Minggu, 24 Mei 2009

Malam Yang Sunyi

Suatu hari di desa Wonosari ada seorang pemuda tampandan gagah bernama Aji, dia mengidamkan kebahagiaan dan kasih saying seorang wanita bernama Lina, mereka pertama kali bertemu di danau dekat desa karena di perkenalkan oleh teman mereka, dan pertemuan pertamanya itu, keduanya merasakan getaran – getaran kasih di hati. Setelah beberapa kali berbincang mereka pulang ke rumah mereka dengan rasa yang tak karuan, Aji tersenyum sendiri saat berjalan membayang kan Lina.

Bulan demi bulanpun terasa cepat oleh rasa mereka, dan makin besar pula rasa mereka, suatu saat, Aji memberanikan diri untuk melamar Lina di rumah orang tua Lina , kedua orang tua mereka menyetujui hubungan tersebut tapi masih tunangan dahulu.

Hari ini adalah hari mereka akan bertunangan, mereka gembira sekali, setelah acaranya selesai, Aji mengajak Lina makan malam dengan nasi bungkus di danau tempat mereka pertama berjumpa.

Malampun dating, Aji bersiap – siap dengan dandanan super necisnya, langsung menuju ke warteg sebelah rumah untuk memesan nasi bungkus. Lina pun berdandan special di malam in, dia sangat cantik dengan baju merahnya.

Aji dengan semangatnya, ia mengendarai sepeda motor “ Yamaha Bravo” kesayangannya menjemput Lina di rumah. Spontan aji sangat kaget karena saat melihat Lina, Lina terlihat cantik bagaikan bidadari yang turun dari khayangan.

Aji menyalakan sepeda motornya dan berangkat menuju ke danau bersama Lina, setelah sampai mereka berdua saling bercanda menghibur siapa yang sedang dalam permasalahan sambil makan malam di terpa angina sepoi – sepoi ditemani deburan ombak. Setelah cukup bercanda Lina mengatakan apa yang selama ini ia sembunyikan pada Aji bahwa ia mempunyai penyakit jantung, Aji langsung kaget dan berjanji akan menjaga Lina dengan sepenuh hati hingga dia menjadi pendamping hidupnya nanti. Setelah mereka saling meyakinkan dan saling mengerti mereka beranjak pulang ke rumah masing – masing.

Setelah sekitar satu bulan dari waktu mereka terakhir ke Danau, Aji kembali mengajak Lina makan malam di tempat yang sama sambil membicarakan rencana pernikahan mereka. Aji sangat senang sekali pada hari itu, tak satupun yang ada di dunia ini yang dapat menggantikan Lina. mereka berbincang dan banyak senyum menyelipi pembicaraannya sehingga Lina terkena serangan jantung, dia langsung tergeletak di sebelah Aji, dia sempat mengatakan bahwa dia sangat menyayangi Aji. Aji yang saat itu bingung setengah mati, dia menangis sambil berteriak minta tolong, dia menghibur Lina bahwa masih banyak yang di hadapi di masa depan, “jangan pernah meninggalkanku” katanya.

Aji yang kebingungan segera membawa Lina ke rumah sakit terdekat, pada saat Dokter memeriksa, keadaa Lina sedang kritis. Aji pun masuk ke ruangan Lina, menghiburnya dan berbicara padanya meski Lina tidak menjawab sedikitpun.

4 bulan berlalu, keadaan Lina semakin membaik dan sudah dapat pulang karena Dokter sudah mengijinkan. Pada keesokan harinya Lina merasakan sakit di sekitar jantungnya kembali, dia berfikiran bahwa umurnya tidak panjang lagi. Lina tidak menyianyiakan waktu lagi langsung mengajak Aji makan malam, Aji kaget karena tidak biasannya Lina mengajak Aji, tapi Aji berfikiran positif saja.

Aji yang setelah mendengar ajakan itu langsung bergegas bersiap – siap. Aji melihat ke langit awan menghilang, bulan disertai gemerlip bintang muncul disertai angina sepoi – sepoi. Lina mengatakan kata – kata terakhirnya, dia meminta Aji untuk tidak mencemaskannya lagi dan berjanji mencari penggantinya kelak jika dia mati. Aji kaget sekali dan bertanya – Tanya kenapa Lina berbicara seperti itu??… Lina hanya menjawab “ aku menyayangimu”, setelah itu Lina tergeletak kaku di samping Aji. Tangisan Aji tak dapat di hentikan lagi setelah ia merasakan denyut nadi Lina berhenti. Keesokan harinya Lina di makamkab, satu malam Aji menunggu makam Lina dengan tangisnya, tapi akhirnya Aji pulang dengan kesedihan.

Malam hari ini Aji ingin ke danau untuk berbicara dengan Lina, hingga dikata orang Aji sudah gila. Sesampainya di danau Aji merasakan langit seakan murung, deburan ombak berhenti dan angina pun tak berhembus seakan tak lengkap jika ada Aji tak ada Lina, Aji duduk di pinggir danau tempat ia biasa duduk bersama Lina, dia merasakan malam yang sunyi, tak ada yang menemaninya, dia terus berbicara sendiri sambil mengingat kata – kata Lina untuk mencari penggantinya. Sudah tengah malam Aji memikirkan kata – kata itu, setelah itu ia pulang.

Aji berniat malam ini aku akan pergi ke danau untuk berbicara pada Lina, olok warga pun selalu terlontar ke arahnya, tapi ia tidak peduli, ia hanya butuh bertemu dengan Lina. Malam pun datang Aji duduk di tempat biasa dan berteriak bahwa Lina yang hanya ia cintai, tak kan pernah hilang bayangan Lina untuk selamanya. Aji berfikir haruskah ia mati untuk bertemu dengan Lina , malam semakin sunyi bahkan suara jangkrik tak terdengar, tepat tengah malam Aji pikirannya sudah tak karuan lagi, ingin mati tapi kasihan orang tuanya, tapi jika hidup selalu tersiksa, akhirnya di pagi hari Aji di temukan telah menyusul Lina.

By : Wildan Taufiq Arganata

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini