalah anggota OSIS, dengan seorang pengirim yang sama. Stella pun langsung menebak, bahwa yang mengirim sms tadi adalah Damian, kakak kelasnya. Dan tanpa disengaja, tebakan Stella pun benar. Karena lama-kelamaan, si pengirim sms itu pun mengaku pada Stella, bahwa dia adalah Damian, dan dari situlah, hubungan mereka berlanjut.
Stella Dan Damian pun jadi sering sms-an dan juga telpon. Bahkan di sekolahan pun, Damian juga sering menghampiri Stella di kelasnya. Sampai-sampai Damian lupa, bahwa dia masih mempunyai seorang kekasih disekolahannya. Sebut saja dia Dewi. Tapi hubungan keduanya memang sedang tidak baik. Mereka sedang dilanda suatu masalah.
Suatu hari, teman Dewi (Mona), mengetahui Damian sedang menghampiri Stella di kelasnya. Dan keesokan harinya, Mona memberi tahu hal itu kepada Dewi. “Eh wi, kamu tahu gak, kemarin aku liat Damian loe”, katanya. Dewi pun mulai bertanya pada Mona (temannya) itu, “ Liat kenapa?” tanyanya. “Liat Damian lagi nyamperin Stella, anak kelas 1 itu”. Jawab Mona. Kemudian Dewi pun kembali bertanya pada Mona “Kamu yakin? Itu Damian?” Tanyanya dengan nada meyakinkan. “yakin banget dong wi, masak aku lupa sih sama tampangnya Damian?” jawab Mona. Dewi pun marah kepada Damian. Hingga pada suatu saat, Stella dan Damian pun jadi tidak pernah berhubungan lagi. Hal itu dikarenakan karena Dewi tidak suka jika Damian berhubungan dengan Stella.
Keesokan harinya, teman Damian (Yoga) memberi tahu Stella, kalau Damian belum bisa menghubungi Stella. Stella pun merasa sedih karena dia sudah terlanjur menyimpan rasa pada Damian, sedangkan dia tidak bisa berhubungan lagi dengan Damian. Dan dia juga menyerah karena dia merasa bahwa sosok kak Dewi memang tidak bisa digantikan oleh siapapun di hati Damian.
Beberapa minggu kemudian, Damian pun mulai menghubungi Stella lagi. Dan dia pun bilang pada Stella bahwa dia sudah putus dengan Dewi. Stella pun merasa bersalah, karena pada saat Damian dan Dewi ada masalah, Stella pun masuk dikehidupan Damian. Dia merasa bahwa Damian dan Dewi putus karena gara-gara dia. Tapi dengan sikap Damian yang dewasa, dia berusaha meyakinkan Stella bahwa dia putus dengan Dewi bukan karena kesalahan Stella. Tapi, karena sikap Dewi yang sangat egois. Akhirnya, Stella pun percaya pada Damian. Dan sejak saat itu, hubungan keduanya kembali bersemi. Hubungan Stella dan Damian kembali dekat. Hingga bisa dikatakan, hubungan keduanya adalah hubungan yang lebih dari sekedar teman biasa.
Hari demi hari mereka lalui dengan perasaan gembira dan bahagia. Mereka tidak pernah merasa jenuh sedikit pun satu sama lain. Setiap hari, Stella dan Damian selalu berhubungan, baik lewat sms ataupun telpon. Hingga pada suatu hari, saat mereka berdua sedang berbicara, tanpa disengaja hal yang mereka sukai itu pun sama. Contohnya saja, Omellete. Damian sangat suka pada makanan itu, begitu juga Stella. Dan awal kesamaan itulah yang membuat keduanya semakin dekat dalam menjalani hari-hari ini.
Dan bagi Damian sendiri, kejadian lalu itu hanyalah pertemuan biasa. Namun anehnya, setiap Damian bertemu dengan Stella, entah mengapa, jantung Damian pun merasakan getaran yang berbeda dari biasanya. Padahal sebenarnya, Damian adalah sosok laki-laki yang terkenal dengan sikapnya yang cukup cuek terhadap seorang wanita. Namun, sejak dia bertemu dengan Stella, dia merasakan hal yang berbeda dari biasanya, ia seakan-akan menemukan seseorang yang mampu meluluhkan hatinya yang beku terhadap seorang wanita.
Setiap langkah yang Damian pijak, bayangan Stella pun selalu ada di benaknya. Damian bingung dengan apa yang terjadi dengan dirinya. Damian bertanya-tanya pada hatinya, apakah maksud dari semua ini?. Namun, ia tetap tidak menemukan jawabannya. hingga akhirnya dia menyerah dan berkata “biar waktu yang akan menjawab semua teka-teki ini”.
Sampai dengan suatu saat, Damian pun terus terbayang-bayang dengan wajah Stella. Dia benar-benar tidak bisa melepas bayangan Stella dari pikirannya. Dan anehnya, Stella pun mengalami hal yang sama seperti apa yang Damian alami.
Keesokan harinya, saat mereka berdua bertemu, hal pertama yang mereka lakukan adalah saling berbagi cerita satu sama lain. Damian pun mulai membuka topik cerita. “kenapa sih bayangan wajahmu selalu ada di pikiranku?”, kata Damian. Stella pun diam tanpa kata mendengar omongan Damian. Lalu Stella pun berkata, “jadi, kakak juga mengalami hal itu?”, kata Stella dengan nada kaget. “lho, memangnya kenapa, dek?”, tanya Damian. “aku juga mengalami hal yang sama seperti yang kakak alami!”, jelas Stella. Mereka pun bingung memikirkan hal itu. Sampai-sampai, hati Stella pun berkata, apa mungkin ini jodoh? “ah. . .tapi, mungkin ini cuma pikiranku aja”, pikir Stella. Hubungan keduanya benar-benar aneh, karena dibalik hubungan mereka, tersimpan banyak persamaan yang tidak pernah mereka duga. Mulai dari makanan, lagu, genre musik, kebiasaan, harapan, impian, bahkan cita-cita di masa depan pun mereka sama. Ini adalah persamaan yang benar-benar tidak wajar. Persamaan mereka terlalu banyak. “jika ini hanya sekedar kebetulan, nggak mungkin persamaan kita sampai sejauh ini?”, kata Stella. “kamu benar, dek. Ini benar-benar hal yang nggak wajar.” Sahut Damian.
Beberapa bulan ke depan, Damian akan segera melanjutkan studinya ke luar kota. Hati Stella pun sedih mendengar rencana Damian. Tapi, apa boleh buat, itu adalah rencana untuk membangun sebuah masa depan. Akhirnya, Stella pun setuju dengan rencana Damian. Dan dia juga merelakan Damian untuk pergi keluar kota.
Hari demi hari Stella lalui tanpa seorang Damian di sisinya. Damian pun juga merasakan hal yang sama seperti yang Stella rasakan. Sekarang, mereka berdua tidak pernah bertemu dan juga jarang berkomunikasi. hal itu membuat keduanya menyimpan perasaan rindu yang sangat mendalam. Meskipun begitu, Stella tetap sabar menanti kedatangan Damian. Dia tidak pernah bermain-main dengan laki-laki lain selain Damian. Ia tetap teguh pada pendiriannya, begitu juga Damian. Dia benar-benar di selimuti dengan rasa rindu yang sangat mendalam, sampai-sampai, ia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Stella. Karena, sekarang hanya ada Stella di hati Damian.
Beberapa tahun kedepan, Damian pun sudah menyelesaikan studinya. Dia juga sudah bekerja di sebuah perusahaan ternama di kota itu. Dan hal selanjutnya yang ingin Damian lakukan adalah, menemui Stella dan mengajaknya untuk menikah dengannya. Setelah mereka berdua bertemu, mereka pun saling melepas rasa rindu masing-masing. Dan pada waktu itu juga, Damian pun melamar Stella untuk menjadi istrinya. Stella pun kaget dengan permintaan Damian. Tapi bagaimanapun juga, Stella memang sayang dan cinta pada Damian. Akhirnya, Stella pun menerima lamaran Damian.
Dan beberapa minggu ke depan, keduanya pun melangsungkan sebuah pesta pernikahan. Rumah tangga Damian dan Stella pun sangat harmonis. Bahkan pernikahan mereka pun membawakan sebuah hasil, yaitu dengan adanya kehadiran anak-anak disisi mereka. Dan hal ini, membuat keduanya semakin bahagia dan harmonis selalu.
By : Ony Ulfa
Read More..
“Lho, itu kan kak Damian kakak kelas kita”, kata Stella kepada temannya. Damian pun hanya membalasnya dengan sebuah senyuman kosong. Dan ini pun menjadi pertemuan pertama mereka disebuah lampu lalu lintas disebuah jalan. Sejak saat itu, Stella dan Damian pun sering bertemu. Padahal sebelum mereka bertemu pada saat itu, keduanya tidak pernah saling bertemu, bahkan juga tidak saling kenal satu sama lain.
Suatu pagi disebuah rapat OSIS di sekolah…..
Stella dan temannya Wingky sedang asyik berdiskusi, tiba-tiba salah seorang anggota OSIS mengajak Stella berbicara. Dan anggota OSIS itu adalah Damian kakak kelas Stella. “Hai dek, punya obeng gak?” tanya Damian. Stella pun menjawab, “He…ya gak punya lah kak”. kemudian Damian pun bertanya lagi, “Tapi kalo nomor Hp ada kan?”. Stella pun hanya tersenyum bingung.
Suatu sore, disekolah Stella diadakan sebuah pertandingan sepak bola. Dan kelas Stella jadi pesertanya. Stella dan teman-temannya akan segera pergi ke lapangan untuk memberi semangat kepada temannya yang sedang ikut bertanding. Tapi sebelum Stella berangkat ke lapangan, tiba-tiba Hp Stella berdering. Dan disitu ada sebuah sms yang isinya menanyakan apakah benar ini nomornya Stella. Stella pun bingung dan penasaran. Tak lama kemudian, Hp Stella berdering lagi dan disitu juga ada sms yang mengatakan bahwa si pengirim sms tadi adalah anggota OSIS, dengan seorang pengirim yang sama. Stella pun langsung menebak, bahwa yang mengirim sms tadi adalah Damian, kakak kelasnya. Dan tanpa disengaja, tebakan Stella pun benar. Karena lama-kelamaan, si pengirim sms itu pun mengaku pada Stella, bahwa dia adalah Damian, dan dari situlah, hubungan mereka berlanjut.
Stella Dan Damian pun jadi sering sms-an dan juga telpon. Bahkan di sekolahan pun, Damian juga sering menghampiri Stella di kelasnya. Sampai-sampai Damian lupa, bahwa dia masih mempunyai seorang kekasih disekolahannya. Sebut saja dia Dewi. Tapi hubungan keduanya memang sedang tidak baik. Mereka sedang dilanda suatu masalah.
Suatu hari, teman Dewi (Mona), mengetahui Damian sedang menghampiri Stella di kelasnya. Dan keesokan harinya, Mona memberi tahu hal itu kepada Dewi. “Eh wi, kamu tahu gak, kemarin aku liat Damian loe”, katanya. Dewi pun mulai bertanya pada Mona (temannya) itu, “ Liat kenapa?” tanyanya. “Liat Damian lagi nyamperin Stella, anak kelas 1 itu”. Jawab Mona. Kemudian Dewi pun kembali bertanya pada Mona “Kamu yakin? Itu Damian?” Tanyanya dengan nada meyakinkan. “yakin banget dong wi, masak aku lupa sih sama tampangnya Damian?” jawab Mona. Dewi pun marah kepada Damian. Hingga pada suatu saat, Stella dan Damian pun jadi tidak pernah berhubungan lagi. Hal itu dikarenakan karena Dewi tidak suka jika Damian berhubungan dengan Stella.
Keesokan harinya, teman Damian (Yoga) memberi tahu Stella, kalau Damian belum bisa menghubungi Stella. Stella pun merasa sedih karena dia sudah terlanjur menyimpan rasa pada Damian, sedangkan dia tidak bisa berhubungan lagi dengan Damian. Dan dia juga menyerah karena dia merasa bahwa sosok kak Dewi memang tidak bisa digantikan oleh siapapun di hati Damian.
Beberapa minggu kemudian, Damian pun mulai menghubungi Stella lagi. Dan dia pun bilang pada Stella bahwa dia sudah putus dengan Dewi. Stella pun merasa bersalah, karena pada saat Damian dan Dewi ada masalah, Stella pun masuk dikehidupan Damian. Dia merasa bahwa Damian dan Dewi putus karena gara-gara dia. Tapi dengan sikap Damian yang dewasa, dia berusaha meyakinkan Stella bahwa dia putus dengan Dewi bukan karena kesalahan Stella. Tapi, karena sikap Dewi yang sangat egois. Akhirnya, Stella pun percaya pada Damian. Dan sejak saat itu, hubungan keduanya kembali bersemi. Hubungan Stella dan Damian kembali dekat. Hingga bisa dikatakan, hubungan keduanya adalah hubungan yang lebih dari sekedar teman biasa.
Hari demi hari mereka lalui dengan perasaan gembira dan bahagia. Mereka tidak pernah merasa jenuh sedikit pun satu sama lain. Setiap hari, Stella dan Damian selalu berhubungan, baik lewat sms ataupun telpon. Hingga pada suatu hari, saat mereka berdua sedang berbicara, tanpa disengaja hal yang mereka sukai itu pun sama. Contohnya saja, Omellete. Damian sangat suka pada makanan itu, begitu juga Stella. Dan awal kesamaan itulah yang membuat keduanya semakin dekat dalam menjalani hari-hari ini.
Dan bagi Damian sendiri, kejadian lalu itu hanyalah pertemuan biasa. Namun anehnya, setiap Damian bertemu dengan Stella, entah mengapa, jantung Damian pun merasakan getaran yang berbeda dari biasanya. Padahal sebenarnya, Damian adalah sosok laki-laki yang terkenal dengan sikapnya yang cukup cuek terhadap seorang wanita. Namun, sejak dia bertemu dengan Stella, dia merasakan hal yang berbeda dari biasanya, ia seakan-akan menemukan seseorang yang mampu meluluhkan hatinya yang beku terhadap seorang wanita.
Setiap langkah yang Damian pijak, bayangan Stella pun selalu ada di benaknya. Damian bingung dengan apa yang terjadi dengan dirinya. Damian bertanya-tanya pada hatinya, apakah maksud dari semua ini?. Namun, ia tetap tidak menemukan jawabannya. hingga akhirnya dia menyerah dan berkata “biar waktu yang akan menjawab semua teka-teki ini”.
Sampai dengan suatu saat, Damian pun terus terbayang-bayang dengan wajah Stella. Dia benar-benar tidak bisa melepas bayangan Stella dari pikirannya. Dan anehnya, Stella pun mengalami hal yang sama seperti apa yang Damian alami.
Keesokan harinya, saat mereka berdua bertemu, hal pertama yang mereka lakukan adalah saling berbagi cerita satu sama lain. Damian pun mulai membuka topik cerita. “kenapa sih bayangan wajahmu selalu ada di pikiranku?”, kata Damian. Stella pun diam tanpa kata mendengar omongan Damian. Lalu Stella pun berkata, “jadi, kakak juga mengalami hal itu?”, kata Stella dengan nada kaget. “lho, memangnya kenapa, dek?”, tanya Damian. “aku juga mengalami hal yang sama seperti yang kakak alami!”, jelas Stella. Mereka pun bingung memikirkan hal itu. Sampai-sampai, hati Stella pun berkata, apa mungkin ini jodoh? “ah. . .tapi, mungkin ini cuma pikiranku aja”, pikir Stella. Hubungan keduanya benar-benar aneh, karena dibalik hubungan mereka, tersimpan banyak persamaan yang tidak pernah mereka duga. Mulai dari makanan, lagu, genre musik, kebiasaan, harapan, impian, bahkan cita-cita di masa depan pun mereka sama. Ini adalah persamaan yang benar-benar tidak wajar. Persamaan mereka terlalu banyak. “jika ini hanya sekedar kebetulan, nggak mungkin persamaan kita sampai sejauh ini?”, kata Stella. “kamu benar, dek. Ini benar-benar hal yang nggak wajar.” Sahut Damian.
Beberapa bulan ke depan, Damian akan segera melanjutkan studinya ke luar kota. Hati Stella pun sedih mendengar rencana Damian. Tapi, apa boleh buat, itu adalah rencana untuk membangun sebuah masa depan. Akhirnya, Stella pun setuju dengan rencana Damian. Dan dia juga merelakan Damian untuk pergi keluar kota.
Hari demi hari Stella lalui tanpa seorang Damian di sisinya. Damian pun juga merasakan hal yang sama seperti yang Stella rasakan. Sekarang, mereka berdua tidak pernah bertemu dan juga jarang berkomunikasi. hal itu membuat keduanya menyimpan perasaan rindu yang sangat mendalam. Meskipun begitu, Stella tetap sabar menanti kedatangan Damian. Dia tidak pernah bermain-main dengan laki-laki lain selain Damian. Ia tetap teguh pada pendiriannya, begitu juga Damian. Dia benar-benar di selimuti dengan rasa rindu yang sangat mendalam, sampai-sampai, ia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Stella. Karena, sekarang hanya ada Stella di hati Damian.
Beberapa tahun kedepan, Damian pun sudah menyelesaikan studinya. Dia juga sudah bekerja di sebuah perusahaan ternama di kota itu. Dan hal selanjutnya yang ingin Damian lakukan adalah, menemui Stella dan mengajaknya untuk menikah dengannya. Setelah mereka berdua bertemu, mereka pun saling melepas rasa rindu masing-masing. Dan pada waktu itu juga, Damian pun melamar Stella untuk menjadi istrinya. Stella pun kaget dengan permintaan Damian. Tapi bagaimanapun juga, Stella memang sayang dan cinta pada Damian. Akhirnya, Stella pun menerima lamaran Damian.
Dan beberapa minggu ke depan, keduanya pun melangsungkan sebuah pesta pernikahan. Rumah tangga Damian dan Stella pun sangat harmonis. Bahkan pernikahan mereka pun membawakan sebuah hasil, yaitu dengan adanya kehadiran anak-anak disisi mereka. Dan hal ini, membuat keduanya semakin bahagia dan harmonis selalu.
By : Ony Ulfa
PELANGI DI AMBANG AWAN
Di pelantaran malam, di sudut ruang yang terang lantaran bolamp, yang selalu terdengar melodi-melodi lembut mengalun menembus keheningan malam. Seperti malam yang sudah-sudah, Awan selalu menyempatkan waktu untuk sendiri di ruang khususnya itu. Ruang yang menampung curahan hati awan dengan berbagai bentuk karyanya, seperti lukisan, grafiti dan lagu-lagu ciptaannya. Tak ada seorang pun kecuali awan yang menginjakkan kakinya di ruang itu semenjak kurang lebih 1 tahun yang lalu.
Bel berbunyi menandakan jam pelajaran telah usai, awan berjalan ke arah taman kemudian menyandarkan punggungnya di batang pohon, angannya melayang terbang ke awang-awang, mengingatkannya pada seseorang yang kini ia nanti, penghuni hati di kala sunyi, penghuni jiwanya yang terpanah asmara.
“Dimana sih dia ?? perasaan dari tadi tak kutemukan senyum yang ku nanti!!! “Gumam Awan yang sejak tadi resah menunggu.
“Dek dek…….lihat lala nggak ???”
Awan bertanya secara tiba-tiba pada teman sekelas lala yang melintas di hadapannya dengan nada khawatir, karena sejak satu jam yang lalu tak di jumpai wajah yang di nantinya.
“Ooow…….. si lala memang sudah 3 hari ini nggak masuk sekolak kak,”
“Lhah, memangnya kenapa dek ? sakit ?”
Teman sekelas lala menggelengkan kepala dan buru-buru meninggalkan Awan. “Aku pergi dulu kak, buru-buru nich…….”
“Ditanya kok malah pergi sih? Dasar !”
Kemudian Awan pulang dengan perasaan kecewa. Pikirannya tetap tertuju pada lala, ia bertanya-tanya dalam hati mengapa beberapa hari ini lala tidak masuk sekolah, padahal Awan merasa kangen jika tidak bertemu dengan lala. Nampaknya lala sudah mengisi hati Awan.
Seperti malam yang sudah-sudah, Awan menyempatkan dirinya untuk berkunjung di ruang khususnya itu. Gelapnya malam ini seakan mengerti betapa gundah dan risaunya hati Awan. Derasnya hujan yang membasahi bumi sederas tangisan dalam hatinya. Kerasnya suara petir yang menembus dinding-dinding ruang itu sekeras teriakan hatinya. Bagai gemuruh angin yang tak terhenti, begitulah suasana hatinya yang telah dilanda rindu oleh sang kekasih hati yang selama ini ia nanti.
Tak tak tak………. Awan tersentak oleh suara itu. Dengan langkah gontai Awan membuka pintu, ternyata bundanya telah berdiri di depan pintu dengan wajah khawatir ketika melihat raup muka anak semata wayangnya itu.
”Ada apa Bunda mengetok pintu ?”
“Kamu kenapa nak? Kok aneh gitu ?”
Awan hanya terdiam, ia berfikir apakah ini saatnya ia bercerita tentang perasaannya. Awan memang dekat dengan Bundanya, ia sering curhat apa saja pada Bundanya, namun kali ini rasanya begitu berat baginya untuk bercerita tentang perasaannya pada lala.
”Ada apa Awan? Tidak biasanya kamu menyembunyikan sesuatu dari Bunda. Hmm…..pasti ini masalah ………”
Tiba-tiba Awan memotong pembicaraan Bundanya, ”Bunda ingat nggak dulu Bunda pernah bilang kalau pelangi itu simbol kebahagiaan?”
”Iya nak, memangnya kenapa tiba-tiba kamu bertanya itu?” tanya Bunda dengan nada penasaran.
”Pelangi…………, Awan suka pelangi !! Awan menjawab dengan lesu
”Ha…ha….ha….., kamu ini sudah besar kok ya masih berkata begitu ? seperti dulu waktu kamu masih kecil saja, sukanya lihat pelangi’. Ledek Bunda sambil tertawa kecil.
”Ini beda Bun!! Bukan pelangi itu yang aku maksud!! Awan suka sama cewek yang namanya pelangi, sudah hampir satu tahun aku memendam perasaanku ini”.
”Wah……wah…….., ternyata anak Bunda ini sedang Falling in love ya ? terus kenapa mukamu kusut gitu ?”
Awan hanya menggelengkan kepala.
”Memangnya kamu kenal Pelangi dimana ? cerita dong sama Bunda!! Desak bunda pada Awan yang masih terdiam.
“Pelangi itu adek kelas Awan dia biasa di panggil dengan panggilan Lala. Dulu waktu MOS aku pernah ngerjain dia habis-habisan sampai dia nangis, aku sampai nggak tega melihatnya. Setelah MOS yang berisi cacian, pujian, serta ucapan terima kasih yang ditunjukkan kepadaku, di surat itu tertulis pengirimnya berinisial “P-L” dan pikiranku langsung tertuju pada pelangi adek kelasku yang dipanggil dengan nama lala itu”. Cerita Awan terhenti sejenak.
“Terus apa kamu sudah berkenalan dengannya?” Tanya Bunda penasaran.
”Sudah, besoknya aku langsung nanya lala terus kita kenalan dech……, dan selama ini aku dan dia Cuma saling tegur sapa dan lempar senyum saja. ”Wajah Awan nampak berseri-seri.
”Jadi masalahnya sekarang kamu pasti pengen mengungkapkan perasaanmu ke dia kan ?” Tanya Bunda sambil melirik Awan.
Awan hanya tersenyum.
”Bunda rasa sudah saatnya kamu mengungkapkan itu semua.satu tahun bukan waktu yang singkat lho………….”
”Tunggu minggu depan ketika hari ulang tahunnya.” Jawab Awan dengan penuh keyakinan.
Buih cinta ronakan asmara asmara yang larutkan hatinya dalam keindahan melunturkan gundah kelana pelara jiwa yang telah lama terpendam jua. Seolah ia merangkai bintang yang menawan tawarkan terpendam sekian lama.
”Lala, boleh kita bicara sebentar ?”
”Iya kok ada apa ?”
Lala melempar senyum manisnya pada Awan. Parasnya sungguh indah sekali, meresap indah dalam senja di sore itu, senyumnya menggetarkan jiwa hingga Awan terpaku sejenak, kemudian melanjutkan pembicaraan dengan sedikit salah tingkah gitu dech.
“Besok sore sepulang sekolah aku pengen ngajak kamu ke pantai yang dulu tanpa sengaja kita pernah berjumpa di sana,” masih ingat kan ?”
“Ooo……. tempat itu kak ?”
Awan menganggukkan kepala “Gimana ? bisa ya ! Please……”
“Hmm…. Baik lah kak, nampaknya mama juga mengijinkanku,”
“Nah, gitu dong! Ada yang ingin ku sampaikan.”
“Tapi besok langsung ketemu di sana aja ya kak, aku ingin berangkat sendiri, nanti pulangnya kakak boleh anter aku. “pinta Lala pada Awan.
“Oke deh, no problem! Jawab Awan dengan semangat
“Lala pulang dulu kak, sudah di tunggu mama di rumah.”
“Iya, hati-hati di jalan dek ! “Pesan Awan pada Lala dengan gaya sok perhatiannya.
Lala hanya melempar senyum manisnya pada Awan kemudian pergi menuju tempat parkir dan meninggalkan sosok Awan yang masih memandanginya di lorong sekolah.
Dengan penuh semangat Awan berkemas-kemas, ia menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat matang. Awan mengusung seluruh karya-karyanya yang ia simpan di ruang khususnya ke dalam mobil, ia juga telah menyiapkan kado special untuk hari ulang tahun Lala, tak lupa kue ulang tahun berbentuk hati ia sertakan juga.
Sesampainya di pantai Awan segera menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan Lala. Karya-karyanya telah tertata sangatlah menawan di atas pasir putih di tepian pantai. Diiringi desir angin dan irama ombak, sayup terdengar lantunan syair lagu yang dialunkan oleh Awan dengan permainan gitar di pangkuannya.
Jam sudah menunjuk pukul 4 sore, namun sosok Lala yang di nantinya tak kunjung datang. Bagi Awan sedetik menunggunya seperti seharian, berkali Awan melihat jam demi memburu waktu tak terlihat tanda kehadiran Lala, yang semakin menyakinkan Awan bahwa Lala tak datang. Hampa, kesal, dan amarah seluruhnya ada di benak Awan. Tetap ia pandangi alam sekitarnya, senja telah tiba. Mentari tenggelam di gunung yang biru, langit merah berwarna sendu.
Tiba-tiba Bunda Awan datang dan memeluk tubuh anak semata wayangnya itu dengan muka sendu.
“Bunda, kenapa bunda malah yang datang ke sini ? ”Tanya Awan dengan keheranan.
Tiba-tiba bunda berkata lirih. ”Seperti asalnya, pelanngi itu hanyalah biasan dari terik matahari yang dibayangi gerimis. Pelangi telah menjadi fatamorgana, ia tak pernah ada.”
”Maksud Bunda apa berkata seperti itu ?” Tanya Awan dengan nada sedikit menyentak dan melepaskan pelukan Bundanya.
”Nak, nampaknya kali ini kebahagiaan belum berpihak kepadamu. Sekarang juga Bunda akan mengajakmu menemui Lala”.
”Lala dimana Bun?”
”Ayolah, nanti kamu juga akan tahu. Tinggalkan dulu semua ini!”
”Tapi ini semua persembahan Awan untuk Lala, untuk menyatakan perasaanku padanya sekaligus ucapan ultah untuknya.”
”Tenanglah nak, Bunda sudah menyuruh orang untuk menjaga ini semua. Dan sekarang ikutlah Bunda !” Pinta Bunda pada Awan.
Dalam perjalanan Awan bertanya-tanya dalam hati tentang dimana keberadaan Lala sekarang dan mengapa Lala tidak menemuinya di tempat yang telah di sepakati. Tak lama kemudian ternyata mobil yang ditumpanginya berhenti di rumah Lala. Saat itu juga di lihatnya sebuah mobil jenazah dengan beberapa orang sedang menangis. Awan kembali bertanya-tanya siapa yang ada dalam mobil jenazah itu. Ia melihat jenazah yang tertutupi oleh kain kafan di keluarkan dari mobil tersebut. Awan semakin penasaran, apa yang sebenarnya terjadi.
”Lihatlah jenazah itu nak, lihat wajahnya untuk yang terakhir kalinya!” pinta Bunda pada Awan.
Awan hanya terdiam dan kemudian perlahan membuka kain kafan tersebut. Betapa terkejutnya ketika ia menyaksikan wajah yang telah ia nanti-nanti terbujur kaku tak berdaya di atas pembaringan. Awan terpaku menatap wajah itu, dia mematung tak sanggup urung, menangis pun ia tak mampu, air mata terasa terkurung. Awan menatap orang di sekelilingnya dan bertanya dengan terbata-bata
”Buun……nda, ini ?”
Bunda merangkul Awan. ”Lala meninggal karena kecelakaan saat perjalanan menuju pantai.”
Awan seakan tak percaya akan semua ini, langsung ia melaju dengan mobilnya ke arah pantai. Awan tetap mencari-cari Lala di pantai itu ditemani oleh kegelapan malam. Dia mengalunkan lagu-lagu ciptaannya untuk Lala sampai akhirnya ia tertidur dengan duduk bersandar pada pohon kelapa dan gitar di pangkuannya. Dalam tidurnya Awan bermimpi, ada sebuah perahu besar yang memuat semua karya-karya ungkapan hatinya untuk Lala, kemudian ia melihat Lala naik ke dalam perahu tersebut dengan melempar senyum ke arah Awan dari satu kalimat yang keluar dari bibir mungilnya “Love You Too.” Perahu itu semakin menjauh terbawa arus air, tenggelam hilang bersama pandangan.
Awan terbangun, seolah ada yang memeluk pundaknya untuk membangunkan dari tidurnya. Awan baru benar-benar sadar dan percaya bahwa pelangi atau Lala telah pergi untuk selama-lamanya.
Lirih berkata, “Pelangi adalah simbol kebahagiaan. Selalu indah. Tapi sayang, pelangi tak pernah melengkung di atas kepala orang yang melihatnya. Ia selalu berada di atas kepala orang lain”.
By : AULIA TRIA MAHARDHIKA
Read More..
Bel berbunyi menandakan jam pelajaran telah usai, awan berjalan ke arah taman kemudian menyandarkan punggungnya di batang pohon, angannya melayang terbang ke awang-awang, mengingatkannya pada seseorang yang kini ia nanti, penghuni hati di kala sunyi, penghuni jiwanya yang terpanah asmara.
“Dimana sih dia ?? perasaan dari tadi tak kutemukan senyum yang ku nanti!!! “Gumam Awan yang sejak tadi resah menunggu.
“Dek dek…….lihat lala nggak ???”
Awan bertanya secara tiba-tiba pada teman sekelas lala yang melintas di hadapannya dengan nada khawatir, karena sejak satu jam yang lalu tak di jumpai wajah yang di nantinya.
“Ooow…….. si lala memang sudah 3 hari ini nggak masuk sekolak kak,”
“Lhah, memangnya kenapa dek ? sakit ?”
Teman sekelas lala menggelengkan kepala dan buru-buru meninggalkan Awan. “Aku pergi dulu kak, buru-buru nich…….”
“Ditanya kok malah pergi sih? Dasar !”
Kemudian Awan pulang dengan perasaan kecewa. Pikirannya tetap tertuju pada lala, ia bertanya-tanya dalam hati mengapa beberapa hari ini lala tidak masuk sekolah, padahal Awan merasa kangen jika tidak bertemu dengan lala. Nampaknya lala sudah mengisi hati Awan.
Seperti malam yang sudah-sudah, Awan menyempatkan dirinya untuk berkunjung di ruang khususnya itu. Gelapnya malam ini seakan mengerti betapa gundah dan risaunya hati Awan. Derasnya hujan yang membasahi bumi sederas tangisan dalam hatinya. Kerasnya suara petir yang menembus dinding-dinding ruang itu sekeras teriakan hatinya. Bagai gemuruh angin yang tak terhenti, begitulah suasana hatinya yang telah dilanda rindu oleh sang kekasih hati yang selama ini ia nanti.
Tak tak tak………. Awan tersentak oleh suara itu. Dengan langkah gontai Awan membuka pintu, ternyata bundanya telah berdiri di depan pintu dengan wajah khawatir ketika melihat raup muka anak semata wayangnya itu.
”Ada apa Bunda mengetok pintu ?”
“Kamu kenapa nak? Kok aneh gitu ?”
Awan hanya terdiam, ia berfikir apakah ini saatnya ia bercerita tentang perasaannya. Awan memang dekat dengan Bundanya, ia sering curhat apa saja pada Bundanya, namun kali ini rasanya begitu berat baginya untuk bercerita tentang perasaannya pada lala.
”Ada apa Awan? Tidak biasanya kamu menyembunyikan sesuatu dari Bunda. Hmm…..pasti ini masalah ………”
Tiba-tiba Awan memotong pembicaraan Bundanya, ”Bunda ingat nggak dulu Bunda pernah bilang kalau pelangi itu simbol kebahagiaan?”
”Iya nak, memangnya kenapa tiba-tiba kamu bertanya itu?” tanya Bunda dengan nada penasaran.
”Pelangi…………, Awan suka pelangi !! Awan menjawab dengan lesu
”Ha…ha….ha….., kamu ini sudah besar kok ya masih berkata begitu ? seperti dulu waktu kamu masih kecil saja, sukanya lihat pelangi’. Ledek Bunda sambil tertawa kecil.
”Ini beda Bun!! Bukan pelangi itu yang aku maksud!! Awan suka sama cewek yang namanya pelangi, sudah hampir satu tahun aku memendam perasaanku ini”.
”Wah……wah…….., ternyata anak Bunda ini sedang Falling in love ya ? terus kenapa mukamu kusut gitu ?”
Awan hanya menggelengkan kepala.
”Memangnya kamu kenal Pelangi dimana ? cerita dong sama Bunda!! Desak bunda pada Awan yang masih terdiam.
“Pelangi itu adek kelas Awan dia biasa di panggil dengan panggilan Lala. Dulu waktu MOS aku pernah ngerjain dia habis-habisan sampai dia nangis, aku sampai nggak tega melihatnya. Setelah MOS yang berisi cacian, pujian, serta ucapan terima kasih yang ditunjukkan kepadaku, di surat itu tertulis pengirimnya berinisial “P-L” dan pikiranku langsung tertuju pada pelangi adek kelasku yang dipanggil dengan nama lala itu”. Cerita Awan terhenti sejenak.
“Terus apa kamu sudah berkenalan dengannya?” Tanya Bunda penasaran.
”Sudah, besoknya aku langsung nanya lala terus kita kenalan dech……, dan selama ini aku dan dia Cuma saling tegur sapa dan lempar senyum saja. ”Wajah Awan nampak berseri-seri.
”Jadi masalahnya sekarang kamu pasti pengen mengungkapkan perasaanmu ke dia kan ?” Tanya Bunda sambil melirik Awan.
Awan hanya tersenyum.
”Bunda rasa sudah saatnya kamu mengungkapkan itu semua.satu tahun bukan waktu yang singkat lho………….”
”Tunggu minggu depan ketika hari ulang tahunnya.” Jawab Awan dengan penuh keyakinan.
Buih cinta ronakan asmara asmara yang larutkan hatinya dalam keindahan melunturkan gundah kelana pelara jiwa yang telah lama terpendam jua. Seolah ia merangkai bintang yang menawan tawarkan terpendam sekian lama.
”Lala, boleh kita bicara sebentar ?”
”Iya kok ada apa ?”
Lala melempar senyum manisnya pada Awan. Parasnya sungguh indah sekali, meresap indah dalam senja di sore itu, senyumnya menggetarkan jiwa hingga Awan terpaku sejenak, kemudian melanjutkan pembicaraan dengan sedikit salah tingkah gitu dech.
“Besok sore sepulang sekolah aku pengen ngajak kamu ke pantai yang dulu tanpa sengaja kita pernah berjumpa di sana,” masih ingat kan ?”
“Ooo……. tempat itu kak ?”
Awan menganggukkan kepala “Gimana ? bisa ya ! Please……”
“Hmm…. Baik lah kak, nampaknya mama juga mengijinkanku,”
“Nah, gitu dong! Ada yang ingin ku sampaikan.”
“Tapi besok langsung ketemu di sana aja ya kak, aku ingin berangkat sendiri, nanti pulangnya kakak boleh anter aku. “pinta Lala pada Awan.
“Oke deh, no problem! Jawab Awan dengan semangat
“Lala pulang dulu kak, sudah di tunggu mama di rumah.”
“Iya, hati-hati di jalan dek ! “Pesan Awan pada Lala dengan gaya sok perhatiannya.
Lala hanya melempar senyum manisnya pada Awan kemudian pergi menuju tempat parkir dan meninggalkan sosok Awan yang masih memandanginya di lorong sekolah.
Dengan penuh semangat Awan berkemas-kemas, ia menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat matang. Awan mengusung seluruh karya-karyanya yang ia simpan di ruang khususnya ke dalam mobil, ia juga telah menyiapkan kado special untuk hari ulang tahun Lala, tak lupa kue ulang tahun berbentuk hati ia sertakan juga.
Sesampainya di pantai Awan segera menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan Lala. Karya-karyanya telah tertata sangatlah menawan di atas pasir putih di tepian pantai. Diiringi desir angin dan irama ombak, sayup terdengar lantunan syair lagu yang dialunkan oleh Awan dengan permainan gitar di pangkuannya.
Jam sudah menunjuk pukul 4 sore, namun sosok Lala yang di nantinya tak kunjung datang. Bagi Awan sedetik menunggunya seperti seharian, berkali Awan melihat jam demi memburu waktu tak terlihat tanda kehadiran Lala, yang semakin menyakinkan Awan bahwa Lala tak datang. Hampa, kesal, dan amarah seluruhnya ada di benak Awan. Tetap ia pandangi alam sekitarnya, senja telah tiba. Mentari tenggelam di gunung yang biru, langit merah berwarna sendu.
Tiba-tiba Bunda Awan datang dan memeluk tubuh anak semata wayangnya itu dengan muka sendu.
“Bunda, kenapa bunda malah yang datang ke sini ? ”Tanya Awan dengan keheranan.
Tiba-tiba bunda berkata lirih. ”Seperti asalnya, pelanngi itu hanyalah biasan dari terik matahari yang dibayangi gerimis. Pelangi telah menjadi fatamorgana, ia tak pernah ada.”
”Maksud Bunda apa berkata seperti itu ?” Tanya Awan dengan nada sedikit menyentak dan melepaskan pelukan Bundanya.
”Nak, nampaknya kali ini kebahagiaan belum berpihak kepadamu. Sekarang juga Bunda akan mengajakmu menemui Lala”.
”Lala dimana Bun?”
”Ayolah, nanti kamu juga akan tahu. Tinggalkan dulu semua ini!”
”Tapi ini semua persembahan Awan untuk Lala, untuk menyatakan perasaanku padanya sekaligus ucapan ultah untuknya.”
”Tenanglah nak, Bunda sudah menyuruh orang untuk menjaga ini semua. Dan sekarang ikutlah Bunda !” Pinta Bunda pada Awan.
Dalam perjalanan Awan bertanya-tanya dalam hati tentang dimana keberadaan Lala sekarang dan mengapa Lala tidak menemuinya di tempat yang telah di sepakati. Tak lama kemudian ternyata mobil yang ditumpanginya berhenti di rumah Lala. Saat itu juga di lihatnya sebuah mobil jenazah dengan beberapa orang sedang menangis. Awan kembali bertanya-tanya siapa yang ada dalam mobil jenazah itu. Ia melihat jenazah yang tertutupi oleh kain kafan di keluarkan dari mobil tersebut. Awan semakin penasaran, apa yang sebenarnya terjadi.
”Lihatlah jenazah itu nak, lihat wajahnya untuk yang terakhir kalinya!” pinta Bunda pada Awan.
Awan hanya terdiam dan kemudian perlahan membuka kain kafan tersebut. Betapa terkejutnya ketika ia menyaksikan wajah yang telah ia nanti-nanti terbujur kaku tak berdaya di atas pembaringan. Awan terpaku menatap wajah itu, dia mematung tak sanggup urung, menangis pun ia tak mampu, air mata terasa terkurung. Awan menatap orang di sekelilingnya dan bertanya dengan terbata-bata
”Buun……nda, ini ?”
Bunda merangkul Awan. ”Lala meninggal karena kecelakaan saat perjalanan menuju pantai.”
Awan seakan tak percaya akan semua ini, langsung ia melaju dengan mobilnya ke arah pantai. Awan tetap mencari-cari Lala di pantai itu ditemani oleh kegelapan malam. Dia mengalunkan lagu-lagu ciptaannya untuk Lala sampai akhirnya ia tertidur dengan duduk bersandar pada pohon kelapa dan gitar di pangkuannya. Dalam tidurnya Awan bermimpi, ada sebuah perahu besar yang memuat semua karya-karya ungkapan hatinya untuk Lala, kemudian ia melihat Lala naik ke dalam perahu tersebut dengan melempar senyum ke arah Awan dari satu kalimat yang keluar dari bibir mungilnya “Love You Too.” Perahu itu semakin menjauh terbawa arus air, tenggelam hilang bersama pandangan.
Awan terbangun, seolah ada yang memeluk pundaknya untuk membangunkan dari tidurnya. Awan baru benar-benar sadar dan percaya bahwa pelangi atau Lala telah pergi untuk selama-lamanya.
Lirih berkata, “Pelangi adalah simbol kebahagiaan. Selalu indah. Tapi sayang, pelangi tak pernah melengkung di atas kepala orang yang melihatnya. Ia selalu berada di atas kepala orang lain”.
By : AULIA TRIA MAHARDHIKA
Mawar Putih yang Abadi di Hati Brenda
Ketika itu, langit begitu gelep. Menandakan hujan akan segera turun. Brenda yang sedang berjalan di tepi jalan mempercepat langkahnya, agar cepat sampai rumah. Sesampainya di rumah dia mengetuk pintu dan mengucapkan salam berkali-kali. Namun, tidak ada sepatah kata pun yang menjawab. Brenda kebingungan “kemana perginya orang-orang?” Tanya Brenda dalam hati.
Disaat Brenda sedang terdiam seribu bahasa, salah satu tetangganya mendatanginya. “Nda, sedang apa kamu berdiam diri disitu?” Tanya Sitta. Dia adalah tetangga sekaligus teman bermain Brenda. “Saya sedang……” Jawab Brenda. Sebelum Brenda menyelesaikan pembicaraanya, terlebih dahulu Sitta memotong pembicaraan Brenda.“Oh.iya Nda, tadi orang tua kamu titip pesan ke saya.” Sela Sitta. Brenda sangat penasaran dan segera ingin mengetahui kemana perginya orang rumah. Dengan cepat dia menanyakan ke Sitta “Pesan apa Sit?” Jelas Brenda. “Mereka sedang mengantar nenek kamu ke rumah sakit dan mereka juga menyuruh kamu, untuk mengangkat jemuran.” Jawab Sitta. Loh, ta… tapi apakah mereke tidak memberi tahu kamu, di mana mereka meletakkan kunci rumah? Tanya Brenda dengan heran. “Maaf Nda, tapi mereka hanya pesan itu ke saya”. Sambil melangkah masuk ke dalam teras rumah Brenda, karena suara halilintar menyambar dengan dahsyat. “duor…duorr…” suara dahsyat halilintar tersebut. Sementara itu Brenda masih terdiam kebingungan di sela-sela sambaran halilintar dan gemerlapan cahaya petir.
“Nda, saya pulang dulu ya? karena sebentar lagi akan turun hujan nih” ijin Sitta kepada Brenda. “Iya Sit, kamu pulang saja. Saya tidak apa-apa sendirian, dan terima kasih iya? Karena kamu sudah menyampaikan pesan orang tua saya.” Sambil melontarkan senyum kecil kepada Sitta. “ iya sama-sama Nda” Sitta bergegas meninggalkan Brenda.
Brenda yang sekarang sendirian. Masih terdiam disela-sela gemerlap cahaya petir dan suara halilintar. Tiba-tiba terlintas dibenak Brenda, bahwa dia kan bisa menelpon orang tuanya lewat hp. Dia pun segera mengambil hp dari dalam tasnya. Setelah beberapa detik kemudian, barulah tersambung dengan orang tuanya. “tut…tut…tut… suara sambungan sinyal hp tersebut. Namun, tidak ada jawaban dari telpon Brenda tersebut. Dia mengulang kembali untuk menelpon orang tuanya. Dan Ibunya yang mengangkat telpon tersebut. “Hallo…” Jawab Ibu. Brenda pun menanyakan dimana mereka meletakkan kunci rumah. Ternyata kunci rumah itu, diletakkan di bawah pot mawar putih, bunga kesayangan nenek.
Brenda segera masuk ke rumah. Hawa hangat sekaligus sunyi senyap, masuk ke raga Brenda. Brenda segera ingat pesan Ibu, yaitu mengangkat jemuran. Satu persatu jemuran, diangkat Brenda. Dan disaat Brenda menangkat jemuran terakhir. Hujan deras dan lebat pun, turun dengan kasarnya….. Brenda segera lari masuk rumah. Suasana rumah yang gelap dan sunyi senyap, kembali menghampiri Brenda. “Brenda…Brenda…” Brenda seperti mendengar suara pelan dan halus memanggil namanya. “Siapa itu?” Tanya Brenda dengan heran. Namun tidak sepatah katapun, pertanyaan Brenda terjawab.
Kemudian Brenda bergeges menuju kamar. “Kyek….” Suara pintu kamar Brenda yang tua. “Ckalag” Brenda menyalakan lampu kamar. Brenda duduk disisi pojok dipan tunya. “Krek” suara lapuk dipan tua Brenda. Hanya suara benda-benda mati yang terdengar di ruang kamar Brenda. tiba-tiba “Dret..dret…dret…” Suara hp Brenda yang hanya bergetar diatas meja belajarnya. Tertera dengan jelas di layer hp Brenda. 1 message form Daniel. Brenda segera membalas sms dari Daniel. Jemarinya dengan cekatan memencet huruf-huruf di hpnya. Ctag…ctag…ctag” Suara tombol navigasi hp Brenda.
Setelah beberapa menit dia berkontak dengan Daniel, yaitu pacar Brenda. Walaupun hanya via hp. Itu sangat menghibur Brenda disaat kesepian. Seperti halnya yang dirasakan Brenda sekarang. Apalagi Brenda sangat mencintai Daniel. Sifat pengertian dan lembut yang dimiliki Daniel, membuat Brenda semakin mencintainya.
Brenda kembali meletakkan hpnya di atas meja “Tag” suara benturan hp Brenda dengan permukaan meja yang keras. Suasana kembali sunyi senyap seperti semula. “Thag…thag…thag…” suara langkah kaki Brenda menuju jendela kamarnya. “Brak” jendela kamar Brenda terbuka. Hawa dingin langsung masuk ke kamar Brenda yang hangat. Seketika itu juga suasana kamar Brenda berubah menjadi dingin. Dia menghirup dalam-dalam udara dingin itu dan melepasnya secara perlahan. Dia memejamkan mata untuk menikmatinya. Ketika dia membuka mata, hamparan mawar putih dihadapanya masuk ke bola matanya. Brenda terdiamdalam lamunannya. Hanya gemericik suara air hujan yang terdengar saat itu. Brenda sedang membayangkan dahulu saat dia masih kecil, menanam bunga mawar-mawar putih itu bersama neneknya. Sifat nenek Brenda yang sangat prrhatian kepadanya. Membuat Brenda kecil senang bermanja-manja ria dengan neneknya. Bibir mungil Brenda tersenyum kecil, mengingat semua kenangan yang telah dilalui bersama neneknya. Di tengah lamunannya, Brenda terkujut dengan suara “dret…dret…dret…” suara itu langsung memecah suasana hening saat itu. Brenda bergegas menuju meja, Dimana dia meletakkan hp. Ternyata ada telpon dari adiknya yaitu Pety. Dia sekarang baru kelas 1 smp. Sifatnya yang cerewet, aktif, dan selalu ingin tahu tapi sangan pengertian ini, membuat Pety dekat dengan kakaknya dan sering curhat. Namun, kali ini dia tidak seperti biasanya. Pety yang biasanya suka berbicara panjang lebar. Ketika itu hanya berbicara beberapa kata. Pety hanya bilang ada berita duka sambil terbata-bata dan langsung menutup telpon. Dan Brenda hanya bertanya-tanya dalam hatinya. “berita duka apa yang dimaksud adikku?”
“Nda…Brenda… Suara itu langsung memecah suasana hening saat itu. Brenda menoleh ke arah suara itu. Dia melihat sosok yang sepertinya sangat dekat dengan dia. Dia mendekat ke perempuan tua itu. Dan benar, setelah diperhatikan perenpuan itu adalah neneknya. Namun nenek Brenda hanya terdiam seribu bahasa dan Brenda pun hanya melihat saja. Sepertinya nenek Brenda ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak bias untuk mengatakan.
“Tiud…tiud..tiud…” dari kejauhan terdengar suara ambulan yang semakin lama semakin mendekat dan semakin keras suaranya. Tiba-tiba sosok perempuan yang menyerupai nenek Brenda menghilang dengan sekejap. Meskipun di hati Brenda masih bertanya-tanya siapakah perempuan yang menyerupai neneknya? Pikiran itu menghilang dengan sendiri dan Brenda pun berlari menuju pintu dan membuka pintu. Betapa terkejutnya ketika ambulan itu berhenti tepat di depan rumahnya. Brenda dengan langkah pelan mendekati ambulan itu.
“Deg…deg…deg…” suara detak jantung Brenda, ketika mendekati ambulan itu. Dari sisi depan ambulan, keluarlah Ibu Brenda beersama Pety adik Brenda. Brenda masih terdiam kaku, mereka berdua berjalan ke arah Brenda dengan wajah pucat pasi. Mereka menghampiri Brenda sambil menundukkan wajah.
Tidak lama kemudian, terbukalah pintu belakang mobil itu. Dan dua petugas rumah sakit mengangkat sebuah peti mati. Peti tersebut diletakkan di ruang tengah rumah Brenda. Brenda belum melihat siapa yang ada di dalam peti mati tersebut.
“Drung…drung…drung… suara mobil Ayah Brenda yang sedang menuju garasi. Ayah, segera masuk ke ruang tengah. Sifat Ayah yang pendiam, membuat setiap orang yang melihatnya bertanya-tanya dalam hatinya. Begitu pun dengan Brenda yang bingung dengan semua kejadian yang ada di rumah.
Tidak lama kemudian Daniel, pacar Brenda dating ke rumah Brenda. Dengan mengenakan hem hitam. Dan dia hanya diam disamping Brenda. Begitu pun, dengan Brenda yang hanya diam tanpa kata.
Peti tersebut dibuka oleh Ayah Brenda dan dengan serentak suara tangisan Ibu Brenda memecah suasana hening di rumah. Brenda pun mendekat ke arah peti tersebut. Dia melihat sosok perempuan yang selama ini selalu memanjakanya, terbujur kaku di dalam peti mati. Dia pun sama seperti Ibunya yang menangis mengiringi kepergian Neneknya. Daniel menyoba menenangkan Brenda dengan memeluknya dan menyuruh Brenda agar sabar dan ikhlas, untuk melepas kepergian neneknya. Brenda mulai tenang dan pemakaman neneknya pun di mulai. Sejak saat itu Brenda berjanji akan merawat bunga-bunga mawar putih milik neneknya dengan sebaik mungkin.
By : Selsio Ceisaria A.m
Read More..
Disaat Brenda sedang terdiam seribu bahasa, salah satu tetangganya mendatanginya. “Nda, sedang apa kamu berdiam diri disitu?” Tanya Sitta. Dia adalah tetangga sekaligus teman bermain Brenda. “Saya sedang……” Jawab Brenda. Sebelum Brenda menyelesaikan pembicaraanya, terlebih dahulu Sitta memotong pembicaraan Brenda.“Oh.iya Nda, tadi orang tua kamu titip pesan ke saya.” Sela Sitta. Brenda sangat penasaran dan segera ingin mengetahui kemana perginya orang rumah. Dengan cepat dia menanyakan ke Sitta “Pesan apa Sit?” Jelas Brenda. “Mereka sedang mengantar nenek kamu ke rumah sakit dan mereka juga menyuruh kamu, untuk mengangkat jemuran.” Jawab Sitta. Loh, ta… tapi apakah mereke tidak memberi tahu kamu, di mana mereka meletakkan kunci rumah? Tanya Brenda dengan heran. “Maaf Nda, tapi mereka hanya pesan itu ke saya”. Sambil melangkah masuk ke dalam teras rumah Brenda, karena suara halilintar menyambar dengan dahsyat. “duor…duorr…” suara dahsyat halilintar tersebut. Sementara itu Brenda masih terdiam kebingungan di sela-sela sambaran halilintar dan gemerlapan cahaya petir.
“Nda, saya pulang dulu ya? karena sebentar lagi akan turun hujan nih” ijin Sitta kepada Brenda. “Iya Sit, kamu pulang saja. Saya tidak apa-apa sendirian, dan terima kasih iya? Karena kamu sudah menyampaikan pesan orang tua saya.” Sambil melontarkan senyum kecil kepada Sitta. “ iya sama-sama Nda” Sitta bergegas meninggalkan Brenda.
Brenda yang sekarang sendirian. Masih terdiam disela-sela gemerlap cahaya petir dan suara halilintar. Tiba-tiba terlintas dibenak Brenda, bahwa dia kan bisa menelpon orang tuanya lewat hp. Dia pun segera mengambil hp dari dalam tasnya. Setelah beberapa detik kemudian, barulah tersambung dengan orang tuanya. “tut…tut…tut… suara sambungan sinyal hp tersebut. Namun, tidak ada jawaban dari telpon Brenda tersebut. Dia mengulang kembali untuk menelpon orang tuanya. Dan Ibunya yang mengangkat telpon tersebut. “Hallo…” Jawab Ibu. Brenda pun menanyakan dimana mereka meletakkan kunci rumah. Ternyata kunci rumah itu, diletakkan di bawah pot mawar putih, bunga kesayangan nenek.
Brenda segera masuk ke rumah. Hawa hangat sekaligus sunyi senyap, masuk ke raga Brenda. Brenda segera ingat pesan Ibu, yaitu mengangkat jemuran. Satu persatu jemuran, diangkat Brenda. Dan disaat Brenda menangkat jemuran terakhir. Hujan deras dan lebat pun, turun dengan kasarnya….. Brenda segera lari masuk rumah. Suasana rumah yang gelap dan sunyi senyap, kembali menghampiri Brenda. “Brenda…Brenda…” Brenda seperti mendengar suara pelan dan halus memanggil namanya. “Siapa itu?” Tanya Brenda dengan heran. Namun tidak sepatah katapun, pertanyaan Brenda terjawab.
Kemudian Brenda bergeges menuju kamar. “Kyek….” Suara pintu kamar Brenda yang tua. “Ckalag” Brenda menyalakan lampu kamar. Brenda duduk disisi pojok dipan tunya. “Krek” suara lapuk dipan tua Brenda. Hanya suara benda-benda mati yang terdengar di ruang kamar Brenda. tiba-tiba “Dret..dret…dret…” Suara hp Brenda yang hanya bergetar diatas meja belajarnya. Tertera dengan jelas di layer hp Brenda. 1 message form Daniel. Brenda segera membalas sms dari Daniel. Jemarinya dengan cekatan memencet huruf-huruf di hpnya. Ctag…ctag…ctag” Suara tombol navigasi hp Brenda.
Setelah beberapa menit dia berkontak dengan Daniel, yaitu pacar Brenda. Walaupun hanya via hp. Itu sangat menghibur Brenda disaat kesepian. Seperti halnya yang dirasakan Brenda sekarang. Apalagi Brenda sangat mencintai Daniel. Sifat pengertian dan lembut yang dimiliki Daniel, membuat Brenda semakin mencintainya.
Brenda kembali meletakkan hpnya di atas meja “Tag” suara benturan hp Brenda dengan permukaan meja yang keras. Suasana kembali sunyi senyap seperti semula. “Thag…thag…thag…” suara langkah kaki Brenda menuju jendela kamarnya. “Brak” jendela kamar Brenda terbuka. Hawa dingin langsung masuk ke kamar Brenda yang hangat. Seketika itu juga suasana kamar Brenda berubah menjadi dingin. Dia menghirup dalam-dalam udara dingin itu dan melepasnya secara perlahan. Dia memejamkan mata untuk menikmatinya. Ketika dia membuka mata, hamparan mawar putih dihadapanya masuk ke bola matanya. Brenda terdiamdalam lamunannya. Hanya gemericik suara air hujan yang terdengar saat itu. Brenda sedang membayangkan dahulu saat dia masih kecil, menanam bunga mawar-mawar putih itu bersama neneknya. Sifat nenek Brenda yang sangat prrhatian kepadanya. Membuat Brenda kecil senang bermanja-manja ria dengan neneknya. Bibir mungil Brenda tersenyum kecil, mengingat semua kenangan yang telah dilalui bersama neneknya. Di tengah lamunannya, Brenda terkujut dengan suara “dret…dret…dret…” suara itu langsung memecah suasana hening saat itu. Brenda bergegas menuju meja, Dimana dia meletakkan hp. Ternyata ada telpon dari adiknya yaitu Pety. Dia sekarang baru kelas 1 smp. Sifatnya yang cerewet, aktif, dan selalu ingin tahu tapi sangan pengertian ini, membuat Pety dekat dengan kakaknya dan sering curhat. Namun, kali ini dia tidak seperti biasanya. Pety yang biasanya suka berbicara panjang lebar. Ketika itu hanya berbicara beberapa kata. Pety hanya bilang ada berita duka sambil terbata-bata dan langsung menutup telpon. Dan Brenda hanya bertanya-tanya dalam hatinya. “berita duka apa yang dimaksud adikku?”
“Nda…Brenda… Suara itu langsung memecah suasana hening saat itu. Brenda menoleh ke arah suara itu. Dia melihat sosok yang sepertinya sangat dekat dengan dia. Dia mendekat ke perempuan tua itu. Dan benar, setelah diperhatikan perenpuan itu adalah neneknya. Namun nenek Brenda hanya terdiam seribu bahasa dan Brenda pun hanya melihat saja. Sepertinya nenek Brenda ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak bias untuk mengatakan.
“Tiud…tiud..tiud…” dari kejauhan terdengar suara ambulan yang semakin lama semakin mendekat dan semakin keras suaranya. Tiba-tiba sosok perempuan yang menyerupai nenek Brenda menghilang dengan sekejap. Meskipun di hati Brenda masih bertanya-tanya siapakah perempuan yang menyerupai neneknya? Pikiran itu menghilang dengan sendiri dan Brenda pun berlari menuju pintu dan membuka pintu. Betapa terkejutnya ketika ambulan itu berhenti tepat di depan rumahnya. Brenda dengan langkah pelan mendekati ambulan itu.
“Deg…deg…deg…” suara detak jantung Brenda, ketika mendekati ambulan itu. Dari sisi depan ambulan, keluarlah Ibu Brenda beersama Pety adik Brenda. Brenda masih terdiam kaku, mereka berdua berjalan ke arah Brenda dengan wajah pucat pasi. Mereka menghampiri Brenda sambil menundukkan wajah.
Tidak lama kemudian, terbukalah pintu belakang mobil itu. Dan dua petugas rumah sakit mengangkat sebuah peti mati. Peti tersebut diletakkan di ruang tengah rumah Brenda. Brenda belum melihat siapa yang ada di dalam peti mati tersebut.
“Drung…drung…drung… suara mobil Ayah Brenda yang sedang menuju garasi. Ayah, segera masuk ke ruang tengah. Sifat Ayah yang pendiam, membuat setiap orang yang melihatnya bertanya-tanya dalam hatinya. Begitu pun dengan Brenda yang bingung dengan semua kejadian yang ada di rumah.
Tidak lama kemudian Daniel, pacar Brenda dating ke rumah Brenda. Dengan mengenakan hem hitam. Dan dia hanya diam disamping Brenda. Begitu pun, dengan Brenda yang hanya diam tanpa kata.
Peti tersebut dibuka oleh Ayah Brenda dan dengan serentak suara tangisan Ibu Brenda memecah suasana hening di rumah. Brenda pun mendekat ke arah peti tersebut. Dia melihat sosok perempuan yang selama ini selalu memanjakanya, terbujur kaku di dalam peti mati. Dia pun sama seperti Ibunya yang menangis mengiringi kepergian Neneknya. Daniel menyoba menenangkan Brenda dengan memeluknya dan menyuruh Brenda agar sabar dan ikhlas, untuk melepas kepergian neneknya. Brenda mulai tenang dan pemakaman neneknya pun di mulai. Sejak saat itu Brenda berjanji akan merawat bunga-bunga mawar putih milik neneknya dengan sebaik mungkin.
By : Selsio Ceisaria A.m
Kisah Dibalik Persahabatan
Aku punya sahabat yang sangat menyenangkan yaitu Rani, Shinta, dan Rio. Rani adalah teman sebangkuku. Aku senang bisa bersahabat dengan mereka. Aku juga sering bercerita tentang semua masalahku ke mereka.
Pada suatu hari, Rani teman sebangkuku lagi punya masalah sama pacarnya, sebut saja namanya Reski. Mereka berdua berpacaran sejak SMP. Padahal aku seneng banget tiap kali lihat mereka pacaran. Reski rela nglakuin pa ja buat Rani. Mereka saling menyayangi. Tapi, kenapa begitu besarnya cinta mereka bisa menyebabkan mereka putus. Sambil sesenggukan Rani berkata padaku.
“Apa bener dia kayak gitu ke aku? Kenapa dia tega nglakuin semua ni ke aku?” Reski telah menduakan Rani.
“Kamu jangan mudah percaya omongan orang sebelum ada bukti” jawabku.
Akupun bisa merasakan gimana perasaan Rani. Aku, Shinta, dan Rio coba ngehibur Rani. Aku seneng banget waktu lihat Rani bisa tersenyum.
“Aku seneng banget punya sahabat kayak kalian. Aku nggak mau kehilangan kalian.” Kata Rani sambil tersenyum.
Persahabatan kami lama berlangsung, Kami semakin kompak. Pada bulan Ramadhan, Shinta punya masalah ma pacarnya, sebut saja namanya Tian. Shinta bilang ke kami, Shinta denger dari orang lain kalau kelakuan Tian bener – bener jelek banget Katanya Tian perokok, minum – minuman keras. Tian juga sering keluar masuk BP gara – gara masalah itu. Tian juga hampir dikeluarkan dari sekolah. Shinta minta bantuan aku untuk cari tahu masalah ini. Aku pun menyanggupi permintaan Shinta karena kakakku sepupu juga lumayan akrab ma Tian. Tapi kakakku kurang tahu masalah itu.
Kakakku bilang, “Setahu aku, Tian emang perokok, tapi kalau masalah yang lain aku kurang tahu dek.”
Pada suatu hari, sepulang sekolah aku sudah berjanji mau ketemu ma kakakku sepupu. Kita mau ngobrolin masalah Tian. Aku seneng banget akhirnya bisa ketemu ma kakakku lagi. Karena dah lama kita nggak ketemu, kakakku kuliyah di luar kota. Kami pun mengobrol panjang lebar sambil bercanda – canda gitu. Sampai – sampai aku lupa da janji ma Shinta. Tiba – tiba Shinta lewat di depanku boncengan ma Lina, sambil berkata,
“Hai, jangan pacaran terus donk! sampai lupa waktu lagi.”
Aku sangat kaget dengar Shinta bilang kayak gitu ke aku. Padahal aku nglakuin ini semua kan juga buat nyelesain masalahnya ma Tian. Tapi aku juga sadar, emang aku juga salah. Tapi, disatu sisi aku juga jengkel banget ma Shinta.
Pertengkaran ini berlangsung terus, ditambah lagi ada yang memperkeruh pertengkaran kami disaat kami sedang panas. Akupun semakin kesal. Akhirnya, aku memutuskan untuk menjauh dari Shinta, Rani, dan Rio. Orang yang merusak persahabatan kami adalah Lina. Padahal aku punya niat buat minta maaf ma Shinta. Temen – temenku satu kelas juga bilang kalau Lina emang perusak persahabatan orang lain. Lina juga dah berhasil masuk dalam persahabatan Rani, Shinta, Rio untuk menggantikan aku. Setelah kejadian itu aku lebih banyak menghabiskan waktuku untuk menyendiri.
By : Yulia Lisa SH
Read More..
Pada suatu hari, Rani teman sebangkuku lagi punya masalah sama pacarnya, sebut saja namanya Reski. Mereka berdua berpacaran sejak SMP. Padahal aku seneng banget tiap kali lihat mereka pacaran. Reski rela nglakuin pa ja buat Rani. Mereka saling menyayangi. Tapi, kenapa begitu besarnya cinta mereka bisa menyebabkan mereka putus. Sambil sesenggukan Rani berkata padaku.
“Apa bener dia kayak gitu ke aku? Kenapa dia tega nglakuin semua ni ke aku?” Reski telah menduakan Rani.
“Kamu jangan mudah percaya omongan orang sebelum ada bukti” jawabku.
Akupun bisa merasakan gimana perasaan Rani. Aku, Shinta, dan Rio coba ngehibur Rani. Aku seneng banget waktu lihat Rani bisa tersenyum.
“Aku seneng banget punya sahabat kayak kalian. Aku nggak mau kehilangan kalian.” Kata Rani sambil tersenyum.
Persahabatan kami lama berlangsung, Kami semakin kompak. Pada bulan Ramadhan, Shinta punya masalah ma pacarnya, sebut saja namanya Tian. Shinta bilang ke kami, Shinta denger dari orang lain kalau kelakuan Tian bener – bener jelek banget Katanya Tian perokok, minum – minuman keras. Tian juga sering keluar masuk BP gara – gara masalah itu. Tian juga hampir dikeluarkan dari sekolah. Shinta minta bantuan aku untuk cari tahu masalah ini. Aku pun menyanggupi permintaan Shinta karena kakakku sepupu juga lumayan akrab ma Tian. Tapi kakakku kurang tahu masalah itu.
Kakakku bilang, “Setahu aku, Tian emang perokok, tapi kalau masalah yang lain aku kurang tahu dek.”
Pada suatu hari, sepulang sekolah aku sudah berjanji mau ketemu ma kakakku sepupu. Kita mau ngobrolin masalah Tian. Aku seneng banget akhirnya bisa ketemu ma kakakku lagi. Karena dah lama kita nggak ketemu, kakakku kuliyah di luar kota. Kami pun mengobrol panjang lebar sambil bercanda – canda gitu. Sampai – sampai aku lupa da janji ma Shinta. Tiba – tiba Shinta lewat di depanku boncengan ma Lina, sambil berkata,
“Hai, jangan pacaran terus donk! sampai lupa waktu lagi.”
Aku sangat kaget dengar Shinta bilang kayak gitu ke aku. Padahal aku nglakuin ini semua kan juga buat nyelesain masalahnya ma Tian. Tapi aku juga sadar, emang aku juga salah. Tapi, disatu sisi aku juga jengkel banget ma Shinta.
Pertengkaran ini berlangsung terus, ditambah lagi ada yang memperkeruh pertengkaran kami disaat kami sedang panas. Akupun semakin kesal. Akhirnya, aku memutuskan untuk menjauh dari Shinta, Rani, dan Rio. Orang yang merusak persahabatan kami adalah Lina. Padahal aku punya niat buat minta maaf ma Shinta. Temen – temenku satu kelas juga bilang kalau Lina emang perusak persahabatan orang lain. Lina juga dah berhasil masuk dalam persahabatan Rani, Shinta, Rio untuk menggantikan aku. Setelah kejadian itu aku lebih banyak menghabiskan waktuku untuk menyendiri.
By : Yulia Lisa SH
BANGUNAN
Ketika aku melihat gedung ini, rasanya aku ingin berhenti berjalan dan masuk di dalamnya. Banyak orang keluar masuk dari gedung tersebut pada waktu yang telah di tentukan oleh kebanyakan orang. Ingin rasanya masuk ke dalam gedung itu dan melihat keadaannya mengapa begitu menarik dan jika melihatnya membuat hatiku ingin memilikinya seperti orang yang keluar masuk tadi. Sepertinya itu tak mungkin jika aku memilikinya, sebab ayah sudah memilihkan gedung lain untukku.
Aku adalah seorang gadis yang sedang mencari kesejukan yang dapat menerangi jiwaku, yang dapat membimbingku ke jalan yang benar. Tidak seperti saat ini, rasanya suram sekali kehidupanku. Aku sudah menemukan sesuatu yang dapat menerangi jiwaku, yaitu gedung tadi. Rasanya itu tak mungkin jika aku memiliki gedung itu, sebab ayah sudah memilihkan gedung lain untukku. Jika aku memaksa pindah ke gedung yang hamper setiap hari aku lewati, ayah pasti marah. Tidak hanya ayah saja, tapi juga keluargaku lain yang juga memilih gedung yang aku anggap suram itu.
“Andai saja dulu ayah tidak memilihkan gedung yang suram itu untukku, sekarang pasti aku sudah memiliki gedung yang menerangi jiwaku itu”gerutuku.
Keesokan hari aku kembali melewati gedung itu. Kali ini ketika aku melihat bangun itu. Tidak seperti biasanya, gejolak hati semakin besar untuk memiliki gedung itu. Tak perduli ayah marah atau tidak, yang jelas aku sudah menambatkan hati pada gedung itu. Sudah ku putuskan aku akan pindah dari gedung yang di pilihkan ayah ke gedung yang selalu membuatku tenang dan damai ini.
Di rumah aku menyampaikan niatku itu kepada ayah. Belum selesai bicara, ayah marah.
”tidak ada yang boleh pindah dari gedung yang sudah ku pilihkan ke gedung yang lain. Mengerti!”.
Sontak aku merasa kecewa dengan apa yang baru saja ayah katakan. Sifat ayah memang keras dan tidak dapat di tawar apa yang sudah jadi keputusannya. Tetapi, aku tak perduli dengan keputusan ayah. Aku tetap ingin memiliki gedung itu.
Lusa aku pergi ke gedung itu dan masuk di dalamnya. Di sana aku bertemu seorang laki-laki tua yang dapat membantuku utuk mengukuhkan kalimat bahwa aku memilih bangunan ini.
“apakah kau yakin nak, bahwa kau memilih gedung ini sebagai sandaran yang terakhir?” tanya laki-laki tua itu.
“aku yakin, bahwa inilah jalan hidupku yang sebenarnya” kataku
“baiklah kalau begitu, ikutilah kalimat yang akan aku katakana untukmu” sahut laki- laki itu. Aku hanya mengangguk saja.
“asyhaduallaa ilaaha illalloh wa asyhadu anna muhammadan rosululloh” dikte laki-laki itu.
Aku pun mengikuti kalimat itu, dan setelah mengukuhkan kalimat itu secara otomatis aku masuk ke agama Islam. Mulai hari ini aku seorang muslim. Setelah mengucapkan kalimat syahadat hatiku merasa tenang dan tidak ada lagi kegundahan yang melanda hatiku. Rasanya aku ingin selalu memuji nama Tuhan yang baru saja aku temukan, yaitu Allah Yang Maha Besar. Dia telah menunjukkan jalannya untukku.
Masalah yang harus aku hadapi lagi yaitu, bagaimana cara aku menyampaikan bahwa aku telah masuk Islam tanpa restu ayah. Setiba di rumah aku merasa takuttakut, tapi aku merasakan ada bisikan yang menyuruhku untuk tidak takut pada apapun. Begitu mendengar bisikan itu, rasa takut hilang, dan aku langsung menemui ayah di ruang kerja.
Aku menghampiri ayah dan berkata,”yah, maaf bila aku harus bilang seperti ini pada ayah. Aku tak bermaksud untuk menentang perkataan ayah, jika aku ingin masuk Islam. Tapi yah, aku tidak bisa menahan diri untuk masuk Islam, karena di sini aku mendapatkan ketenangan dalam hidup,aku bisa mengerti arti sebuah pilihan. Ini adalah keputusanku,yah. Aku telah mengikrarkan kalimat bahwa aku masuk Islam”.
Sontak ayah berdiri dari duduk dan marah-marah kepadaku. Aku pasrah dengan apa yang akan di lakukan ayah kepadaku.
“aline, ayah sudah bilang, bahwa tidak ada yang boleh keluar dari ajaran nenek moyang kita. Kenapa kau harus melakukan perbuatan yang ayah tidak suka”.
Bentak ayah. Ayah pernah bilang , bila salah satu dari angota keluarga kami yang keluar dari agama nenek moyang, maka dia tidak akan pernah di anggap keluarga lagi.
Ayah mendekatiku dan menarik ikat pinggang yang ada di celananya. Ayah mengangkat ikat pinggang dan memukulnya kepadaku. Hingga berkali-kali, aku meringis kesakitan. Ayah memaksaku untuk kembali ke agama yang semula, tapi aku tetap bersihkukuh untuk tetap pada agama Islam ini.
“aku tak mau yah, ini sudah jadi keputusanku yang terakhir”.
Ayah tidak hanya memukulku dengan ikat pinggang , tetapi juga menyeretku ke dalam kamar mandi dan menceburkan kepalaku ke dalam bak mandi. Aku tak bisa bernafas. Setelah beberapa detik, ayah mengangkat kepalaku untuk memberiku udara dan menceburkan kembali ke bak mandi, kemudian mengangkat, menceburkan, mengangkat, menceburkan, begitu berkali-kali. Rasanya seperti mau mati saja. Aku tidak di beri kesempatan untuk berkata satu kata pun. Setelah itu, aku di bawa ayah ke gudang bawah tanah dan mengurungku di sana. Di gudang bawah tanah, badanku terasa memar di seujur tubuh, hingga aku tak sanggup untuk berdiri. Tenagaku habis untuk melawan tenaga ayah tadi.
Aku berdoa,” Ya Allah, apakah ini cobaan pertama yang harus aku tempuh untuk meyakinkan diriku? Jika memang benar, aku akan menerimanya dengan ikhlas dan menjalankannya dengan senang hati. Terima kasih Ya Allah, kau telah menguji keimananku kepadamu. Sungguh bersyukur aku bias beriman kepadamu”.
Sudah beberapa hari ini aku berada di gudang bawah tanah, dan tidak di beri makan dan minum oleh ayah. Rasanya lemas sekali badan ini,sama sekali tidak bias untuk bergerak. Akhirnya pintu gudang pun di buka. Tanpa basa-basi ayah bukannya menanyakan keadaanku tetapi bertanya.
” apakah kau tetap pada pendirianmu itu, haah!!”.
“aku tetap pada pendirianku yah, dan aku tidak takut dengan apapun. Yang aku takutkan adalah Allah, tuhan yang telah menciptakanku” jawabku.
“kalau begitu keluarlah kau dari sini dan jangan pernah kau menginjakkan kakimu di rumah ini”.
Dengan langkah gontai aku menghampiri ayah dan berlutut di kaki ayah dan berkata,” maafkan aku ayah, bukan maksudku untuk menentang ayah dan membuat marah, tapi ini adalah keputusanku. Sekali lagi aku minta maaf. Tapi aku tidak akan memutuskan hubungan darah antara anak dengan ayah. Terima kasih telah merawatku selama ini”.
Aku pergi meninggalkan ayah, keluarga, dan semua kenanganku bersama ayah. Walaupun terasa amat menyakitkan untukku, tapi ini adalah jalan yang sudah aku ambil.
Beberapa hari aku berjalan tanpa tujuan. Aku bingung entah harus kemana. Sudah beberapa hari ini aku tidak makan dan tidak minum. Jangankan untuk makan dan minum, berjalan saja aku hampir tidak sanggup.sekujur tubuhku masih terdapat bekas cambukan, dan tamparan ayah. Aku sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan. Aku memutuskan mencari tempat untuk berteduh, tanpa sadar aku telah sampai di sebuah masjid. Masjid yang aku perjuangkan selama ini. Segera aku mengambil wudhlu dan melaksanakan sholat dhuhur. Walaupun aku tidak begitu fasih melafalkan nama-nama Allah, tapi aku tetap mengerjakan sholat. Setelah sholat aku bertemu dengan seorang ibu. Ibu itu bernama Bu Fatimah. Dia menghampiriku dan bertanya tentang asal usulku. Aku menceritakan semua kejadian mulai dari awal hingga aku berada di sini. Bu Fatimah merasa iba dan menyuruhku untuk ikut ke rumahnya.
“alhamdulillah ya Allah, akhirnya engkau menolongku, dan mengirim seorang ibu yang baik seperti Bu Fatimah ini” gumamku.
Setelah tiba di rumah Bu Fatimah,aku bertemu dengan seorang laki-laki tua dan seorang gadis remaja yang ternyata itu suami dan anak Bu Fatimah. Sepertinya aku pernah bertemu dengan suami Bu Fatimah. Dia adalah orang yang membimbingku untuk mengucapkan syahadat. Bu Fatimah menceritakan semua yang aku alami kepada suami dan anaknya. Bu Fatimah dan suaminya berniat menjadikanku sebagai anaknya. Betapa bahagia aku dan senangnya aku. Aku bersedia menjadi bagian dari keluarga ini.
“alhamdulillah Ya Allah, ku syukuri semua anugerah yang Kau berikan kepadaku”.
Tetapi aku tidak akan lupa dengan ayah yang selama ini merawatku. Bagaimanapun juga, sejahat apapun ayah, dia tetap ayahku.(unr).
By : Ulin Nuha Rahma N.
Read More..
Aku adalah seorang gadis yang sedang mencari kesejukan yang dapat menerangi jiwaku, yang dapat membimbingku ke jalan yang benar. Tidak seperti saat ini, rasanya suram sekali kehidupanku. Aku sudah menemukan sesuatu yang dapat menerangi jiwaku, yaitu gedung tadi. Rasanya itu tak mungkin jika aku memiliki gedung itu, sebab ayah sudah memilihkan gedung lain untukku. Jika aku memaksa pindah ke gedung yang hamper setiap hari aku lewati, ayah pasti marah. Tidak hanya ayah saja, tapi juga keluargaku lain yang juga memilih gedung yang aku anggap suram itu.
“Andai saja dulu ayah tidak memilihkan gedung yang suram itu untukku, sekarang pasti aku sudah memiliki gedung yang menerangi jiwaku itu”gerutuku.
Keesokan hari aku kembali melewati gedung itu. Kali ini ketika aku melihat bangun itu. Tidak seperti biasanya, gejolak hati semakin besar untuk memiliki gedung itu. Tak perduli ayah marah atau tidak, yang jelas aku sudah menambatkan hati pada gedung itu. Sudah ku putuskan aku akan pindah dari gedung yang di pilihkan ayah ke gedung yang selalu membuatku tenang dan damai ini.
Di rumah aku menyampaikan niatku itu kepada ayah. Belum selesai bicara, ayah marah.
”tidak ada yang boleh pindah dari gedung yang sudah ku pilihkan ke gedung yang lain. Mengerti!”.
Sontak aku merasa kecewa dengan apa yang baru saja ayah katakan. Sifat ayah memang keras dan tidak dapat di tawar apa yang sudah jadi keputusannya. Tetapi, aku tak perduli dengan keputusan ayah. Aku tetap ingin memiliki gedung itu.
Lusa aku pergi ke gedung itu dan masuk di dalamnya. Di sana aku bertemu seorang laki-laki tua yang dapat membantuku utuk mengukuhkan kalimat bahwa aku memilih bangunan ini.
“apakah kau yakin nak, bahwa kau memilih gedung ini sebagai sandaran yang terakhir?” tanya laki-laki tua itu.
“aku yakin, bahwa inilah jalan hidupku yang sebenarnya” kataku
“baiklah kalau begitu, ikutilah kalimat yang akan aku katakana untukmu” sahut laki- laki itu. Aku hanya mengangguk saja.
“asyhaduallaa ilaaha illalloh wa asyhadu anna muhammadan rosululloh” dikte laki-laki itu.
Aku pun mengikuti kalimat itu, dan setelah mengukuhkan kalimat itu secara otomatis aku masuk ke agama Islam. Mulai hari ini aku seorang muslim. Setelah mengucapkan kalimat syahadat hatiku merasa tenang dan tidak ada lagi kegundahan yang melanda hatiku. Rasanya aku ingin selalu memuji nama Tuhan yang baru saja aku temukan, yaitu Allah Yang Maha Besar. Dia telah menunjukkan jalannya untukku.
Masalah yang harus aku hadapi lagi yaitu, bagaimana cara aku menyampaikan bahwa aku telah masuk Islam tanpa restu ayah. Setiba di rumah aku merasa takuttakut, tapi aku merasakan ada bisikan yang menyuruhku untuk tidak takut pada apapun. Begitu mendengar bisikan itu, rasa takut hilang, dan aku langsung menemui ayah di ruang kerja.
Aku menghampiri ayah dan berkata,”yah, maaf bila aku harus bilang seperti ini pada ayah. Aku tak bermaksud untuk menentang perkataan ayah, jika aku ingin masuk Islam. Tapi yah, aku tidak bisa menahan diri untuk masuk Islam, karena di sini aku mendapatkan ketenangan dalam hidup,aku bisa mengerti arti sebuah pilihan. Ini adalah keputusanku,yah. Aku telah mengikrarkan kalimat bahwa aku masuk Islam”.
Sontak ayah berdiri dari duduk dan marah-marah kepadaku. Aku pasrah dengan apa yang akan di lakukan ayah kepadaku.
“aline, ayah sudah bilang, bahwa tidak ada yang boleh keluar dari ajaran nenek moyang kita. Kenapa kau harus melakukan perbuatan yang ayah tidak suka”.
Bentak ayah. Ayah pernah bilang , bila salah satu dari angota keluarga kami yang keluar dari agama nenek moyang, maka dia tidak akan pernah di anggap keluarga lagi.
Ayah mendekatiku dan menarik ikat pinggang yang ada di celananya. Ayah mengangkat ikat pinggang dan memukulnya kepadaku. Hingga berkali-kali, aku meringis kesakitan. Ayah memaksaku untuk kembali ke agama yang semula, tapi aku tetap bersihkukuh untuk tetap pada agama Islam ini.
“aku tak mau yah, ini sudah jadi keputusanku yang terakhir”.
Ayah tidak hanya memukulku dengan ikat pinggang , tetapi juga menyeretku ke dalam kamar mandi dan menceburkan kepalaku ke dalam bak mandi. Aku tak bisa bernafas. Setelah beberapa detik, ayah mengangkat kepalaku untuk memberiku udara dan menceburkan kembali ke bak mandi, kemudian mengangkat, menceburkan, mengangkat, menceburkan, begitu berkali-kali. Rasanya seperti mau mati saja. Aku tidak di beri kesempatan untuk berkata satu kata pun. Setelah itu, aku di bawa ayah ke gudang bawah tanah dan mengurungku di sana. Di gudang bawah tanah, badanku terasa memar di seujur tubuh, hingga aku tak sanggup untuk berdiri. Tenagaku habis untuk melawan tenaga ayah tadi.
Aku berdoa,” Ya Allah, apakah ini cobaan pertama yang harus aku tempuh untuk meyakinkan diriku? Jika memang benar, aku akan menerimanya dengan ikhlas dan menjalankannya dengan senang hati. Terima kasih Ya Allah, kau telah menguji keimananku kepadamu. Sungguh bersyukur aku bias beriman kepadamu”.
Sudah beberapa hari ini aku berada di gudang bawah tanah, dan tidak di beri makan dan minum oleh ayah. Rasanya lemas sekali badan ini,sama sekali tidak bias untuk bergerak. Akhirnya pintu gudang pun di buka. Tanpa basa-basi ayah bukannya menanyakan keadaanku tetapi bertanya.
” apakah kau tetap pada pendirianmu itu, haah!!”.
“aku tetap pada pendirianku yah, dan aku tidak takut dengan apapun. Yang aku takutkan adalah Allah, tuhan yang telah menciptakanku” jawabku.
“kalau begitu keluarlah kau dari sini dan jangan pernah kau menginjakkan kakimu di rumah ini”.
Dengan langkah gontai aku menghampiri ayah dan berlutut di kaki ayah dan berkata,” maafkan aku ayah, bukan maksudku untuk menentang ayah dan membuat marah, tapi ini adalah keputusanku. Sekali lagi aku minta maaf. Tapi aku tidak akan memutuskan hubungan darah antara anak dengan ayah. Terima kasih telah merawatku selama ini”.
Aku pergi meninggalkan ayah, keluarga, dan semua kenanganku bersama ayah. Walaupun terasa amat menyakitkan untukku, tapi ini adalah jalan yang sudah aku ambil.
Beberapa hari aku berjalan tanpa tujuan. Aku bingung entah harus kemana. Sudah beberapa hari ini aku tidak makan dan tidak minum. Jangankan untuk makan dan minum, berjalan saja aku hampir tidak sanggup.sekujur tubuhku masih terdapat bekas cambukan, dan tamparan ayah. Aku sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan. Aku memutuskan mencari tempat untuk berteduh, tanpa sadar aku telah sampai di sebuah masjid. Masjid yang aku perjuangkan selama ini. Segera aku mengambil wudhlu dan melaksanakan sholat dhuhur. Walaupun aku tidak begitu fasih melafalkan nama-nama Allah, tapi aku tetap mengerjakan sholat. Setelah sholat aku bertemu dengan seorang ibu. Ibu itu bernama Bu Fatimah. Dia menghampiriku dan bertanya tentang asal usulku. Aku menceritakan semua kejadian mulai dari awal hingga aku berada di sini. Bu Fatimah merasa iba dan menyuruhku untuk ikut ke rumahnya.
“alhamdulillah ya Allah, akhirnya engkau menolongku, dan mengirim seorang ibu yang baik seperti Bu Fatimah ini” gumamku.
Setelah tiba di rumah Bu Fatimah,aku bertemu dengan seorang laki-laki tua dan seorang gadis remaja yang ternyata itu suami dan anak Bu Fatimah. Sepertinya aku pernah bertemu dengan suami Bu Fatimah. Dia adalah orang yang membimbingku untuk mengucapkan syahadat. Bu Fatimah menceritakan semua yang aku alami kepada suami dan anaknya. Bu Fatimah dan suaminya berniat menjadikanku sebagai anaknya. Betapa bahagia aku dan senangnya aku. Aku bersedia menjadi bagian dari keluarga ini.
“alhamdulillah Ya Allah, ku syukuri semua anugerah yang Kau berikan kepadaku”.
Tetapi aku tidak akan lupa dengan ayah yang selama ini merawatku. Bagaimanapun juga, sejahat apapun ayah, dia tetap ayahku.(unr).
By : Ulin Nuha Rahma N.
Minggu, 24 Mei 2009
Menunggu kepastian yang tak pasti
Aku tetap tersandarkan di samping tempat tidurku, entah apa yang ku bayangkan. Aku tetap memikirkan arah kisah cintaku. Ini yang siap hari kulakukan setelah sholat Isya’, memikirkan hal yang tak pasti. Walaupun selalu ada di setiap doa-doaku, bayangan tentangnya tak pernah lepas dariku.
“Tok,tok,tok…! Na… ayo keluar makan malam, kami sudah menunggu. Cepatlah kau turun.” teriak umi didepan pintu kamarku. Sesegera mungkin aku melepas mukenaku dan membuyarkan lamunanku.
“Iya mi, sebentar.”sahutku. aku segera turun menuju meja makan.
Seperti biasa, Aini dan Agil sudah duduk manis di meja makan.
“Kak Aina lama banget sih, kenapa tadi langsung kabur selesai sholat berjama’ah?pasti ngelamun lagi.” Aini langsung nyletuk setelah aku duduk.
“Iya mbak,nggak baik kalo mbak kebanyakan nglamun gitu. Ntar kesambet loh.” Sahut Agil. Aku manyun dengar celotehan adik-adikku yang sudah tidak asing lagi.
“Apa sih yang tiap hari kamu pikirkan Na?apa tentang Agung lagi?.” Tanya Umi. Aku hanya diam mendengar partanyaan umi.
“Abi, silakan memimpin doa. Nanti saja setelah makan baru dibicarakan.” Aku segera mengalihkan pembicaraan. Aku paling mlas kalau semua sudah membicarakan tentang sikapku. Paling-paling nanti setelah makan aku langsung kembali kekamar, Aini juga langsung menuju kamarnya dan Agil sudah pasti langsung keruang perpustakaan dilantai atas.
Umi sibuk membereskan meja dan Abi segera masuk keruang kerjanya.
“Aina benar, sudahlah kita makan dulu.”jawab Abi.
Mkan malam berjalan lancar dan tanpa suara.
“Abi, Umi, ada yang ingin Agil sampaikan. Bisakah setelah ini kita semua berkumpul di ruang keluarga?”
Abi dan umi hanya mengangguk.Sudah menjadi tradisi setiap ada yang dibicarakan oleh salah satu keluarga selalu dibicarakan diruang keluarga sehabis makan malam. Tak ada yang heran lagi apa yang akan dibicarakan Agil. Dugaanku paling-paling hanya membicarakan tentang kuliah dan pekerjaannya.
Kami sudah berkumpul di ruang keluarga, TV selalu dinyalakan oleh abi, agar suasana pembicaraan menjadi santay.
“Abi,Umi, Agil sudah besar. Agil juga sudah memiliki pekerjaan yang bagus.” Agil memulai pambicaraannya. Kami hanya mendengarkannya hingga ia selesai bicara.
“Agil ingin menikah Bi.”
Apa yang dikatakannya membuatku melotot. Abi dan Umi pun juga terlihat kaget.
“Abi, Agil tidak mau berpacaran. Tentu saja Abi dan Umi juga tidak ingin Agil berpacaran. Selama ini aku dan Azisya hanya dekat dan sebatas teman saja. Tapi kami juga tidak dapat memungkiri kalau kami saling suka. Seminggu yang lalu Ayahnya Azisya meminta kepastian lagi padaku. Jika aku benar-benar serius dengan Azisya maka menikahlah. Jangan sampai nantinya malah membuat kami jadi terjerumus dalam kemaksiatan. Sebenarnya sudah sejak tiga tahun yang lalu, sejak Agil dianggat menjadi asisten dosen dikampus Ayah azisya sudah menanyakannya padaku.”
Kami hanya terdiam dan mendengarkannya.
“Abi, Agil ingin melamar Azisya. Menurut Abi, Umi dan mbak Aina sudah matangkah Agil untuk menikah? Maafkan aku mbak Aina, bukan maaksudku untuk meloncati mbak Aina. Sudah tiga thun aku mengurungkan niatku untuk melamar Azisya karna aku tidak mau meloncati mbak. Sudah terlalu lama mbak, aku membuat Azisya menunggu. Dan aku tidak ingin membuatnya menunggu lagi. Dengan segala hormatku pada mbak Aina, bolehkah aku menanyakan sesuatu?”
Apa yang dikatakan Adikku membuatku tersentak kaget, aku tak menyangka telah membuat adikku menderita. Subhanallah. Aku dan Agil hanya berjarak 2tahun, dan Aini berjarak jauh sekali, Aini masih kelas 3 SMA. Dan aku sudah 27 tahun. Agil memang sudah matang menurutku, diantara kami bertiga, dialah yang paling cerdas. SMP dan SMA hanya ia tempuh selama 2 tahun. Dia memang pintar dan cerdas. Setelah lulus SMA dia langsung diterima di fakultas Mikrobiologi di ITB yang saat itu umurnya masih 17 tahun. Setelah kuliah selama 5 tahun dia diangkat menjadi asisten dosen.
“Iya, apa yang akan kau tanyakan? Insyaallah mbak akan menjawabnya.”
“Apa yang membuat mbak menanti? Apakah mbak akan tetap menunggu mas Agung yang tak kunjung kembali? Mbak, Mbak masih bisa mendapatkan yang lebih baik walaupun itu bukan yang terbaik. Maafkan Agil dengan semua kelancangan Agil mengatakan hal ini. Tapi Agil sudah berjanji pada diri sendiri kalau Agil tidak akan meloncati mbak Aina, Agil akan menunggu mbak Aina menikah, barulah Agil juga akan menyusul mbak Aina.”
Pertanyaan Agil membuatku tersentak. Aku bingung akan mengatakan apa, seperti yang sebenarnya mereka tau, ada seseorang yang kunanti.
“Iya Na, apa yang sebenarnya kau nanti, sudah lama kau sendiri dengan lamunanmu itu,. Umi tau, kau sedang menunggu Agung, tapi apa kau akan terus menunggunya? Menunggu ketidak pastiannya untuk menikahimu nak?” Umi juga ikut bertanya.
“benar mbak, mbak tuh cantik, sholeh, baik dan sudah mapan. Apa lagi yang mbak tunggu?” toh banyak sekali laki-laki yang mengantri diluar sana. Nunggu apa lagi coba?” sahut Aini.
“ Aini? Jangan lancang ngomong sama mbakmu. Hormati orang yang lebih tua. Ini bukan saatnya bercanda.” Agil memasang raut wajah yang kesal.
“Anakku… apa yang dikatakan Umi dan adik-adikmu itu benar. Sekarang Abi tanya, apa kau akan terus seperti ini nak? Apa kau tega membiarkan adikmu juga ikut menanggung akibatnya? Abi tau Agung adalah ank yang baik. Dan Abi tau apa yang kau rasakan selama ini. Sungguh, Abi merasa sedih jika kau terus-terusan seperti ini. Sekarang, Abi minta, menikahlah nak, sudah saatnya Abi melepas tanggung jawab Abi pada anak-anak abi… abi ingin melihat anak-anak abi bahagia dengan keluarganya, Abi ingin melihat pernikahan kalian, menikahlah nak!”
Apa yang dikatakan Abi membuatku mengerti semuanya. Ternyata aku telah membuat adikku menunggu hingga sekian lama, membuat Umi cemas dan khawatir, membuat Aini jengkel karna sehabis sholat Isya’ aku pasti melamun. Dan yang paling membutku terharu, aku telah membuat Abi sedih. Bodohnya aku tak pernah menyadari itu.
“ Anakku, bukan maksud Abi untuk memaksamu menikah. Tapi pikiranlah segalanya nak. Jodoh memang ada di tangan Allah. Abi tidak akan memaksamu. Kau sudah besar, dan sudah bisa menentukan jalanmu sendiri, pikirkanlah dulu.”
“Iya mbak, agil sama sekali tidak bermaksud lancang. Agil hanya tidak tau harus bagaimana lagi, Agil bingungg mbak, Zisya sudah terlalu lama menunggu. Agil tidak ingin membuatya menunggun lagi.”
Aku hanya tertunduk, perasaanku campur adku, aku tak tau harus bagaimana.
Dengan terbata dan bibir yang gemetar aku berkta. “ berikan aku waktu untuk memikirkannya Abi, Biarkan Aina meminta petunjuk Allah. Maafkan aku adikku, maafkan mbakmu ini yang tak tau apa yang kau alami. Maafkan aku.”
“Iya Na, Insyaallah Allah akan menunjukkan jalan yang terbaik bagimu nak.” Kata umi.
“Kami akan menunggu jawabannya.” Sahut Abi dengan sayup wajahnya yang teduh dan penuh kesabaran.
Aku langsung kekamar, entahlah aku tak dapat memikirkannya lagi. Apa yang dikatakan Abi terus terngiang ditelingaku. Aku tak dapat memejamkan mata. Kulihat jam dinding, sudah pukul 01.00. segera ku ambil air wudhu dan sholat Istikhara dan sholat Tahajud. Aku ingin meminta petunjuk oleh allah.
Aku terus memikirkannya semalaman, entahlah apa keputusan yang akan ku ambil, Aku harus mengambil keputusannya sekarang. Aku tak ingin membuat Adikku menunggu lagi. Harus kuputuskan sekarang juga.
Keesokan harinya, selesai sholat Isya’ berjamaah aku tidak langsung pergi kekamar. Kunanti makan malam bersama keluarga, hari ini makan malam sedikit berbeda. Ada Azisya disini. Zisya memang sudah diterima dikeluarga kami. Dan sudah tidak asing lagi ia ikut makan malam bersama kami.
Aku merasa sangat bersalah saat melihatnya, aku telah membuatnya menunggu terlalu lama.
“Maafkan aku.”satu kata yang ku ucapkan untuk membuka pembicaraan.
Semua mata diruangan itu tertju kepadaku.
“Maafkan aku umi, mungkin aku telah membuat umi cemas. Maafkan aku adikku, terutama Azisya, karna aku kau menggu Agil hinggasekian lamanya. Sungguh, betapa bodohnya aku, sama sekali tak terfikirkan olehku jika kau akan separti ini Agil. Sekarang aku sudah mengambil keputusan. Menikahlah, jangan biarkan cintamu menunggu hanya karna aku ini.”
“tidak mbak, tidak akan. Aku tidak ingin lancang meloncati mbak. Aku ingin melihat mbak di pelaminan lebih dulu dari pada aku.”agil menjawab dengan raut wjah yang serius.
“ tidak adikku, sudah cukup aku membuatmu menjadi seperti ini. Kau laki-laki, jadilah seorang laki-laki yang bijak. Menikahlah. Mbak ingin tetap menunggu mas Agung, mas Agung sudah berjanji padaku, ia akan meminangku sepulang dari kuliahnya di Jepang. Aku pun sudah berjanji padanya akan setia menunggunya.”
“Zisya ikhlas mbak jika harus menunggu, Zisya ikhlas menunggu mas Agil seperti mbak ikhlas menunggu mas Agung.”
“Tidak Sya.. sudah terlalu lama kau menunggu hanya karna aku. Sudahlah, menikahlah, mbak baik-baik saja. Menikahlah. Abi, inilah keputusan Aina, Aina senang dan menikmati kesendirian Aina. Aina tidak siap untuk menikah dulu, biarkanlah Agil mendahuluiku. Maafkan segala keputusan Aina ini, InsyaAllah Allah pasti memberiakn yang terbaik pada Aina dan semua akan indah pada waktunya.”
“ Abi menghargai semua keputusanmu nak, jika memang itu yang kau inginkan.” Ucap abi
“ Umi juga menyerahkan semua keputusan padamu anakku.”
“ Sekali lagi maafkan Aku. Aina akan tetap menunggu Mas Agung. Menunggu kepastian yang mungkin tidak pasti, karna tidak ada yang pasti didunia ini.”
“I’m still here waiting for you.”
By : Retno Vatika Pratami ^_^
Read More..
“Tok,tok,tok…! Na… ayo keluar makan malam, kami sudah menunggu. Cepatlah kau turun.” teriak umi didepan pintu kamarku. Sesegera mungkin aku melepas mukenaku dan membuyarkan lamunanku.
“Iya mi, sebentar.”sahutku. aku segera turun menuju meja makan.
Seperti biasa, Aini dan Agil sudah duduk manis di meja makan.
“Kak Aina lama banget sih, kenapa tadi langsung kabur selesai sholat berjama’ah?pasti ngelamun lagi.” Aini langsung nyletuk setelah aku duduk.
“Iya mbak,nggak baik kalo mbak kebanyakan nglamun gitu. Ntar kesambet loh.” Sahut Agil. Aku manyun dengar celotehan adik-adikku yang sudah tidak asing lagi.
“Apa sih yang tiap hari kamu pikirkan Na?apa tentang Agung lagi?.” Tanya Umi. Aku hanya diam mendengar partanyaan umi.
“Abi, silakan memimpin doa. Nanti saja setelah makan baru dibicarakan.” Aku segera mengalihkan pembicaraan. Aku paling mlas kalau semua sudah membicarakan tentang sikapku. Paling-paling nanti setelah makan aku langsung kembali kekamar, Aini juga langsung menuju kamarnya dan Agil sudah pasti langsung keruang perpustakaan dilantai atas.
Umi sibuk membereskan meja dan Abi segera masuk keruang kerjanya.
“Aina benar, sudahlah kita makan dulu.”jawab Abi.
Mkan malam berjalan lancar dan tanpa suara.
“Abi, Umi, ada yang ingin Agil sampaikan. Bisakah setelah ini kita semua berkumpul di ruang keluarga?”
Abi dan umi hanya mengangguk.Sudah menjadi tradisi setiap ada yang dibicarakan oleh salah satu keluarga selalu dibicarakan diruang keluarga sehabis makan malam. Tak ada yang heran lagi apa yang akan dibicarakan Agil. Dugaanku paling-paling hanya membicarakan tentang kuliah dan pekerjaannya.
Kami sudah berkumpul di ruang keluarga, TV selalu dinyalakan oleh abi, agar suasana pembicaraan menjadi santay.
“Abi,Umi, Agil sudah besar. Agil juga sudah memiliki pekerjaan yang bagus.” Agil memulai pambicaraannya. Kami hanya mendengarkannya hingga ia selesai bicara.
“Agil ingin menikah Bi.”
Apa yang dikatakannya membuatku melotot. Abi dan Umi pun juga terlihat kaget.
“Abi, Agil tidak mau berpacaran. Tentu saja Abi dan Umi juga tidak ingin Agil berpacaran. Selama ini aku dan Azisya hanya dekat dan sebatas teman saja. Tapi kami juga tidak dapat memungkiri kalau kami saling suka. Seminggu yang lalu Ayahnya Azisya meminta kepastian lagi padaku. Jika aku benar-benar serius dengan Azisya maka menikahlah. Jangan sampai nantinya malah membuat kami jadi terjerumus dalam kemaksiatan. Sebenarnya sudah sejak tiga tahun yang lalu, sejak Agil dianggat menjadi asisten dosen dikampus Ayah azisya sudah menanyakannya padaku.”
Kami hanya terdiam dan mendengarkannya.
“Abi, Agil ingin melamar Azisya. Menurut Abi, Umi dan mbak Aina sudah matangkah Agil untuk menikah? Maafkan aku mbak Aina, bukan maaksudku untuk meloncati mbak Aina. Sudah tiga thun aku mengurungkan niatku untuk melamar Azisya karna aku tidak mau meloncati mbak. Sudah terlalu lama mbak, aku membuat Azisya menunggu. Dan aku tidak ingin membuatnya menunggu lagi. Dengan segala hormatku pada mbak Aina, bolehkah aku menanyakan sesuatu?”
Apa yang dikatakan Adikku membuatku tersentak kaget, aku tak menyangka telah membuat adikku menderita. Subhanallah. Aku dan Agil hanya berjarak 2tahun, dan Aini berjarak jauh sekali, Aini masih kelas 3 SMA. Dan aku sudah 27 tahun. Agil memang sudah matang menurutku, diantara kami bertiga, dialah yang paling cerdas. SMP dan SMA hanya ia tempuh selama 2 tahun. Dia memang pintar dan cerdas. Setelah lulus SMA dia langsung diterima di fakultas Mikrobiologi di ITB yang saat itu umurnya masih 17 tahun. Setelah kuliah selama 5 tahun dia diangkat menjadi asisten dosen.
“Iya, apa yang akan kau tanyakan? Insyaallah mbak akan menjawabnya.”
“Apa yang membuat mbak menanti? Apakah mbak akan tetap menunggu mas Agung yang tak kunjung kembali? Mbak, Mbak masih bisa mendapatkan yang lebih baik walaupun itu bukan yang terbaik. Maafkan Agil dengan semua kelancangan Agil mengatakan hal ini. Tapi Agil sudah berjanji pada diri sendiri kalau Agil tidak akan meloncati mbak Aina, Agil akan menunggu mbak Aina menikah, barulah Agil juga akan menyusul mbak Aina.”
Pertanyaan Agil membuatku tersentak. Aku bingung akan mengatakan apa, seperti yang sebenarnya mereka tau, ada seseorang yang kunanti.
“Iya Na, apa yang sebenarnya kau nanti, sudah lama kau sendiri dengan lamunanmu itu,. Umi tau, kau sedang menunggu Agung, tapi apa kau akan terus menunggunya? Menunggu ketidak pastiannya untuk menikahimu nak?” Umi juga ikut bertanya.
“benar mbak, mbak tuh cantik, sholeh, baik dan sudah mapan. Apa lagi yang mbak tunggu?” toh banyak sekali laki-laki yang mengantri diluar sana. Nunggu apa lagi coba?” sahut Aini.
“ Aini? Jangan lancang ngomong sama mbakmu. Hormati orang yang lebih tua. Ini bukan saatnya bercanda.” Agil memasang raut wajah yang kesal.
“Anakku… apa yang dikatakan Umi dan adik-adikmu itu benar. Sekarang Abi tanya, apa kau akan terus seperti ini nak? Apa kau tega membiarkan adikmu juga ikut menanggung akibatnya? Abi tau Agung adalah ank yang baik. Dan Abi tau apa yang kau rasakan selama ini. Sungguh, Abi merasa sedih jika kau terus-terusan seperti ini. Sekarang, Abi minta, menikahlah nak, sudah saatnya Abi melepas tanggung jawab Abi pada anak-anak abi… abi ingin melihat anak-anak abi bahagia dengan keluarganya, Abi ingin melihat pernikahan kalian, menikahlah nak!”
Apa yang dikatakan Abi membuatku mengerti semuanya. Ternyata aku telah membuat adikku menunggu hingga sekian lama, membuat Umi cemas dan khawatir, membuat Aini jengkel karna sehabis sholat Isya’ aku pasti melamun. Dan yang paling membutku terharu, aku telah membuat Abi sedih. Bodohnya aku tak pernah menyadari itu.
“ Anakku, bukan maksud Abi untuk memaksamu menikah. Tapi pikiranlah segalanya nak. Jodoh memang ada di tangan Allah. Abi tidak akan memaksamu. Kau sudah besar, dan sudah bisa menentukan jalanmu sendiri, pikirkanlah dulu.”
“Iya mbak, agil sama sekali tidak bermaksud lancang. Agil hanya tidak tau harus bagaimana lagi, Agil bingungg mbak, Zisya sudah terlalu lama menunggu. Agil tidak ingin membuatya menunggun lagi.”
Aku hanya tertunduk, perasaanku campur adku, aku tak tau harus bagaimana.
Dengan terbata dan bibir yang gemetar aku berkta. “ berikan aku waktu untuk memikirkannya Abi, Biarkan Aina meminta petunjuk Allah. Maafkan aku adikku, maafkan mbakmu ini yang tak tau apa yang kau alami. Maafkan aku.”
“Iya Na, Insyaallah Allah akan menunjukkan jalan yang terbaik bagimu nak.” Kata umi.
“Kami akan menunggu jawabannya.” Sahut Abi dengan sayup wajahnya yang teduh dan penuh kesabaran.
Aku langsung kekamar, entahlah aku tak dapat memikirkannya lagi. Apa yang dikatakan Abi terus terngiang ditelingaku. Aku tak dapat memejamkan mata. Kulihat jam dinding, sudah pukul 01.00. segera ku ambil air wudhu dan sholat Istikhara dan sholat Tahajud. Aku ingin meminta petunjuk oleh allah.
Aku terus memikirkannya semalaman, entahlah apa keputusan yang akan ku ambil, Aku harus mengambil keputusannya sekarang. Aku tak ingin membuat Adikku menunggu lagi. Harus kuputuskan sekarang juga.
Keesokan harinya, selesai sholat Isya’ berjamaah aku tidak langsung pergi kekamar. Kunanti makan malam bersama keluarga, hari ini makan malam sedikit berbeda. Ada Azisya disini. Zisya memang sudah diterima dikeluarga kami. Dan sudah tidak asing lagi ia ikut makan malam bersama kami.
Aku merasa sangat bersalah saat melihatnya, aku telah membuatnya menunggu terlalu lama.
“Maafkan aku.”satu kata yang ku ucapkan untuk membuka pembicaraan.
Semua mata diruangan itu tertju kepadaku.
“Maafkan aku umi, mungkin aku telah membuat umi cemas. Maafkan aku adikku, terutama Azisya, karna aku kau menggu Agil hinggasekian lamanya. Sungguh, betapa bodohnya aku, sama sekali tak terfikirkan olehku jika kau akan separti ini Agil. Sekarang aku sudah mengambil keputusan. Menikahlah, jangan biarkan cintamu menunggu hanya karna aku ini.”
“tidak mbak, tidak akan. Aku tidak ingin lancang meloncati mbak. Aku ingin melihat mbak di pelaminan lebih dulu dari pada aku.”agil menjawab dengan raut wjah yang serius.
“ tidak adikku, sudah cukup aku membuatmu menjadi seperti ini. Kau laki-laki, jadilah seorang laki-laki yang bijak. Menikahlah. Mbak ingin tetap menunggu mas Agung, mas Agung sudah berjanji padaku, ia akan meminangku sepulang dari kuliahnya di Jepang. Aku pun sudah berjanji padanya akan setia menunggunya.”
“Zisya ikhlas mbak jika harus menunggu, Zisya ikhlas menunggu mas Agil seperti mbak ikhlas menunggu mas Agung.”
“Tidak Sya.. sudah terlalu lama kau menunggu hanya karna aku. Sudahlah, menikahlah, mbak baik-baik saja. Menikahlah. Abi, inilah keputusan Aina, Aina senang dan menikmati kesendirian Aina. Aina tidak siap untuk menikah dulu, biarkanlah Agil mendahuluiku. Maafkan segala keputusan Aina ini, InsyaAllah Allah pasti memberiakn yang terbaik pada Aina dan semua akan indah pada waktunya.”
“ Abi menghargai semua keputusanmu nak, jika memang itu yang kau inginkan.” Ucap abi
“ Umi juga menyerahkan semua keputusan padamu anakku.”
“ Sekali lagi maafkan Aku. Aina akan tetap menunggu Mas Agung. Menunggu kepastian yang mungkin tidak pasti, karna tidak ada yang pasti didunia ini.”
“I’m still here waiting for you.”
By : Retno Vatika Pratami ^_^
Langganan:
Komentar (Atom)




